Mohon tunggu...
Isnaeni
Isnaeni Mohon Tunggu... Guru - Belajar dengan menulis.

Belajar sepanjang hayat

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Mengembangkan Potensi Anak Berkebutuhan Khusus

30 Juli 2022   09:55 Diperbarui: 30 Juli 2022   09:58 151 6 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Dalam kehidupan sehari-hari anak berkebutuhan khusus ada di sekitar kita. Beberapa kriteria anak berkebutuhan khusus hadir di sekeliling kita dengan penanganan yang tidak tepat oleh masyarakat pada umumnya dan orang tua pada khususnya. Pada akhirnya anak ditanggapi atau diperlakukan dengan tidak ramah dan semakin merusak, bukannya semakin membaik.

Salah satu anak yang berkebutuhan khusus adalah keponakan saya sendiri. Keponakan saya tersebut yang mengalami kekurang sempurnaan dalam berbicara dan kelambatan dalam belajar. Kelambatannya berbicara membuat keponakan saya sering diejek dan di tertawakan oleh orang sekitarnya (termasuk keluarga sendiri).

 Kondisi ini menyebabkan sang anak marah dan menyerang anak-anak yang lainnya karena membela diri sendiri. Sedangkan lingkungannya tidak mempunyai kesadaran untuk memahami kekurangan keponakan saya tersebut. Mereka cenderung mencemooh dan tidak menerima kekurangan anak berkebutuhan khusus.  

Kelambatan berbicaranya dan kelambatan dalam belajar ini membuat ia agak dijauhi oleh teman-teman sebayanya. Demikian pula hubungan dengan teman-teman di sekolahnya. Karena kondisi tidak sama dengan yang lainlah yang membuat ia kesulitan berinteraksi dengan yang lain dan dianggap tidak normal.

Kondisi ini diperparah oleh kurangnya bimbingan dan pendampingan orang tua. Orang tua yang sibuk bekerja membuat anak harus membela diri dari serangan perkataan yang meremehkannya. Anak bukannya diberi pemahaman diri untuk percaya diri dan menerima kekurangannya, tapi diberi penilaian dan hasil belajar harus sama dengan anak yang normal. 

Mendampingi anak berkebutuhan khusus selayaknya disertai pemahaman bahwa anak tersebut berbeda dengan yang lain dan juga disertai keyakinan bahwa anak tersebut mempunyai kelebihan dari yang lain. Kelebihan inilah yang kurang dikembangkan oleh orang tua sebagai sekolah pertama bagi anak. Pendidikan anak di rumah merupakan modal bagi kemudahan dan kebahagiaan orang tua dikemudian hari, termasuk pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.

Kekurangan pada anak berkebutuhan khusus ini sering ditanggulangi orang tua dengan hal-hal yang tidak/kurang  relevan dengan kebutuhan anak itu sendiri. Seperti mengerik lidah dengan cincin emas agar anak bisa berbicara dengan baik, bukannya melatih anak agar bisa mengucapkan lafal hurup dengan benar. Tindakan demikian mengaburkan permasalahan anak yang sebenarnya.

Permasalahan utama anak berkebutuhan khusus adalah kemandirian anak untuk melakukan sesuatu terutama untuk menolong dirinya sendiri. Kemampuan ini akan membuat anak percaya diri dan tidak membebani orang lain. Misalnya kemampuan anak untuk mengurus diri sendiri seperti mandi sendiri, menyiapkan makan sendiri. Bahkan diharapkan bisa membantu pekerjaan orang lain.

Bagi orang tua yang anak berkebutuhan khusus yang mempunyai keterampilan, mereka bisa menularkan keterampilannya kepada anak mereka di rumah sehingga anak bisa mandiri. Biasanya anak-anak demikian mempunyai kelebihan dalam bidang keterampilan.

Saya tertarik mengamati anak laki-laki yang berkebutuhan khusus tapi ia bekerja di sebuah peternakan sapi. Kepercayaan dirinya bekerja membuat saya kagum, karena banyak yang fisiknya sehat namun kerjanya hanya malas-malasan saja bahkan tidak percaya diri. Sebagai guru, kondisi ini sering saya gambarkan kepada siswa-siswa saya yang kondisi fisik normal namun tidak percaya diri agar mempunyai kepercayaan diri. 

Sebagai perbandingan, saya mempunyai murid yang dari fisik bisa membuat orang menghinanya dengan bebas. Tapi ia bisa sekolah dan sekarang menjadi dosen, bahkan ia menikah seperti yang lainnya. Hal itu membuktikan bahwa kekurangan fisik pada seseorang tidak lantas menghapus harapan anak untuk berkembang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan