Mohon tunggu...
IDRIS APANDI
IDRIS APANDI Mohon Tunggu... Penikmat bacaan dan tulisan

Pemelajar sepanjang hayat.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Problematika Mudik di Masa Pandemi

9 Mei 2021   23:43 Diperbarui: 10 Mei 2021   13:28 222 11 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Problematika Mudik di Masa Pandemi
Suasana kepadatan di jalur Pantura Palimanan, saat kendaraan pemudik melintas di Cirebon, Jawa Barat, Minggu (9/6/2019). H+4 Lebaran yang jatuh pada Minggu (9/6) merupakan puncak arus balik jalur Pantura yang didominasi kendaraan sepeda motor.(ANTARA FOTO/DEDHEZ ANGGARA via KOMPAS.com)

Mudik sebelum lebaran bukan sekadar pulang biasa. Ada nilai yang "sakral" dari kegiatan tersebut. Seseorang bisa pulang sebulan sekali atau seminggu sekali dari tempat kerja atau perantauannya ke kampung halamannya, tetapi kalau tidak mudik saat mau lebaran, maka tetap saja akan terasa kurang, karena lebaran identik dengan berkumpulnya seluruh anggota keluarga di kampung halaman. 

Apalagi kalau sebuah keluarga besar. Anak dan cucu kumpul semuanya. Walau rumah menjadi ramai, ribut, tidur berdesak-desakkan di tengah rumah, tetapi hal tersebut tetap dinikmati. 

Toh, hanya setahun sekali. Saat anak dan cucu kembali ke rumahnya masing-masing, maka rumah kakek dan neneknya di kampung kembali sepi. Hal tersebut akan menjadi kerinduan untuk berkumpul kembali.

Bagaimana dengan kondisi saat ini dimana pemerintah melarang mudik untuk mencegah penyebaran Covid-19? Ini adalah tahun kedua pandemi Covid-19 terjadi di Indonesia. 

Hal tersebut tentunya sebuah hal yang berat. Dua tahun tidak bisa pulang kampung, dua tahun tidak sungkem secara langsung kepada orang tua, dua tahun tidak berkumpul dengan semua sanak saudara.

Bagi pemerintah, pelarangan mudik juga tentunya telah melalui pertimbangan risikonya. Dilematis memang. Di satu sisi pemerintah harus meningkatkan kehidupan ekonomi yang terpuruk selama pandemi.

Sedangkan di sisi lain, pemerintah juga harus menjaga kesehatan masyarakat. Jangan sampai terjadi seperti di India yang mengalami "Tsunami Covid-19" pascakegiatan kegamaan. 

Arus mudik dari kota ke desa sebenarnya bisa memutarkan ekonomi rakyat. Triliunan uang bisa berputar di daerah. 

Ekonomi rakyat bisa bangkit, tapi mungkin jika arus mudik dibuka lebar-lebar, maka risiko kesehatannya akan lebih berat dibandingkan manfaat ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat.

Ibarat berkendara, mainkan rem dan gas dengan seimbang agar aman dan nyaman saat berkendara. Begitu pun yang saat ini dilakukan berkaitan dengan penanganan Covid-19. 

Di satu sisi ekonomi harus berjalan dan di sisi lain, kesehatan masyarakat pun perlu diperhatikan. Jangan sampai kasus Covid-19 terus bertambah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN