Mohon tunggu...
Indra Purnomo
Indra Purnomo Mohon Tunggu... Menanam cinta di setiap langkah

Meninggalkan dan ditinggalkan adalah hal yang menyakitkan. Namun jangan khawatir akan hal tersebut, kita dapat bertemu tanpa meminta.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Berdamai dengan Diri Sendiri

20 Juli 2019   23:38 Diperbarui: 20 Juli 2019   23:46 0 0 0 Mohon Tunggu...

Sebelum memohon izin orang tua untuk melanjutkan jenjang pendidikan di luar Jakarta saya pikir keadaan setelahnya akan berbeda. Seperti harus berada di rumah pukul 9 malam. Bukan berarti apa yang saya sebut keadaan itu menjadi tujuan utama demi menetap di kota pelajar namun saya perlu dan pantas untuk mempunyai harapan sekecil apapun.

Bulan April lalu sesaat perayaan wisuda kami berbahagia bersama. Akhirnya saya lulus dan dapat disaksikan oleh kedua orang tua. Saya mengerti kelulusan ini bukan akhir dari segalanya. Masih banyak beban dan tanggung jawab yang akan saya rasakan di kemudian hari. Akan tetapi saya beranggapan bahwa kemenangan sekecil apapun harus dirayakan, meskipun sekadar berkumpul.

Setelah mendapat gelar sarjana kami sepakat agar saya menetap di Jakarta untuk melanjutkan hidup di kemudian hari. Saya merasa kehilangan teman-teman serta Yogyakarta itu sendiri. Sepanjang perjalanan pulang menuju Jakarta, di dalam kereta saya merenung, membayangkan kebaikan-kebaikan mereka. Tegas meninggalkan Yogyakarta adalah salah satu keputusan beratku.

Sepanjang perjalanan saya juga memikirkan bagaimana caranya saya bisa menjalani kesibukan di luar rumah pada malam hari. Tiba-tiba saya teringat sambil mengerutkan alis atas sikap bapak. Selama saya tinggal di Yogyakarta dan berhubungan melalui sambungan telepon nada suaranya sangat lembut, perhatian sekali kepada anaknya. Ketika saya berada di rumah, ia seperti orang yang sangat berbeda. Belakangan ini bapak sering marah tanpa sebab. Dan ini menimbulkan masalah baru.

Saya kerap memberitahu bapak bahwa saat ini saya mempunyai kegiatan yang berbeda dengan anak berumur 12 tahun. Malam itu sekitar jam 10 malam saya putuskan untuk pulang ke rumah. Mengetuk dua kali pintu rumah dan dibalas dengan satu pukulan keras dari dalam rumah. Saya terkejut sambil memandang kosong pintu rumah. Belakangan saya mengetahui pukulan tersebut bapak yang melakukan atas dasar saya pulang larut malam. Saya mulai mengingat harapan kecil 5 tahun silam. Saya menangis di depan kakak dan menyampaikan "Aku merasa tertekan tinggal di rumah, selalu dimarahi saat pulang."

Saat saya menangis kakak bilang "Bukan anak saja yang sering berbuat salah, kedua orang tua pun pasti pernah berbuat salah." Seketika saya teringat lagu Secukupnya milik Hindia. Di awal video tersebut ada seorang perempuan bernama Valensia Harumi Edgina yang bercerita tentang alasan utama ia menekuni videografi lalu mengatakan "Di tahun kesepuluh bokap gue kanker ada satu insiden yang mengharuskan gue harus ngobrol sama dia. Disitu dia cerita, cerita dari sisi dia dan pada saat dia nangis gue baru sadar bahwa bokap gue pun manusia yang bisa buat salah."

Video tersebut disusun menggunakan stok rekaman kamera ayah dari Valensia pada tahun 2009-2019 dan cerita-cerita orang lainnya tentang keresahan yang dimilikinya. Seperti tercantum di keterangan video tujuan dari proyek ini ialah menyampaikan cerita-cerita kesedihan dan kegagalan juga sama pentingnya dengan cerita-cerita yang ada dibalik motivasi korporat atau institusi pendidikan. Dan yang paling penting ialah kita patut bersedih, secukupnya. Lirik musik berjudul Secukupnya ini menjadi sangat cocok untuk saya dan mungkin untuk orang-orang yang sedang merasa sedih dan gagal. Bukan untuk saat ini saja, namun untuk di masa depan.

Saya percaya setiap orang tua memiliki caranya masing-masing dalam mendidik anak. Sama halnya bapak saya, ia tidak ingin mengerti apa yang anaknya ucapkan dan ia tidak ingin tahu kondisi psikologi anaknya. Mungkin itu salah satu caranya. Banyak anak-anak yang memperoleh perlakuan baik dari orang tuanya. Banyak juga yang menjadikan rumah bukan hanya tempat tinggal namun lebih dari itu misal nostalgia atau fantasi. Mereka berhak dan layak mendapatkannya. Jika mempermasalahkan jam kepulangan di malam hari dianggap berlebihan dengan besar hati saya terima. Tidak masalah ada anggapan seperti itu. Namun saya butuh waktu lebih untuk menyelesaikan tanggung jawabku. Entah itu soal pekerjaan atau bertemu teman. Di kondisi seperti ini saya merasa tertekan.

Saya tidak tahu kapan harapan kecil itu dapat terwujud. Pulang ke rumah jam 10 malam saja dimarahi. Bahkan tak jarang ada orang yang harus menyelesaikan pekerjaan sampai pagi datang. Rasa-rasanya bapak mengetahui hal tersebut. Setidaknya saya dapat belajar dari bapak jika di masa yang akan datang saya tidak akan memakai caranya yang ia terapkan kepadaku.

Saya juga tidak tahu sampai kapan bapak harus bersikap demikian. Yang jelas saya mengetahui bahwa setiap orang tentu mempunyai waktu yang berbeda, perjuangan yang berbeda, kesulitan yang berbeda, kebahagiaan yang berbeda, sampai kesedihan yang berbeda. Semuanya berbeda, karena pada dasarnya kita tidak bisa menyamakan satu individu dengan individu lainnya. Hanya saja kita harus berdamai pada diri kita sendiri, dan seharusnya apa-apa saja yang ada di dunia ini tidak menuntut jawaban.