Mohon tunggu...
Indrian Safka Fauzi
Indrian Safka Fauzi Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Pemuda asal Cimahi, Jawa Barat kelahiran 1 Mei 1994. Praktisi Kesadaran Berketuhanan, Kritikus Fenomena Publik dan Pelayanan Publik. Sang pembelajar dan pemerhati abadi. The Next Leader of Generation.

🌏 Akun Pertama 🌏 My Knowledge is Yours 🌏 The Power of Word can change The World, The Highest Power of Yours is changing Your Character to be The Magnificient. 🌏 Sekarang aktif menulis di Akun Kedua, Link: kompasiana.com/rian94168 🌏

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Mengapa Berbohong Dilarang Agama?

25 September 2022   11:00 Diperbarui: 25 September 2022   16:04 139 17 4
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Meratapi nasib (Sumber: Freepik)

Selamat pagi Sahabat Setia Kompasianer dan Readers Terhormat!

Mengapa berbohong dilarang agama? Karena sejatinya apapun yang dilarang oleh agama itu dapat menghancurkan karakter orang-orang yang melanggar larangan tersebut.

Terkisah, ada seorang pemuda bertemu dengan pedagang. Ini adalah kesan pertama ia hendak membeli sebuah makanan dari pedagang yang baru ditemuinya di lokasi yang selalu ia lewati. Ia hendak menanyakan kualitas barang yang dijual pedagang. Namun sayang sang pedagang berbohong bahwa barang dagangannya awet dan tahan lama, walau tidak di taruh dikulkas sekalipun. Lalu sang pemuda menanyakan harga. Setelah itu terjadilah proses jual beli.

Setelah sampai diperjalanan sang pemuda menyimpan makanan yang dibelinya. Ia kemudian menyimpan makanan tersebut diatas meja, karena yakin dan percaya ucapan si pedagang.

Naas, setelah ditinggal selama beberapa hari. Makanan itu menjadi berubah rasa. Sang pemuda yang menyantapnya, menjadi mual dan muntah. Akibat peristiwa tidak mengenakan ini, maka ia berjanji agar tidak membeli dari pedagang yang sudah dianggap menipu, dan mengajak tetangganya untuk tidak membeli dagangan sang pedagang tersebut.

Berita tentang kebohongan sang pedagang menyeruak. Alhasil, sang pedagang kini mengeluhkan nasibnya. Mengapa tak ada satupun yang mau membeli barang dagangannya. Ia tidak menyadari bahwa ia telah berbohong pada seorang yang cukup berpengaruh di kediaman masyarakat tersebut.

Nasib malang menimpa sang pedagang akibat perkataan dusta yang malah menghancurkan nasib bisnisnya.

Pelajaran yang dipetik dari kisah tersebut:

Berikan kesan pertama yang baik kepada seorang yang baru mengenal kita.Β Karena saat itu informasi tentang kita sedang diresap oleh orang yang baru mengenal kita. Disanalah hadir referensi-referensi yang tersimpan dalam memori seorang yang kita kenal. Kalau bagus, beliau tak kapok untuk bertemu lagi dengan kita, begitu pula sebaliknya.

Berbohong,Β artinya tidak mengucapkan atau menulis yang sesungguhnya dan menukar dengan kepalsuan. Dampak atas perilaku ini sistem belief seorang menyatakan dirinya merasa dirugikan atas kepalsuan yang diberikan oleh seorang pembohong. Akibatnya, orang yang merasa dibohongi, terus menerus mengulang perasaan menyakitkan yang menimpa dirinya. Dan ini akan berakibat buruk pada pertemuan berikutnya dengan sang pembohong. Stigma negatif pembohong atau penipu melekat pada diri yang berbohong di mata para korbannya. Dan untuk memulihkan rasa percaya dari kebohongan yang diperbuatnya, butuh perjuangan yang meyakinkan sang korban.

Berbohong ada berbagai jenis:

  • Membohongi diri sendiri,Β seperti membohongi perasaan dirinya dan berbohong tentang identitas dirinya yang sejati.

    • Contoh membohongi perasaan dirinya, ia sejatinya sedih karena merasa bersalah, tapi karena terpengaruh omongan orang untuk selalu berfikir positif (tapi dengan cara keliru), ia membantah rasa sedihnya tersebut dan berusaha menghilangkan perasaan bersalah, ia berusaha enjoy dalam perilaku salah yang menghantuinya, akibatnya ia tidak ada upaya untuk mencabut akar permasalahan pada dirinya yang hidup dalam kepura-puraan, pura-pura bahagia padahal ia sejatinya sedih karena salah. Maka solusinya adalah dengan mengkoreksi kesalahan yang diperbuat, dan berusaha menjadi pribadi yang sarat kebenaran yang dirasakan manfaatnya untuk diri dan orang banyak. Bukan membiarkan kesalahan itu tetap dilakukan. Karena membohongi diri sendiri hanya akan menimbulkan permasalahan baru, apalagi disebabkan oleh kesalahan kita, dan tidak mau memperbaikinya, sehingga melemahkan karakter kita.

    • Contoh berbohong tentang identitias dirinya yang sejati, ia sebenarnya bernama si Fulan, namun menuliskan identitas di berbagai media dengan nama yang tidak selaras dengan identitasnya, minimal nama akrabnya. Kebiasaan ini biasanya muncul pada diri seorang pemain games online, yang menjaga identitasnya untuk urusan privasi, namun blunder yang dilakukan, kelakuan seperti ini ia terapkan saat bermedia. Akibatnya, ini akan menimbulkan permasalahan, salah satu diantaranya orang-orang yang melihat identitas yang tertera pada media tempat dia berinteraksi, mulai skeptis tentang kejujurannya dan keberaniannya untuk mengungkap hal-hal yang sarat moralitas. Permasalahan yang ditimbulkan dari ketidakjujuran akan identitas diri yang sejati cukup complicated dan rumit. Karena saat dia mengklaim identitas dirinya pada sebuah media, saat dipublikasikan di hadapan publik, timbul permasalahan kepercayaan publik terhadap dirinya. Sedikitnya ada yang nyeletuk, "Pada dirinya saja tidak jujur, apalagi kepada kita?"

  • Membohongi sesama,Β sudah dijelaskan diatas dampaknya. Dampak paling terasa, nasib kita menjadi malang karena krisis kepercayaan menimpa diri kita.

  • Membohongi Tuhan, mengaku paling beragama, nyatanya abai perintah Tuhan dan selalu melanggar larangan-Nya. Akibatnya ia makin cinta dunia dan takut kematian. Dalam ajaran Islam fenomena cinta dunia dan takut mati disebut penyakit Wahn. Dan membahayakan seorang pada kehidupan akhirat. Hanya dirinya sendiri yang merasakan dampaknya di kemudian hari saat ia menemui Tuhannya.

Apakah ada baiknya kita berbohong? Atau berbohong demi kebaikan? Atau lebih baik kita jujur saja apa adanya untuk menanamkan benih-benih kepercayaan pada seorang yang kita kenal dan berani menghadapi konsekuensinya? Siapkah kita menghadapi nasib kita terima dan rasakan atas lisan, tulisan dan perbuatan kita?

Kita sering berteriak hidup ini tidak adil, padahal ketidakadilan itu sejatinya kita cipta dari lisan, tulisan dan perbuatan secara sadar baik tidak sadar kita lakukan.Β 

Dirimu berubah, maka dunia luarmu pun berubah.

Tertanda.
Rian.
Cimahi, 25 September 2022.

Indrian Safka Fauzi untuk Kompasiana.
For our spirit... Never Die!

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan