Mohon tunggu...
Inosensius I. Sigaze
Inosensius I. Sigaze Mohon Tunggu... Lainnya - Membaca dunia dan berbagi

Mempelajari ilmu Filsafat dan Teologi, Politik, Pendidikan dan Dialog Budaya-Antaragama di Jerman, Founder of Suara Keheningan.org, Seelsorge und Sterbebegleitung dan Mitglied des Karmeliterordens der Provinz Indonesien | Email: inokarmel2023@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Penulis Itu Bebas Gender dan Rahasia Kecil Kepuasan Batinnya

14 Desember 2021   14:59 Diperbarui: 14 Desember 2021   15:12 482
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Penulis bebas gender dan rahasia kepuasan batinnya | Dokumen diambil dari: m.brilio.net

"Menulis tentang tema yang sulit ternyata punya kepuasan batin yang lebih. Jadilah penulis bebas gender."

Sorotan tema Kompasiana kali ini benar-benar menantang. Bagaimana nggak? Tema yang sangat spesifik terkait kehidupan perempuan - "Seluk beluk menstruasi."

Pertama membaca tema itu, langsung tidak berdaya. Gimana nulisnya ya rasanya terlalu sedikit pengetahuan tentang dunia itu. Cuma ingat penjelasan ibu guru waktu SMP dulu.

Rasa hati juga penuh pergulatan karena berhadapan dengan pertanyaan bagaimana saya bisa nulis tema itu? Berangkat dari pertanyaan itu, saya sebenarnya berterima kasih kepada Kompasiana karena telah membuka kemungkinan menjernihkan perspektif tentang menjadi seorang penulis.

Seorang penulis itu harus bebas gender dong

Penulis bebas Gender dimengerti dalam arti bahwa seorang penulis bisa menulis tentang apa saja, entah itu tentang laki-laki, atau tentang perempuan. Bahkan di Eropa sudah diakui identitas ketiga yaitu divers.

Seorang penulis tidak terikat oleh apapun dan apapun adalah kenyataan yang bisa ditulis. Pikiran inilah yang memberanikan saya coba menulis tema sorotan Kompasiana kali ini.

Nah, dari pikiran itu, saya menjadi sadar bahwa menulis di Kompasiana akhirnya sudah sangat menolong membuka perspektif dan cara berpikir menjadi lebih realistis dan terbuka. 

Oleh karena itu, saya sangat kagum dengan beberapa penulis Kompasiana yang pria khususnya langsung dengan cepat menulis tema tentang "seluk beluk menstruasi" itu. Bagi saya itu teladan (Vorbild) tentang seorang penulis yang realistis dan berpikir jernih.

Kebebasan menulis bagi seorang penulis

Kebebasan seorang penulis untuk menulis semestinya tidak dibatasi oleh apapun, ya dia bisa menulis tentang apa saja. Karena itu, seorang penulis tidak seharusnya fokus pada bidang yang menjadi kesukaannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun