Senja Guzel
Senja Guzel learn-to-be writer.

Memperhatikan dan belajar.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Harapan Kecil dari Seblak

5 November 2018   20:18 Diperbarui: 7 November 2018   15:54 724 5 4
Harapan Kecil dari Seblak
ilustrasi: Salah satu hidangan di Seblak Jeletet Murni, yang berisi kikil, otak-otak, dumpling ayam, dan telur ceplok. (KOMPAS.COM/MUHAMMAD IRZAL ADIAKURNIA)

Pernahkah kamu merasa menyia-nyiakan kesempatan begitu saja? Kesempatan sekali seumur hidup yang melibatkan hal yang paling kamu inginkan. Kesempatan yang mempengaruhi masa depan dan kebahagiaanmu seterusnya, kesempatan yang berhubungan dengan semuanya, yang hidupmu bergantung dengan itu.

Baru-baru ini saya merasakannya. Sakit, pahit, pedih, marah, semua berkecamuk menjadi satu. Seakan sudah habis semua, sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Sudah tidak ada harapan lagi. 

Kesempatan tersebut melibatkan passion dan minat saya, masa depan saya, kehidupan saya, yang dengan sangat berat hati harus saya lepaskan karena satu dan lain hal. Dunia seperti runtuh. Mau makan saja malas, mau memulai hal baru untuk melupakan rasanya seperti mustahil. 

Saat itu saya berpikir, jalan saya sudah tamat. Saya dilanda kebingungan dan kegalauan yang amat sangat untuk mengambil jalan hidup yang baru. Keluarga dan teman - teman seperti memberi tekanan tidak langsung dengan bertanya, "sibuk apa sekarang?". 

Melihat media sosial pun rasanya dipenuhi rasa iri dengan teman - teman yang sedang menikmati jalan hidupnya. Setiap hari yang saya lakukan hanya mendengar musik, membaca buku, nonton film, memasak, pokoknya melakukan semua hal yang dapat menghibur diri dan menghindari saya untuk menyalahkan diri sendiri. 

Suatu hari saya dilanda keinginan yang amat sangat untuk makan seblak. Makanan khas Bandung yang dibuat dari kerupuk basah dan dimasak dengan rempah - rempah. Semua bahan sudah saya beli, hanya kurang satu rempah lagi. Kencur. 

Kencur ini adalah rempah yang menjadikan seblak itu seblak. Wanginya, rasanya, semua terbentuk karena kencur. Sebetulnya bukan rempah yang langka dan relatif bisa ditemukan di warung - warung sekitar rumah, namun entah kenapa hari itu semuanya seakan kompak bilang, "habis neng!" ketika saya mau beli. 

Saya coba lagi keesokan harinya dan jawabannya sama. Besoknya lagi. Besoknya, dan besoknya, dan besoknya... selalu tidak ada atau habis atau tidak jual. Saya yakin mereka bosan liat saya mampir ke warungnya setiap hari untuk sekedar mencari kencur. Saya coba cari ke pasar yang lumayan besar dan agak jauh dari rumah. 

Katanya panennya lagi susah atau apa gitu jadi pada busuk dan mereka tidak mau ambil resiko mengambilnya. Saya juga coba ke swalayan dekat rumkah, dan tidak ada stok katanya. Sungguh heran saya. 

Kenapa saat tidak butuh, rasanya banyak banget yang majang kencur di displaynya tapi giliran saya butuh satupun ga ada?? Geregetan banget rasanya. Keinginan makan seblak tak kunjung hilang tapi tidak mungkin membuat seblak tanpa kencur? Tidak terbayang rasanya.

FYI, saya adalah tipe yang suka bikin jajanan sendiri. Selain lebih bersih, hemat pula karena saat itu saya lagi bokek pisan hehe. Beberapa hari setelahnya, adik saya pulang dengan membawa plastik kecil ditangannya. "Mbak ini ketemu kencurnya!" katanya. Bukan main senangnya hati saya hanya karena adik membelikan kencur yang selama ini saya idamkan. 

Mulailah saya bersiap masak. Setelah kencurnya saya bersihkan dan kupas, saya heran kenapa wanginya kok agak beda dari wangi kencur biasanya yah? lebih kuat, lebih nyengat. Saya tanya ibu untuk konfirmasi. 

Ternyata... itu bukan kencur tapi temu kunci. Penjualnya salah kasih dan adik saya pun tidak sehafal itu dengan rempah. Ya ampun... betapa kecewanya hati saya... Temu kunci itu rata - rata digunakan untuk sayur bening dan tidak umum untuk makanan lain yng biasa keluarga saya hidangkan. 

Sudahlah, pakai saja! keinginan makan seblak sudah tidak tertahankan. Pakai saja temu kunci! Bodo amat deh rasanya bakal gimana nanti! Saya ulek bersama dengan rempah lain, dan masak. Kemudian saya sudah mempersiapkan diri dengan ke-absurd-an rasa yang saya ciptakan. 

Saya ambil sendok dan icip kuahnya... Enak! Ternyata tidak sekacau yang saya perkirakan. Malahan terasa lebih segar dari kencur walaupun ada after-taste yang sedikit pahit. Sekejap saja seblaknya habis oleh saya dan adik.

Setelah kenyang, pikiran mulai jalan dan membuat saya merenung (sebelum akhirnya ketiduran hehe). Bukankah ini contoh kecil dari hidup saya? Begitu inginnya saya mendapatkan sesuatu tapi tidak bisa, tapi dalam kasus seblak ini saya diberikan gantinya yang ternyata menciptakan rasa enak sendiri. Sesuatu yang sangat amat kita inginkan yang kita pikir itu adalah jalan satu - satunya untuk membuat kita bahagia, belum tentu adalah yang terbaik untuk kita.

Apakah mungkin hidup saya juga begini? Kesempatan yang kemarin datang, mungkin bukan merupakan sesuatu yang paling baik untuk saya. Tapi juka saya ikhlas, dan yakin bahwa saya bisa mendapatkan yang lebih baik, pada akhirnya saya pasti mendapatkan yang terbaik. Hanya tinggal mengatur dan mengolah kesabaran. Paling penting, husnudzan sama Allah. Bahwa Allah yang paling tau apa yang terbaik untuk saya.

Terkadang, peristiwa kecil yang mungkin tidak penting bagi orang lain adalah jawaban atas kegelisahan dan masalah yang kita hadapi. Jika kamu pernah merasa jalanmu berakhir, tidak tau arah dan merasa sendirian, cobalah menarik napas dalam dan lihat di sekitarmu. 

Barangkali, jawaban sudah ada di dekatmu namun kamu dibutakan oleh rasa putus asa. Terus berusaha menerima semuanya dengan perspektif berbeda dan kebahagiaan akan menemukan kita. Have a nice day :)