Mohon tunggu...
Irwan Rinaldi Sikumbang
Irwan Rinaldi Sikumbang Mohon Tunggu... Freelancer

menulis untuk menikmati kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kenapa Saya Lebih Suka Memakai Kata Panggilan "Mas" dan "Mbak"?

11 Juli 2020   00:07 Diperbarui: 11 Juli 2020   00:05 418 63 16 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenapa Saya Lebih Suka Memakai Kata Panggilan "Mas" dan "Mbak"?
dok. magdalene.co

Adalah tulisan Johanes Krisnomo yang menginspirasi saya menulis tulisan ini. Judulnya "Panggil Mas Boleh Saja Asalkan Nyaman (Kompasiana, 28/6/2020). Ini soal sapa menyapa antar kompasianer, julukan bagi para penulis di Kompasiana.

Bukan apa-apa, saya termasuk yang cukup sering menyematkan panggilan mas bagi laki-laki dan mbak untuk perempuan, kepada hampir semua kompasianer, tanpa memandang apakah ia bersuku Jawa atau tidak. Agar tidak menimbulkan salah persepsi, terutama bagi yang tidak nyaman saya sapa dengan panggilan demikian, inilah kesempatan baik bagi saya untuk menjelaskan alasannya.

Saya yang dari lahir hingga menamatkan perguruan tinggal tinggal di Sumbar, tiba-tiba diseret nasib untuk menjadi warga ibu kota sejak pertengahan tahun 1986. Ketika itu saya diterima bekerja di sebuah BUMN dan ditempatkan di kantor pusatnya di Jakarta.

Baru beberapa hari saya bergabung di Divisi Akuntansi, tiba-tiba kepala divisi saya yang namanya Pak Adiwasito, memanggil saya dengan sebutan "Mas Irwan". Saya kaget dan awalnya saya merasa itu tidak tepat. Saya terlanjur punya pemahaman bahwa "mas" itu panggilan untuk kakak laki-laki, dan "mbak" untuk kakak perempuan, sama halnya dengan "uda" dan "uni" di kampung halaman saya. 

Lho, kalau kepala divisi yang usianya ketika itu dua kali usia saya, memanggil saya sebagai kakak, itu artinya saya dianggap "bermutu" alias bermuka tua. Orang Padang bisa tersinggung kalau ada orang yang lebih tua memanggilnya dengan uda.

Namun akhirnya dari perbincangan saya dengan beberapa orang teman bersuku Jawa, saya dapat memahami tindakan sang kepala divisi. Mas memang bisa berarti sebagai panggilan buat kakak laki-laki, namun lazim pula disematkan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda dengan tujuan untuk menghargai. Artinya, kepala divisi saya malah menghargai saya yang masih anak kemarin sore di kantor itu.

Saya juga banyak bergaul dengan berbagai kalangan, tidak sebatas teman kantor saja, dan mendapatkan bahwa panggilan mas dan mbak sudah menjadi kelaziman di Jakarta. Meskipun penduduk asli Jakarta bersuku Betawi, namun faktanya penduduk ibu kota ini mayoritas orang Jawa, atau berdarah Jawa.

Karena cara orang Jakarta juga ditiru oleh orang daerah, maka tidak heran bila mas dan mbak menurut pandangan saya jadi menasional. Maksudnya sangat lazim terdengar di mana saja, bila ada beberapa orang yang berbeda suku saling berkomunikasi. Namun bila mereka bersuku sama, seperti saya bertemu orang Minang, tentu saya bercakap-cakap dalam bahasa Minang, dan tidak pakai mas atau mbak.

Tapi kalau saya berkenalan dengan laki-laki Minang yang saya taksir usianya lebih muda dari saya, dan saya belum tahu nama kecilnya, saya jadi kelabakan. Kalau saya panggil pakai uda, sangat mungkin ia tersinggung. Nah di sinilah menurut saya keunggulan "mas" yang fleksibel kertimbang "uda" yang kaku.

Jadi, akhirnya menjadi kebiasaan saya untuk menggunakan mas dan mbak, bahkan tanpa saya sadari juga saya tujukan kepada orang Minang di perantauan yang baru saya kenal. Kebiasaan inilah yang terbawa-bawa dalam aktivitas saya di Kompasiana.

Masalahnya, dalam kesopanan berinteraksi, budaya ketimuran kita kurang kondusif untuk langsung saling memanggil nama seperti yang lazim dalam budaya barat. Di sinilah pentingnya sebutan pak, bu, abang, bung, termasuk mas dan mbak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN