Mohon tunggu...
Ian Kassa
Ian Kassa Mohon Tunggu...

Seorang guru. Juga Penikmat kopi yang sekali-kali meluangkan waktu untuk membaca dan menulis. Percaya bahwa tak ada eksistensi tanpa perbedaan. Serta percaya pada proses, bukan pada mitos.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Jejak Berdarah Fanatisme Agama

12 Mei 2018   11:05 Diperbarui: 12 Mei 2018   11:25 0 0 0 Mohon Tunggu...
Jejak Berdarah Fanatisme Agama
Sumber: duaanak.com

Di depan murid-muridnya, seorang guru agama terlihat begitu bersemangat bercerita. Ia bercerita tentang sosok wanita yang bernama "Ainul Mardhiah". Siapa itu Ainul Mardhiah? Wanita tersebut adalah sosok bidadari nan cantik rupawan. Bidadari ini merupakan wujud dari janji Allah bagi seorang muslim yang telah mendapatkan gelar syuhada setelah bertempur di medan perang.

Kecantikan Ainul Mardhiah ternarasikan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Tirmidzi. Berbekal hadist ini, sang guru agama bercerita bak seorang pendongeng ulung. Tutur katanya terlontar lancar menggiring imajinasi para murid-muridnya. Mungkin saja para murid tersebut mulai membanding-bandingkan wajah ayu Raisa dengan Ainul Mardhiah. Atau mungkin juga membandingkan paras cantik Ariel Tatum dengan Ainul Mardhiah.

Lalu kemudian salah seorang murid mengangkat tangannya. Pertanda murid tersebut ingin memberikan pertanyaan,

"Ya, kamu mau bertanya? Silahkan," Kata Sang guru mempersilahkan.

"Anu, pak... Ainul Mardhiah cantik banget ya, pak? Apa bapak pernah melihatnya? Apa bapak pernah ke surga?"

Selayaknya pertanyaan menuai jawaban. Namun, bukan itu yang didapatkan oleh sang murid. Melainkan satu kata perintah yang terlempar dari lisan sang guru, "PUSH UP, KAMU!" Ruangan kelas mendadak hening untuk beberapa saat. Lalu kembali diisi dengan ceramah sang guru.                                                                                                                                                                  ***

Cuplikan cerita tadi, di mana seorang murid menuai hukuman untuk pertanyaan yang diajukkannya merupakan kejadian nyata. Terjadi di tempat saya mengajar, kisahnya saya dapatkan dari penuturan seorang murid yang juga adalah teman sekelas dari murid yang dihukum push up tersebut.

Kejadian-kejadian seperti ini memang tergolong kecil. Namun bukan berarti tidak menemukan simpulnya pada skrup atau fenomena yang lebih besar. Pertanyaan selanjutnya adalah, "Kenapa ada sebagian ummat beragama yang bereaksi represif terhadap pertanyaan atau argumentasi rasional tentang agama tersebut? Atau tentang hal-hal yang dianggap bertentangan?"

Jawabannya adalah sikap fanatik terhadap suatu agama. Dalam bentangan sejarah peradaban manusia, agama dan fanatisme memiliki kisahnya tersendiri. Dan bahkan, tak jarang kita disuguhi lembaran kisah historis betapa fanatisme hadir dengan mengenakan selimut darah. Mengapa bisa demikian? Bisa jadi, karena pada satu waktu agama tertentu pernah bersenggama dengan kekuasaan.

Ada banyak contoh tak terelakkan, terekam dan terpampang jelas dalam etalase sejarah. Adalah Campo de Fiori, alun-alun utama kota Roma, Italia. Siapa pun yang pernah berkunjung ke sana, tentu ia akan terbuai dengan kesan bahwa alun-alun itu begitu luar biasa indah. Tetapi, Campo de Fiori juga menyimpan cerita tentang perseteruan antara ilmu pengetahuan dan agama. Namanya Giordano Bruno, seorang pemikir, kosmolog dan filosof.

Sosok Bruno harus berakhir dalam kobaran api. Ia dibakar hidup-hidup akibat argumentasi-argumentasi kosmologinya dianggap sesat dan bertetangan dengan ajaran gereja Katolik. Kini, di tengah keramaian Campo de Fiori patung Bruno berdiri kaku sembari mengguratkan raut wajah nan pilu. Tepat di bawah patung Bruno, tertuang rangkaian diksi dengan bunyi, "Qui dove il rogo arse" (Di sinilah api pernah berkobar).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2