Mohon tunggu...
Kris Fallo
Kris Fallo Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku Jalan Pulang, Penerbit Gerbang Media, 2020

Menulis itu pekerjaan keabadian. Pramoedya Ananta Toer berkata:  'Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.' Lewat tulisan kita meninggalkan kisah dan cerita yang tak akan sirna.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Panggilan, Antara yang Ideal dan yang Real (Renungan Minggu, 25 April 2021)

24 April 2021   20:08 Diperbarui: 24 April 2021   20:12 1737
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
foto.dok.pribadi/ Misa Tahbisan Imam Baru di Katedral Atambua (sebelum pandemi)

Hari ini kita merayakan Hari Minggu Panggilan Sedunia. Ada dua point penting  yang harus kita ketahui yakni:

1. Panggilan Allah. Panggilan itu datang dari Allah. Tuhanlah yang berinisiatif memanggil para pekerjaNya untuk bekerja di kebun anggur Tuhan.

2. Jawaban manusia. Tuhan telah memanggil kita tetapi panggilan itu butuh tanggapan dari manusia. Ajakan Yesus kepada para murid-Nya; "Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu."

Dari dua hal di atas menjadi jelas bagi kita bahwa panggilan itu hanya bisa bertumbuh dengan baik, jika ada kerja sama dari pihak Allah dan dari pihak manusia. 

Benar bahwa Tuhan sendiri yang memanggil, mengintervensi atau bahkan menginterupsi orang yang dipanggilNya, tetapi benar juga bahwa tanggapan dan keterbukaan hati dari pihak manusia itu penting untuk menjawapi  dan menanggapi panggilan Tuhan

Pada hari Minggu panggilan sedunia hari ini; bagi saya, Injil berbicara soal panggilan menjadi seorang penggembala domba. Kata kunci injil hari ini adalah menjadi Gembala yang baik.

Mari kita meneropong bersama; Gembala domba antara yang ideal yang dikehendaki Yesus dan yang riil; kenyataan yang terjadi. Idealnya seorang gembala domba menurut kisah injil hari ini adalah;

Gembala yang baik harus memberikan nyawanya bagi domba-dombanya. Gembala yang baik itu tidak lari meninggalkan domba--dombanya. Gembala yang baik itu mengenal domba--dombanya. Gembala yang baik itu harus menuntun kawanan domba agar menjadi satu kawanan dan bukan menceraikan

foto.dok.pribadi/Misa Bersama Uskup Atambua Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr di aula Emaus Atambua
foto.dok.pribadi/Misa Bersama Uskup Atambua Mgr. Dr. Dominikus Saku, Pr di aula Emaus Atambua
Sementara yang riil, atau kenyataan yang sering kita temukan adalah;

Seringkali seorang gembala domba tidak sungguh memberikan dirinya bagi domba-dombanya. Sering seorang gembala domba membiarkan kawanan domba tersesat. Sering juga seorang gembala domba tidak mengenal domba-domanya secara menyeluruh, pilih kasih dalam mengenal. 

Sering seorang gembala domba lebih banyak menceraikan ketimbang menyatuhkan.
Kita semua terpanggil untuk menjadi gembala domba, entah itu secara khusus ataupun secara umum, baik seorang tertabis, ataupun seorang terbaptis, entah menjadi seorang imam ataupun menjadi seorang awam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun