Mohon tunggu...
InsideIma
InsideIma Mohon Tunggu... -

Cats lover, Movie freak

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Meeting di Berlin; Lunch di London; Pipis di Paris

12 Juni 2013   17:19 Diperbarui: 24 Juni 2015   12:08 194
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

'Are we ready for this' itu kaya lagu favorit lo yang lo puter berulang-ulang, lama2 jadi mantra lo tiap lo mau pergi tidur or aufstehen (bangun pagi),

Terkadang waktu dengan cepat menghisap kita seperti pasir hisap berbahaya yang kau temui di pusaran dalam air laut. Segala peristiwa yang hadir dalam hidupmu seperti meteor yang  melesat datang menghampirimu dengan kecepatan ribuan tahun cahaya, siap gak siap, dia yang bernama takdir dengan sigap menangkapmu, menghajarmu habis2an sampai kamu tidak memiliki lagi energi untuk menanyakan : ẃhy, warum, mengapa?

Are we ready for this? sekalipun aku dan kamu, lo-gw endlich (bahasa alay nya lo gw end habis sudah)

sekalipun gw ingin teriak no im not, tidak, aku tidak siap untuk ini, aku butuh waktu untuk bernapas sejenak, mundur dari ribuan langkah yang sudah  ditempuh. schade, my liebe freundin, no you can not.  Takdir tidak akan peduli apakah kau siap atau tidak, seperti meteor yang menghantammu telak, takdir yang bisa menimbulkan euforia atau inferno. Dalam kasusku takdir cinta & kematian orang2 tersayang memberiku rasa inferno yang menakutkan.

(Editor)

Tiba-tiba semua ngerewind kembali, ke selasar Gedung Fisip UI Depok, waktu kita bikin proposal mau ke Jerman dan numpang wifi gratisan, 2009. Since that day, kita ngebulshit that we would pee in the morning in SG, meeting in German, and lunch in Paris.

We've been through different ways since that year ya, Depok - Jogja - Krakatau - Lombok - Pulau Jawa - Pulau Bali - Sulawesi - Kalimantan - Vietnam - Jakarta. Paolo Coelho - Dewi Lestari - Sufi - Buddhism - Marxism -Andrea Hirata - Capitalism - Socialism. This kind of leaving-feeling different than the trips we ever made before.

(Gw) 9 Mei 2009

Gw dan Anja lagi melow, ini hari sonntag, am Wochenende (weekend) di Ilmenau, para mahasiswa jerman itu sedang mempersiapkan pesta penyambutan  'get to know ya' untuk mahasiswa asing dari seluruh dunia yang sedang berkumpul di ballroom dancing.

Dan sore itu kami ada Tanzen klasse yang dipandu oleh seorang pria jerman gay yang makhir berputar2 seperti gasing mengajarkan teknik tarian samba dari brazil, lalu tango, lalu waltz... yang sayangnya ditanggapi dengan semangat 45 oleh mahasiswa2 dari indonesia dengan menari goyang gergaji ala inul daratista...jadi intinya..percuma aja ini mahasiswa indo diajari teknik tari tango, weil ujung2 nya tetep nari goyang dombret...tarik mang...

kenapa gw dan anja melow ditengah hiruk pikuk kelas tarian-

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun