Mohon tunggu...
Isson Khairul
Isson Khairul Mohon Tunggu... research | media monitoring | content writing | public relation | corporate communication

Kanal #Reportase #Feature #Opini saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul dan https://wm.ucweb.com/dashboard/article Kanal #Fiksi #Puisi #Cerpen saya: http://www.kompasiana.com/issonkhairul-fiction Profil Profesional saya: https://id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1 Social Media saya: https://www.facebook.com/issonkhairul dan https://plus.google.com/+issonkhairul/posts serta https://twitter.com/issonisson Silakan kontak saya di: dailyquest.data@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Catatan untuk Kompasianer Thamrin Sonata

4 September 2019   02:16 Diperbarui: 4 September 2019   03:19 0 13 1 Mohon Tunggu...
Catatan untuk Kompasianer Thamrin Sonata
Isson Khairul (kiri) dan Thamrin Sonata (kanan). Ini menjadi pertemuan saya yang terakhir dengan Thamrin Sonata, di sebuah kedai kopi di Bogor, Jawa Barat, pada Sabtu (31/08/2019). Bersahabat puluhan tahun sejak tahun 80-an, kemudian mengelola Komunitas Kutu Buku di Kompasiana, membuat hubungan kami sedemikian erat. Saya sangat kehilangan. Foto: isson khairul

Pengantar. Kompasianer Thamrin Sonata meninggal dunia pada Selasa (03/09/2019) sekitar pukul 11.00 WIB. Ia lahir di Pemalang, Jawa Tengah, pada 28-12-1958. Ia disemayamkan di kediamannya di Perumahan TNI Angkatan Udara Angkasa Puri, Kelurahan Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat. Selasa itu juga, ia dimakamkan di sebuah pemakaman di Bekasi. Ini catatan saya sebagai Kompasianer, sebagai seorang sahabat.

---- 

Ini hari yang pedih. Kau pergi dan saya menjadi orang yang kehilangan. Barangkali ini adalah hari pilihan-Nya, sebagai tapal batas antara kita. Sedih, itu pasti. Dari tahun 80-an kita berkarib, menjelajah bumi dengan kata-kata, tentulah bertebaran jejak dalam jiwa kita. Jejak hidup yang tak kan saya lupa.

Freelancer Sepanjang Hidup 

Tiga hari yang lalu, pada Sabtu (31/08/2019), kita bertemu di Stasiun Bogor. Senja baru saja turun dan cahaya lampu menerpa kaus merah yang kau kenakan. Bukan t-shirt, tapi kaus polo berkerah. Itu memang kaus favoritmu. Berkali-kali kita bertemu, berkali-kali pula kau kenakan kaus itu. Sampai kau pergi hari ini, saya tak tahu, kenapa demikian adanya.

Sebaliknya, saya pada Sabtu itu mengenakan kaus putih, t-shirt putih. Itu warna favorit saya, yang di berkali-kali pertemuan kita, berkali-kali pula saya kenakan t-shirt putih itu. Hari ini, setelah melepas kepergianmu, saya melihat kembali foto-foto kita tahun 80-an. Ternyata, kombinasi merah dan putih di antara kita, sudah terekam sejak lama, sejak tahun 80-an.

Ternyata, kita tidak berubah. Setidaknya, dalam hal pilihan warna. Meski tahun telah berganti tahun, meski era media cetak telah beralih menjadi era media digital. Kau merah dan saya putih, seperti kombinasi warna bendera negeri ini. Perbedaan warna favorit itu, sekaligus juga menjadi pembeda pilihan kita.

Kau memilih untuk menjadi freelancer, sepanjang hidupmu. Kau menulis cerita anak-anak di Majalah Kawanku, tapi tak ingin menjadi karyawan di sana. Kau menulis cerita remaja di Majalah HAI, tapi juga tak hendak masuk secara organik di majalah itu. Bagi saya, itu pilihan yang sangat mengagetkan. Karena, sangat banyak orang yang ingin menjadi karyawan tetap, tapi kau telah menetapkan pilihan menjadi freelancer, sepanjang hidupmu.

Saya bahkan bekerja sebagai karyawan tetap selama 12 tahun di Majalah GADIS. Dan, kau juga menulis cerita remaja di Majalah GADIS, tanpa ada hasrat untuk bekerja di majalah itu. "Saya ingin merdeka dalam berkarya," begitu gumammu suatu kali. "Saya ingin menulis di banyak media, tanpa harus bekerja di media yang bersangkutan," lanjutmu kemudian.

Sikap menulis yang demikian, kau tegaskan kembali pada pertemuan kita di Sabtu (31/08/2019) itu. Sungguh, saya sangat terkesan dengan sikapmu dalam menulis. Sikap yang tak lekang oleh waktu. Bagi saya, itu menjadi penanda, betapa tinggi kepercayaan dirimu. Hidup militan sebagai freelancer, sungguh pertarungan yang tak mudah.

Ini cover buku Belajarlah Indonesia, yang sedang kami kerjakan di Komunitas Kutu Buku Kompasiana. Ada 40 Kompasianer yang menulis di buku tersebut, yang menuliskan tentang berbagai potensi bangsa, yang patut kita cermati bersama. Ke-40 Kompasianer itu menunjukkan, bahwa banyak hal hebat yang sudah dilakukan oleh anak bangsa selama ini. Itu bisa menjadi inspirasi untuk generasi kini dan generasi mendatang, demi meraih kemajuan bangsa. Foto: isson khairul
Ini cover buku Belajarlah Indonesia, yang sedang kami kerjakan di Komunitas Kutu Buku Kompasiana. Ada 40 Kompasianer yang menulis di buku tersebut, yang menuliskan tentang berbagai potensi bangsa, yang patut kita cermati bersama. Ke-40 Kompasianer itu menunjukkan, bahwa banyak hal hebat yang sudah dilakukan oleh anak bangsa selama ini. Itu bisa menjadi inspirasi untuk generasi kini dan generasi mendatang, demi meraih kemajuan bangsa. Foto: isson khairul
Malam di Antara Daun

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3