Mohon tunggu...
Ivana Deva
Ivana Deva Mohon Tunggu... undergraduate literature student

Mengkhususkan penulisan konten di bidang humaniora dan (mungkin) sedikit tips investasi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Wayang Golek: Antara Pertunjukan dengan Alur Naskah Aslinya

19 Mei 2021   11:32 Diperbarui: 19 Mei 2021   14:16 284 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Wayang Golek: Antara Pertunjukan dengan Alur Naskah Aslinya
Yui Sumber: YouTube/BIMA APro

Jika berbicara tentang kesenian asal Sunda, kerap kali nama Wayang Golek yang tebersit di benak kita. Wayang Golek adalah salah satu seni pertunjukan rakyat yang di dalamnya melibatkan penonton dan Ki Dalang yang berperan membawakan cerita serta memeragakan wayang agar terlihat hidup. Sama seperti pertunjukan Wayang Kulit, cerita Wayang Golek juga disadur dari wiracarita Mahabarata dan Ramayana. 

Meskipun kedua epos hindustan ini juga dapat dinikmati dalam bentuk teks, tetapi pengalaman yang dirasakan saat menikmati kisahnya lewat medium wayang dengan pengalaman saat menikmati ceritanya melalui bacaan sudah tentu amat berbeda.

Mungkin agak mengherankan bahwa pengalaman menikmati epos Mahabarata lewat wayang dan menikmatinya lewat bacaan dapat menimbulkan perasaan yang jauh berbeda, padahal alur cerita yang dibawakan sebetulnya ya sama saja. Salah satu penyebabnya adalah peran Ki Dalang dalam mementaskan Wayang Golek. Saat membaca teks Ramayana atau Mahabarata, adegan-adegan heroik hanya dapat kita bayangkan di dalam kepala. Sedangkan, cerita Ramayana dan Mahabarata yang dibawakan oleh Ki Dalang lewat Wayang Golek memanfaatkan citra pendengaran dan penglihatan para penonton saat menikmati pertunjukan.

Kendati hanya seorang diri, Ki Dalang memiliki keahlian antawacana dan tetekon sabet. Keahlian antawacana adalah kemampuan seorang dalang dalam membeda-bedakan warna suara dan intonasi bicara setiap karakter wayang. Sedangkan, tetekon sabet merupakan keahlian seorang dalang dalam menggerak-gerakkan boneka wayang yang membuatnya terlihat seolah hidup dan bergerak, bahkan terlihat nyata saat melakukan kegiatan detail seperti bernapas. Sabet terbagi menjadi tiga, yakni sabet basajan yang meliputi kegiatan seperti melirik, menatap, dan bernapas, sabet perangan yang meliputi gerakan berkelahi, serta sabet ibingan yang berupa gerakan menari. Keahlian antawacana dan tetekon sabet ini membuat nyata hal-hal yang hanya mampu kita bayangkan saat membaca naskah.

Selain antawacana dan tetekon sabet, keahlian Ki Dalang lainnya yang membuat suguhan pertunjukan Wayang Golek terasa berbeda dengan naskah tertulis terletak pada keahlian bobodoran Ki Dalang. Bobodoran dalam bahasa Sunda lebih-kurang berarti adegan-adegan humor atau komedi. 

Seperti yang kita ketahui, pertunjukkan yang melibatkan keahlian berbahasa lisan seperti wayang, tidak akan lepas dari spontanitas. Bobodoran pun sejatinya  merupakan interpretasi dari spontanitas pertunjukan Wayang Golek itu sendiri. Apalagi— dengan mengikuti perkembangan zaman— candaan-candaan yang dibuat oleh Ki Dalang (sebut saja maestro perwayangan Asep Sunandar Sunarya) mulai berani menyerempet ke hal-hal sentimentil, sesuatu yang tidak akan dapat dilakukan di masa lalu. 

Inovasi dan spontanitas banyolan ini tentu tak dapat ditemukan dalam naskah epos Ramayana dan Mahabarata. Inovasi lainnya yang diciptakan oleh Abah Asep dalam pertunjukan Wayang Golek adalah pembuatan boneka wayang yang ditransformasi lebih mirip manusia, bahkan boneka buatan Abah Asep dan kakaknya Ade Kosasih Sunarya ini mampu melakukan gerakan merokok dan muntah mie.

Tidak dapat dipungkiri bahwa naskah asli yang menjadi pokok cerita memang tidak kalah penting dengan pertunjukan wayangnya. Akan tetapi, sangat disayangkan jika kita tidak pernah menjajal pertunjukan Wayang Golek dengan alasan telah membaca naskah aslinya sebab menikmati epos Mahabarata melalui pertunjukan Wayang Golek tentu memberikan pengalamaan yang amat berbeda dengan menikmati epos Mahabarata lewat teks.

VIDEO PILIHAN