Mohon tunggu...
Mh Firdaus
Mh Firdaus Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis

Penulis dan Traveller amatir. klick: www.nyambi-traveller.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Melalui Cokek Sip Pat Mo, Perempuan Benteng Bersuara

28 Agustus 2018   12:01 Diperbarui: 28 Agustus 2018   12:20 627
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

"Berkat tari cokek inilah saya seperti hidup kembali. Saya tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan dulu saya. Layaknya cap masyarakat umum terhadap warga Cina Benteng lainnya. Sudah dianggap miskin, malas pula. Keahlian menari Cokek Si Pat Mo merubah kehidupan saya. Kini, saya pede sebagai pengajar tari Cokek. Tak terbayangkan sebelumnya..."

Ungkapan emosional terungkap dari mulut Heni Liem, biasa disapa Heni, warga Cina Benteng, kelurahan Mekarsari, kec. Neglasari, kota Tenggerang, kepada penulis di sela obrolan. Siang terik nan panas, Senin, 20 Agustus 2018, tidak menghalangi siswa SMP Widya Dharma, kota Tanggerang berlatih tari Cokek Sip Pat Mo, dengan arahan Heni. 

Berawal dari keaktifannya di koperasi Lentera Benteng Jaya (LBJ), yang difasilitasi PPSW (Pusat Pengembangan Sumberdaya Wanita) Jakarta, kini seni tari Cokek Sip Pat Mo menjadi tak terpisahkan dari kegiatan LBJ, dan bahkan menjadi kesenian khas kota Tenggerang. Bagaimana bisa terjadi? Padahal masyarakat selama ini menganggap "miring" tari Cokek?

Tari Cokek merupakan salah satu tari tradisional Betawi yang bersumber dari peranakan budaya Cina. Ia dilakukan dengan iringan ansambel music Gambang Kromong yang dihadirkan dalam pesta perkawinan. Gerakannya berupa tari pergaulan (social dance) dengan pelakunya anak wayang (penari cokek) bersama tamu undangan pesta perkawinan.

Sayangnya, masyarakat umum telah memandang negative tari tersebut dan mengasosiasikannya sebagai hiburan plesiran. Orang umummemandangnya seronok, erotis, seksi, dimana penari adalah penggoda tamu untuk menari bersama hingga memberikan uang.

Tari Cokek Sip Pat Mo kini menjadi kegiatan ekstra kulikuler siswa SMP (dok. PPSW)
Tari Cokek Sip Pat Mo kini menjadi kegiatan ekstra kulikuler siswa SMP (dok. PPSW)
Beratnya merevitalisasi tari Cokek, dialami anggota koperasi LBJ. Ibu Vera, berujar lirih kepada penulis, "Awalnya suami tidak mengizinkan saya berlatih tari Cokek di LBJ. Kenapa saya kok mau-maunya berlatih tari Cokek. Padahal selama ini perempuan yang menari Cokek, dikenal perempuan yang menggoda laki-laki". Sekuat tenaga, ibu Vera menerangkan suaminya arti tari Cokek di budaya Tanggerang. 

Perlahan suami mengizinkan. Kini, ibu Vera menjadi pelatih tari Cokek bagi siswa SMP dan SMA swasta Tanggerang. Sementara Sip Pat Mo adalah pengembangan tari Cokek yang diturunkan tokoh tari tradisional, yaitu Memeh Kerawang atau Tan Gwat Nio tahun 1980 an di Jakarta (lihat penelitian IKJ, 2016).

Menurut penelusuran penelitian IKJ, di setiap gerakan tari Cokek Sip Pat Mo penuh makna dan nasehat kebajikan. Asal muasalnya merupakan tari religius yang menurut tetua, konon dipentaskan sebagai bagian upacara keagamaan di Klenteng. Oleh karenanya di dalam gerakan Sip Pat Mo, penuh keagungan dan mengandung nilai ibadah yang kuat.

Cokek dan Pemberdayaan

Melalui tari Cokek Sip Pat Mo lah, PPSW memberdayakan masyarakat Cina Benteng khususnya kaum perempuan.

Awalnya, LSM (lembaga swadaya masyarakat) yang berdiri 1994 melakukan pemberdayaan social dan ekonomi masyarakat warga Cina Benteng. Seiring pergaulan yang intensif, terlihat bahwa masyarakat Cina Benteng tak bisa lepas dari budaya dan kesenian. 

Kebudayaan nenek luhurnya begitu kuat menghiasi dinamika kehidupan. Selama puluhan tahun, mereka mempertahankan adat istiadat, seperti; meja abu dan pernikahan adat Cina Perkawinan Ciatou. Tak heran, huruf Cina masih menempel dinding luar rumah kampung Cina Benteng. Itu dipercaya sebagai media penghalang roh jahat masuk ke rumah.

Pintu sepuluh sungai Cisadane merupakan lingkungan asri komuitas Cina Benteng (dok. PPSW)
Pintu sepuluh sungai Cisadane merupakan lingkungan asri komuitas Cina Benteng (dok. PPSW)
Dirunut kebelakang, kehidupan Cina Benteng diawali semenjak pendaratan Chen Ci lung di Teluk Naga tahun 1407, yang juga menjadi awal kebudayaan Tionghoa. Bangunan Klenteng Boen Tek Bio, berdiri di depan kampung, menjadi saksinya. Pelestarian kebudayaan dan kesenian sempat berhenti saat era Orde Baru menjalankan "politik asimilasi". Masa presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) menjadi tongak perubahan. Contohnya, festival Peh Cun (berarti mendayung perahu), yang berhenti sejak 1966, bangkit kembali.

Atas dasar itulah, PPSW menganggap penting untuk mengintegrasikan pendekatan kebudayaan dalam strategi pengembangan social dan ekonomi yang telah ada. "Masyarakat Cina Benteng tak mungkin lepas dari budaya luhurnya. Agama apa pun bisa hadir di hadapannya. Namun mereka tetap menghormati leluhurnya. Makanya PPSW tidak mungkin mengabaikan aspek penting ini ", ungkap ibu Tri Endang, direktur PPSW Jakarta kepada penulis. 

Meski berat, melalui dialog panjang dengan kelurahan, dinas pariwisata dan kebudayaan kota Tanggerang serta tokoh masyarakat, kini keberadaan tari Cokek Sip Pat Mo, yang direvitalisasi koperasi LBJ mendapat apresiasi. Festival Cisadane -- event tahunan kota Tanggerang -- dan acara kebudayaan lain, sering mengundang sanggar lentera dengan tari Cokek Si Pat Mo nya.

Menggunakan tari sebagai media pemberdayaan sama sulitnya melakukan pemberdayaan komunitas Cina Benteng. "Awalnya, sulit sekali meyakinkan semua pihak bahwa komunitas Cina Benteng bukan pemalas. Semua curiga kepada kami. Semua pintu tertutup, saat kami hadir. Kami dicurigai sebagai petugas pemerintah yang mendata rumah untuk digusur", ungkap Titik Suryatmi, pendamping PPSW Jakarta, kepada penulis di sela obrolan di tepi sungai Cisadane. Kala itu pak Lurah yang awalnya ragu, kini menyadari bahwa kamunitas Cina Benteng memiliki keunggulan seperti Cina town di daearah lainnya.

Koperasi LBJ selalu ramai saat pembukaan kas setiap minggunya (dok.PPSW)
Koperasi LBJ selalu ramai saat pembukaan kas setiap minggunya (dok.PPSW)
Bagai bola salju, berkat seringnya pentas tari Cokek Sip Pat Mo, perempuan Cina Benteng dikenal masyarakat. Kini, warga Cina Benteng di 3 RW (rukun warga), kelurahan Mekarsari, kec. Neglasari, 70 persennya menjadi koperasi LBJ. Keteguhan dan semangat perempuan Cina Benteng dalam merevitalisasi kebudayaan dan keseniannya mampu mengubah gambaran masyarakat umum terhadapnya. 

Sebelumnya, perempuan Cina Benteng tidak pernah dilirik kelurahan untuk aktif di program posyandu, PKK, dsb., kini mereka menjadi kader terdepan. Di ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke 73, warga Cina Benteng -- melalui kelompok perempuan -- memberi pelajaran arti keanekaragam budaya, dan inklusivitas, serta memberi warna pada proses "asimilasi" budaya di Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun