Mohon tunggu...
Indra J Piliang
Indra J Piliang Mohon Tunggu... Kolomnis & Gerilyawan

Ketua Umum Perhimpunan Sangga Nusantara (*) Artikel bebas kutip, tayang & muat di media konvensional - media baru, dengan cantumkan sumber, tanpa perlu izin penulis (**)

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Artikel Utama

Elegi Bisu Prabowo Subianto

23 Februari 2019   21:36 Diperbarui: 24 Februari 2019   13:19 0 19 13 Mohon Tunggu...
Elegi Bisu Prabowo Subianto
Foto: TRIBUNNEWS/HERUDIN

Terus terang, saya termasuk aktivis mahasiswa yang mengagumi sosok ini. Bukan saat ia menjadi menantu dari Presiden Soeharto yang ikut saya jatuhkan, tapi lebih kepada kedekatannya dengan Soe Hok Gie, senior saya di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia.

Soe Hok Gie adalah guru imajiner bagi aktivis gerakan mahasiswa 90an, sebagaimana dengan Ahmad Wahib. Gie dan Wahib mati di usia muda dengan meninggalkan catatan harian yang menjadi bacaan wajib bagi setiap aktivis. 

Saya jarang mengungkapkan pendapat tentang Prabowo dalam bentuk opini publik. Tapi, bukan berarti saya tidak menulis. Catatan harian saya selama menjadi aktivis mahasiswa yang belum dipublikasi beberapa kali menulis tentang Prabowo. Kedekatan saya dengan Fadli Zon sejak masuk UI tahun 1991 juga menambah pengetahuan yang saya punya. 

Ketika menjadi peserta Penataran Kewaspadaan Nasional tahun 1995 yang diadakan Lemhannas, BP7 Pusat dan Kemenpora, saya sempat berdiskusi dengan seorang kolonel yang menjadi mentor kami. Kami lagi membahas siapa saja yang mungkin menjadi pemimpin nasional yang bakal menjadi suksesor Presiden Soeharto. Saya dengan terus terang menyebut Prabowo, tentu dengan kurikulum vitae yang saya miliki. 

 "Sebetulnya, ada satu lagi lulusan Akademi Militer yang dapat Adi Makayasa. Beliau menantu Sarwo Edhie Wibowo. Namanya Susilo Bambang Yudhoyono," kata kolonel itu. 

Saya belum begitu mengenal nama SBY. Tapi, dengan informasi seperti itu, saya mulai mencari tahu. SBY lebih banyak mendapat posisi pada jabatan non komando, berbeda dengan Prabowo. 

Kedekatan saya dengan para jenderal yang menjadi bintang kejora selama era 90an lebih disebabkan oleh posisi saya sebagai aktivis kelompok studi mahasiswa, pers mahasiswa dan senat mahasiswa. Apalagi saya menjadi Ketua Pelaksana Simposium Nasional Angkatan Muda 1990an: Menjawab Tantangan Abad 21 di UI.

Dengan posisi itu, saya mengundang banyak tokoh, beserta jaringan aktivis mahasiswa se Indonesia pada tahun 1994. Simposium itu -- setelah Diskusi Mahasiswa tentang Tinggal Landas setahun sebelumnya -- menjadi kegiatan nasional pertama yang mempertemukan beragam aktivis mahasiswa lintas kampus sezaman. Yang tidak hadir hanya mahasiswa Akademi Militer. Sejumlah organ lahir setelah acara itu, termasuk Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta yang militan dalam aksi 98.

Kami tentu tidak hanya berdiskusi. Aksi-aksi demonstrasi juga kami lakukan. Tanggal 15 Agustus 1995, misalnya, sebanyak 35 orang Mahasiswa UI melakukan aksi malam hari di depan Bina Graha. Orientasi Perguruan Tinggi mahasiswa baru UI tahun 1996 yang dipimpin Kun Nurachadijat dengan kekuatan 8000an mahasiswa, juga diisi materi dan praktek aksi demonstrasi, dengan cara keliling kampus dan "perang yel" antar fakultas. Teknik pengamanan aksi mahasiswa menjadi bagian penting. 

"Lu boleh aksi. Tapi jangan lu lawan anak buah gue yang ada di lapangan. Mereka tiap hari latihan fisik. Lu pasti kalah," kata Hendro Priyono, Pangdam V Jaya, kepada saya, Budi Arie Setiadi, Ihsan Abdussalam dan Achmad Noerhoeri yang mewawancarainya di Kodam V Jaya Cililitan untuk cover majalah Suara Mahasiswa UI.

"Bagaimana kalau mengajak dialog?" tanya kami. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x