Mohon tunggu...
Idatus sholihah
Idatus sholihah Mohon Tunggu... Penulis - Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Penulis lepas yang tertarik dengan bahasa, literasi dan pendidikan.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kisah Sumur Tua

26 November 2022   10:49 Diperbarui: 26 November 2022   10:58 840
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Aku mengawali cerita ini sembari mengenang masa pendidikan Sekolah Dasar. 

Sumur tua itu berada tepat di belakang sekolahku. Dulu, sekolah itu belum berpagar tembok keliling, hanya pondasi setinggi 25 cm yang menjadi tanda bahwa itu adalah batas wilayah sekolah dengan rumah warga dan sumur tua yang hendak kuceritakan itu. Di sebelah selatan sumur ada sekolah Taman Kanak-kanak, dulu aku juga bersekolah di situ.

Sering sekali saat istirahat ataupun sepulang sekolah aku sekadar melongokkan kepala ke sumur tua. Saat musim hujan, air di sumur itu akan naik dan jika kita menimba hanya memerlukan timba  bertali 2 meter saja.  Setiap tahun sumur tersebut tidak pernah kering meskipun sumur pada umumnya dilanda kekeringan jika kemarau. 

Bentuk sumur tidak seperti sumur pada umumnya di desa. Jika sumur pada umumnya  berbentuk seperti melingkar yang mirip dengan hong atau gorong-gorong untuk sebutan pembangunan masa kini,  bertubuh dan bermulut besar lalu di sekelilingnya terdapat lantai yang diplester semen.  Mudahnya begini saja, sumur pada umunya yang digali hanya sebatas lubang yang akan dijadikan penampung air, namun sumur tua itu tidak. Bentuk seperti gorong-gorong hanya di atasnya, sekitar 5 meter dari permukaan,  jauh di bawah permukaaan lebih mirip dengan kolam yang sangat besar dan dalam.  Sekeliling permukaan diberi lantai plester semen, andaikata lantai ambrol tentu saja akan menyebur ke dalam sumur yang belum diketahui berapa meter kedalamnnya. Jika dilihat dari atas memang sumur tersebut di bawahnya seperti gua air.   

Konon, cerita yang beredar di masyarakat desa, sumur ini memiliki pasangan. Yakni sumur serupa yang lebih besar dan letaknya di desa sebelah. Sumur yang berada di desaku ini katanya yang perempuan. Entah atas dasar apa mereka menjuluki kedua sumur tersebut sebagai pasangan. Jika bertanya maka masyarakat akan menjawab bahwa itu sudah julukan dari sesepuh terdahulu dan mereka hanya tahu sebatas itu. 

Jika masyarakat setempat memiliki hajat, misalnya khitanan atau manten maka harus memberi bunga dan sesaji di pojok sumur yang ada meja kecil dari batu di bawah pohon beringin. Begitu pula dengan sumur satunya, yang berada di desa sebelah.

Kedua sumur tersebut tidak pernah surut atau kering airnya, bahkan yang di desa sebelah atau masyarakat menyebutnya sendhang merupakan sumber air yang sangat berperan bagi penduduk, saat ini dialirkan ke rumah penduduk., digunakan air minum dan sering kali diminum dengan kondisi mentah alias tanpa direbus terlebih dahulu.

Letak sumur sendhang berada ujung selatan desa dan sekelilingnya berupa hutan kecil yang begitu hijau dan subur. Jarak antara rumah warga dan sendhang kira-kira 20 meter, suasana di sana cukup sepi. Dulu saat masih SD ketika olah raga sering jalan santai ke sana. 

Kembali ada sumur di belakang sekolah. Tiap tahun selalu ada acara khusus, yakni penaburan uang receh ke dalam sumur, menurut sesepuh hal itu untuk berbagi rezeki dan menghormati penunggu sumur teresebut.

Pernah ada seorang teman yang agak nyeleneh, dia tahu bahwa sebelumnya sudah ada orang yang menaruh sesaji di pojok sumur, meja batu maksudku. Sepulang sekolah dia menghampiri meja batu tersebut dan mengambil beberapa makanan kecil dan uang recehan di sana. Beberapa teman bertanya apakah ia tidak takut jika mbah Danyang penunggu sumur marah kepadanya?

Dengan santai dia menjawab tidak apa-apa, toh ia hanya mengambil sedikit saja.

Suatu ketika ketika, seperti biasanya sepulang sekolah sekadar iseng mengintip sumur tersebut aku melihat ada beberapa keris yang terdapat di dalamnya, keris dengan tubuh lenggak-lenggok. Melihat hal tersebut aku bertanya pada Kakek, mengapa ada keris di dalam sumur itu?

Kata kakek, memang di dalam sumur tersebut ada banyak uang receh, beberapa keris, dari yang model lurus lancip seperti biasanya ada juga yang berlenggok seperti yang kulihat tadi. Keris itu sengaja diceburkan ke sana, katanya untuk memberi sedekah pada penunggu sumur, seperti yang kukatakan di atas. Biasanya seseorang menceburkan keris ke sana dia memiliki banyak pusaka. Jadi, tidak heran jika dia merelakan satu pusaka saja untuk dimasukkan ke sana.

Terlepas dari syirik atau tidak, aku menilai sebuah kepercayaan  mereka terhadap ucapan orang tua atau sesepuh mereka begitu kuat. Meskipun terkait hal tersebut  yang pada zaman ini dianggap sebagai mitos dan tidak masuk akal. Ini adalah bagian dari sebuah kebudayaan yang masih ditempeli kepercayaan Animisme, Dinamisme. Mereka muslim, mereka beriman pada Tuhan Yang Esa dan mereka tetap menghormati sebuah budaya. Memang tidak bisa serta-merta menghapus kebiasaan tersebut, karena melihat lahirnya agama di Indonesia. Masyarakat Jawa khususnya, dulu  diawali dengan kepercayaan animisme dinamisme, yang kemudian memeluk Hindu Budha atau Islam juga masih dibayangi sedikit sisa kepercayaan nenek moyang dahuluu, terlebih para sesepuhnya.

Lalu bagaimana dengan keadaan sumur tersebut saat ini? Terakhir aku melewatinya tiga bulan lalu. Sungguh terjadi perubahan drastis. Jika dulu di sekelilingnya banya pepohonan, semak, dan sebuah pohon beringin besar. Maka kini aku tidak menjumpainya lagi. Semak belukar sudah dibabat habis, digunakan untuk memperluas gedung sekolah Taman Kanak-kanak. Begitu juga dengan pohon beringin. Jika dulu terkesan ada rasa magis maka kini perasaan tersebut sepertinya sudah hilang. 

Yang masih tersisa hanya sebatas cerita dari mulut orang tua dan sebagai bukti hanya melihat sumur tersebut. Apabila ingin membakar kemenyan atau memberi sesaji tetap dilakukan di sudut sumur tersebut, di atas meja batu.

Sampai sejauh ini, tidak ada kasus sumur itu memakan korban, entah gara-gara tercebur atau bagaimana. Bahkan saya sempat berpikir bagaimana jika masyarakat menghilangkan semua kebiasaan tersebut?

Sayangnya hingga sampai sekarang masyarakat masih memegang budaya itu dan tak pernah meninggalkannya. 

Lalu bagaimana dengan sumur satunya?

Sumur sendhang masih tetap ada dan sampai sekarang jika ada masyarakat yang akan menggelar hajat, sebelumnya harus sudah membakar kemenyan di sana dan memberi sedikit sesaji. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun