Humaniora Artikel Utama

Kepemimpinan Itu Tidak Hanya Soal Skill tapi Juga Hormonal

1 Agustus 2017   15:09 Diperbarui: 1 Agustus 2017   16:37 3354 4 0
Kepemimpinan Itu Tidak Hanya Soal Skill tapi Juga Hormonal
Ilustrasi. Discovery

Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, butuh hormon yang tepat, bukan hanya skill yang terasah baik. Memang benar. Seperti yang pernah kita bahas sebelumnya di blog post mengenai leadership ini, mereka yang memiliki keseimbangan testosteron tinggi dan kortisol rendah ternyata berdasarkan riset, lebih sukses sebagai pemimpin, laki atau perempuan. 

Coba lihat perempuan-perempuan pemimpin, mereka tampak lebih tomboy dan jarang yang girly. Memang testosteron mereka lebih tinggi kadarnya daripada perempuan lain. Laki-laki pemimpin yang sukses juga umumnya identik dengan tampilan yang kokoh. Efek sampingnya mereka punya masalah tahta wanita dan harta. Semua itu identik dengan kadar testosteron.

Apa saja ciri-ciri kombinasi testosteron tinggi dan kortisol rendah yang penting bagi pemimpin?

1. Pemimpin yang tenang dan tidak mudah meledak

Testosteron berbanding terbalik dengan kortisol, hormon stress. Testosteron juga menetralisir keresahan, gangguan konsentrasi dan ketakutan yang selalu ada dalam kondisi stress. Jadi kalau mau jadi pemimpin yang baik, bukan hanya kita harus belajar skill nya, tapi juga kita harus banyak belajar mengelola stress. Mereka yang tak mampu mengelola stress kehilangan kemampuan mengendalikan situasi, dan dengan cepat dipengaruhi refleksi fight, flight, freeze. 

Hal-hal kecil bisa membuatnya marah dan meledak, diam tak berkutik, tak mampu membuat keputusan atau lari meninggalkan tugas, sehingga team nya kebingungan.

2. Berenergi tidak loyo

Testosteron yang tinggi dan kortisol yang rendah memberikan energi. Seorang pemimpin yang terlihat loyo dan lemah, cepat capai, harus hati-hati, karena itu tanda-tanda testosteron menurun dan kortisol meningkat. 

3. Dominan tapi tidak agresif

Testosteron yang tinggi identik dengan sifat dominan. Mereka yang tak nyaman dengan sikap dominan biasanya tak nyaman pula menjadi pemimpin yang harus selalu dalam jangka waktu cepat memberikan inisiatif, memunculkan ide, menyelamatkan keadaan dan mengatasi krisis.

Riset menunjukkan testosteron tinggi di kalangan ekonomi menengah ke bawah identik dengan agresi, mereka senang berkelahi dan banyak terlibat dalam kasus kriminal. Tanpa kemampuan mengendalikan stress dan batasan nilai-nilai, hal ini bahaya sekali.

4. Kompetitif tapi tidak stress dalam tekanan

Testosteron yang tinggi juga identik dengan kesenangan berkompetisi. Kortisol yang rendah membantu mereka untuk tidak stress dalam kondisi sekompetitif apapun, bahkan menikmati keadaan. Mereka yang testosteron nya tinggi dan kortisol juga tinggi akan merasa tak nyaman berkompetisi atau menjadi sangat stressful dalam kondisi kompetisi ketat. 

Mereka pun tak akan mampu membawa perusahaan nya atau team nya menjadi pemenang pasar. Dalam situasi non komersial, di mana banyak tekanan dan tuntutan, mereka akan kesulitan membangun reputasi team atau perusahaan dalam mencapai tujuannya, apapun tujuan itu.

5. Senang mengejar posisi, ambisius dan optimis

Testosteron membuat seseorang sensitif terhadap posisi vertikal. Mereka ingin mengejar posisi di atas. Mereka juga punya keyakinan akan kemampuan mereka dalam mencapai apa yang mereka inginkan. 

Mereka yang tak memiliki testosteron tinggi tak terlalu semangat untuk mengejar status sosial atau jabatan. 

Bagaimana dengan Anda? 

Sumber: