Mohon tunggu...
ibrahim aji
ibrahim aji Mohon Tunggu... -

Lahir di Lampung, 7 Desember 1977. Lulus dari Universitas Indonesia tahun 2001. Kini bekerja sebagai wartawan ekonomi dan bisnis, khususnya ekonomi dan bisnis syariah di Jakarta. Blog saya ada di http://ajisaka.dagdigdug.com

Selanjutnya

Tutup

Money

George Soros: Bukan Sekadar Uang

13 Januari 2010   07:11 Diperbarui: 26 Juni 2015   18:29 343
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bisnis. Sumber ilustrasi: PEXELS/Nappy

Pemain pasar modal besar dunia satu ini mulai menyadari tidak menyambungnya sektor keuangan dan sektor riil dalam kapitalisme.

Seperti ditulisnya di Financial Times, investor kakap ini membuka rahasianya berinvestasi selama ini. Berikut penuturannya:

Filosofi yang telah membantu saya banyak dalam menghasilkan uang, adalah uang bukan sekadar uang. Tapi, relasi rumit antara pemikiran dan realitas. Krisis keuangan global pada 2008 telah memberi pandangan ke depan yang lebih bernilai akan bagaimana pasar keuangan bekerja.

Hipotesis tentang efisiensi pasar keuangan mengatakan bahwa pasar keuangan cenderung bergerak menuju kurva keseimbangan (equilibrium) dan lebih akurat lagi menunjukkan informasi akan masa depan. Krisis keuangan 2008 membatalkan hipotesis ini.

Saya memperhatikan, pasar keuangan selalu merefleskikan kenyataan yang terdistorsi. Yang terjadi saat krisis perumahan di Amerika Serikat (AS) 2008 lalu adalah itu. Pemberian nilai yang tidak sesuai untuk aset-aset keuangan.

Super Bubble
Akhirnya, daripada cenderung bergerak menuju equilibrium, pasar keuangan malah cenderung menjadi bubbles. Bubbles adalah irasional: uang cenderung bergabung dalam kerumunan. Nilai sebenarnya uang yang ada di sana tidak dapat dihitung dengan pasti oleh regulator untuk menunda ekses negatifnya.

Inilah sumber krisis keuangan global 2008, super bubble yang bertumbuh sejak 1980, yang berasal dari bubble-bubble yang lebih kecil. Tiap kali, krisis terjadi, otoritas keuangan mengintervensi, mengambil alih lembaga keuangan yang bangkrut. Lalu, menerapkan kebijakan moneter dan fiskal. Yang justru, meniupkan angin lebih banyak ke super bubble tersebut di masa depan.

Saya percaya, analisa super bubble ini memberikan petunjuk bagaimana seharusnya kita mengambil tindakan di masa depan. Pertama, sejak markets pasar keuangan selalu cenderung menjadi bubble, otoritas keuangan harus menerima kenyataan, bahwa sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menahan bubble bertumbuh lebih besar. Sayangnya, Alan Greenspan dan beberapa otoritas keuangan lainnya menolak itu.

Kedua, untuk mengontrol bubble tidak cukup dengan mengatur banyaknya suplai uang, suplai kredit juga harus dikontrol. Biasanya, regulator melakukan penentuan margin minimum dan modal dan jaminan yang dibutuhkan. Meskipun pasar kemudian tidak menyukai kebijakan ini, itu tetap harus dilakukan untuk menahan pertumbuhan bubble menjadi lebih besar. Regulator juga harus mengatur loan-to-value ratio pada pembiayaan komersil dan perumahan untuk mencegah bubble di bidang properti.

Bank sentral sudah semestinya memerintahkan kepada bank-bank komersial untuk membatasi pembiayaan kepada sektor tertentu yang dirasakan mulai berlebihan.

Instrumen Derivatif Mestinya Dilarang
Ketiga, ketika pasar keuangan menjadi tidak stabil, pasti ada yang namanya risiko sistemik terhadap setiap yang terlibat di sana. Kemudian yang biasa terjadi adalah para pemain di pasar tersebut mengabaikan saja risiko tersebut. Mereka berpikir bisa selalu melepaskan penyertaannya di pasar setiap saat ketika kondisi gawat terjadi. Tapi, ketika semua pemain pasar berpikir demikian, masalah likuiditas pun merebak. Karena, uang sesungguhnya memang tidak ada, tidak merefleksikan sektor riil yang didasarinya untuk diperdagangkan seperti sudah saya terangkan di atas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun