Mohon tunggu...
Sri Ken
Sri Ken Mohon Tunggu... Asisten Rumah Tangga - Swasta

Suka masak sambal

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jangan Sampai Bencana Jadi Ajang Pemecah Bangsa

2 Desember 2022   22:49 Diperbarui: 2 Desember 2022   22:59 72
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 

Saat bencana gempa Cianjur terjadi kita diberi suguhan aksi intoleransi oleh sekelompok Organisasi massa yang meminta masyarakat menyobek label gereja pada tenda bantuan yang mereka terima. Mereka mengatakan bahwa haram untuk menerima bantuan dari Nonis (non-islam) untuk warga yang sebagian memang beragama islam.

Ini tentu satu hal yang menyedihkan kita semua. Terlebih lagi terjadi pada korban gempa yang jelas tidak berdaya. Bantuan adalah salah satu hal yang jelas akan meringankan beban mereka. Dan para donatur -siapapun itu- sah saja memberi label atas 

Meski aparat dalam hal ini Kapolres mengatakan bahwa ini bukan aksi intoleransi, kita semua mafhum bahwa sikap ini jelas merupakan sikap yang mengarah pada penolakan pada pihak yang berbeda. Intoleransi sendiri adalah sikap abai atau ketidakpedulian terhadap eksistensi orang lain termasuk yang berbeda pandangan/ keyakinan dll.

Praktik intoleransi dan kampanye khilafah yang menunggangi peristiwa bencana menyiratkan setidaknya dua hal. Pertama, matinya nurani (termasuk juga solidaritas) dan empati terhadap para korban bencana alam. Mengeksploitasi korban bencana alam untuk mengampanyekan ideologi intoleran-radikal merupakan tindakan amoral. Kedua, intoleransi dan kampanye khilafah di lokasi bencana akan mempersulit penanganan bencana.

Penanganan bencana adalah sesuatu yang bersifat kemanusiaan sehingga memang bebas bagi semua pihak atau kelompok yang akan membantu. Bahkan negara yang berbedapun bisa membantu. Mungkin kita ingat tsunami yang menghempaskan Aceh dua decade lalu, Banyak negara yang membantu Indonesia dengan misi kemanusiaan.

Bagi negara Indonesia sendiri, wajib baginya untuk memberi rasa aman dan nyaman bagi warganya sehingga penanganan bencana yang baik dan professional memang layak dilakukan untuk penanganan gempa.

Hanya saja perlakukan diskriminatif dan intimidatif yang diterima relawan di lokasi bencana oleh ormas radikal memang bisa menjadi preseden buruk dalam penanganan bencana. Gubernu jawa Barat, Ridwan Kamil sendiri mengecam ormas yang melakukan tindakan intoleran, diskriminatif dan intimidatif di lokasi bencana.

Kita justru harus memabngun kesadaran bahwa aksi empatif dengan misi kemanusiaan itu melampaui sekat-sekat identitas agama, suku ras bahkan bangsa. Bagaimana jadinya tsunami Aceh yang begitu dahsyat hanya ditanggulangi oleh waga sekitar dan pemerintah Indonesia dan menutup diri dari bantuan bangsa asing atas nama perbedaan agama, budaya dan bangsa ?

Aksi empatif dan misi kemanusiaan harus disikapi dengan baik dan layak demi kebaikan para korban bencana. Sangat tidak layak jika bencana akhirnya membawa perpecahan apalagi kampanye ideologi yang bertentangan dengan falsafah bangsa.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun