Mohon tunggu...
IrfanPras
IrfanPras Mohon Tunggu... Narablog

Dilarang memuat ulang artikel untuk komersial. Memuat ulang artikel untuk kebutuhan Fair Use diperbolehkan, sila hubungi penulis melalui surel: cupliswala@gmail.com website: https://prasetyoirfan.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Mengenal Tsundoku dan Bibliomania, Hobi Koleksi Buku tapi Tidak Pernah Dibaca

21 Juni 2020   07:44 Diperbarui: 22 Juni 2020   01:02 1286 21 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengenal Tsundoku dan Bibliomania, Hobi Koleksi Buku tapi Tidak Pernah Dibaca
Pengunjung menggunakan troli untuk membawa buku-buku saat bazar buku Big Bad Wolf (BBW) di Indonesia Convention dan Exhibition (ICE) BSD, Tangerang (12/3/2020). Bazar BBW Jakarta 2020 menawarkan diskon dari 60 persen hingga 80 persen harga retail untuk buku-buku internasional serta diselenggarakan pada tanggal 6 sampai 16 Maret 2020.(KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG)

Apakah Anda suka membaca buku hingga mengoleksi buku? Jika iya, berarti kita sama. Saya juga punya hobi mengoleksi dan membaca buku, buku fisik ya, bukan digital.

Kebetulan saya adalah tipe pembaca buku yang harus benar-benar punya buku fisiknya terlebih dahulu untuk bisa benar-benar memahami isi buku tersebut. Oleh karenanya, saya akhirnya punya banyak buku yang menumpuk di rak. Hingga saya sadari bahwa apakah saya kecanduan atau berlebihan dalam mengoleksi buku?

Karena kepo, sayapun memutuskan berselancar di internet untuk mengetahui lebih lanjut perihal perilaku mengoleksi buku. Takutnya, apa yang saya lakukan dengan membeli buku fisik dan mengoleksinya di rak buku pribadi adalah suatu bentuk kesia-siaan bahkan suatu bentuk penyakit.

Ke-kepo-an tersebut akhirnya mengantarkan saya pada dua istilah yang menggambarkan sebuah kecintaan, kesukaan, atau obsesi khusus terhadap buku. Obsesi ini bisa membuat seseorang menjadi seorang kolektor/pengoleksi buku atau bahkan pecandu buku.

Istilah pertama adalah tsundoku yang saya temukan di artikel openculture dan bbc. Istilah Jepang ini pertama kali muncul pada era Meiji (1868-1912) untuk menggambarkan seseorang yang punya banyak buku namun tidak dibaca atau dibiarkan menumpuk. Istilah ini terdiri dari dua kata, tsunde-oku dan doku atau dokusho.

Tsunde-oku memiliki arti "membiarkan sesuatu menumpuk". Sementara dokusho memiliki arti "membaca buku". Sehingga bila digabung dua kata tersebut menjadi tsundoku yang artinya membeli suatu bacaan dan membiarkannya menumpuk. Bisa dikatakan bahwa seorang pengidap tsundoku merupakan penimbun buku. 

Istilah kedua adalah bibliomania. Beradasarkan sumber artikel yang saya baca di bbc, istilah ini ditemukan di Inggris pada abad ke-19. Istilah bibliomania muncul dari judul novel karya Thomas Frognall Dibdin: Bibliomania; or Book Madness.

Menurut definisinya, penderita atau pengidap bibliomania sangat terobsesi atau tergila-gila dengan buku dan tidak mampu berhenti mengumpulkan buku hingga koleksi bukunya menumpuk. Bahkan kebanyakan bukunya tidak dibaca. 

Seorang pengidap bibliomania ini bahkan ada yang sangat terobsesi untuk mengumpulkan buku-buku edisi khusus, seperti buku edisi pertama hingga buku dengan kondisi fisik tertentu.

Ilustrasi koleksi buku (Photo by John Weinhardt on Unsplash)
Ilustrasi koleksi buku (Photo by John Weinhardt on Unsplash)
Sepintas, pengertian tsundoku dan bibliomania cukup mirip, namun sejatinya keduanya beda makna. Seorang pengidap tsundoku dikatakan masih memiliki niat untuk membaca walau akhirnya tidak berhasil, dan secara tidak disengaja mengoleksi buku.

Contoh pengidap tsundoku paling terkenal adalah Rachel Kramer Bussel, seorang penulis dan kritikus buku asal US. Ia mengatasi tsundoku-nya dengan mendonasikan sebagian besar buku koleksinya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN