Mohon tunggu...
Rio Estetika
Rio Estetika Mohon Tunggu... Freelancer - Dengan menulis maka aku Ada

Freelancer, Teacher, Content Writer. Instagram @rioestetika

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Social Distance, Cegah Corona?

17 Maret 2020   20:47 Diperbarui: 17 Maret 2020   20:57 211
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
https://economictimes.indiatimes.com/

Social distance adalah menjaga jarak  menjadi cara yang dianggap perlu- selain mencuci tangan- untuk mengatasi penularan virus corona (Covid-19). Lantas apakah social distance itu sebenarnya? 

Yaitu salah satu penerapan ilmu kesehatan masyarakat yang dimaksudkan untuk mencegah orang sakit melakukan interaksi dekat dengan orang yang sehat, tujuannya untuk mengurangi penularan penyakit. 

Implikasi social distance dapat mencakup langkah-langkah signifikan, seperti membatalkan agenda kelompok, perkumpulan, atau menutup ruang publik dan keputusan individu untuk menghindari keramaian.

Dilansir dari CNNindonesia.com (16/03/2020), "Dalam hubungannya dengan virus corona, social distance ini bertujuan untuk menghambat wabah untuk mengurangi kemungkinan infeksi di antara populasi berisiko tinggi. 

Para ahli menggambarkan ini sebagai "perataan kurva," yang umumnya merujuk pada keberhasilan potensial dari langkah-langkah jarak sosial untuk mencegah lonjakan penyakit yang dapat membanjiri sistem perawatan kesehatan". 

Social distance bagus diterapkan dalam pengendalian perilaku publik. Namun perilaku individu untuk sadar dan menerapkan social distance lebih penting lagi. Secara  individu, seseorang dianjurkan untuk mengurangi aktifitas di luar rumah. 

Bekerja dari rumah, sekolah dari rumah. Hal ini bukan lah egoisme atau tingkah pola lebay. Ini merupakan satu gerakan bersama untuk mencegah penyebaran virus corona. 

Mengingat virus corona merupakan jenis virus yang tergolong baru dan banyak hal yang belum diketahui tentangnya. Namun, yang pasti virus ini menyebar dengan sangat cepat dan kita tidak tahu kemungkinan terburuk selain kematian akibat virus ini.

Merujuk dari sejarahnya khususnya dari pandemi influenza di Spanyol pada 1918, langkah ini dianggap berhasil. Sebuah studi dari PNAS 2007 menemukan bahwa kota-kota yang mengerahkan banyak intervensi pada fase awal pandemi - seperti menutup sekolah dan melarang pertemuan publik - memiliki tingkat kematian yang secara signifikan lebih rendah. 

Ahli epidemiologi UC San Francisco Jeff Martin mengungkapkan bahwa Banyak faktor yang berkontribusi terhadap apa yang disebut jumlah reproduksi virus corona baru, yang menggambarkan secara kasar berapa banyak orang yang terinfeksi yang akan terinfeksi. 

Saat ini, perkiraan jumlah reproduksi dari coronavirus baru berkisar antara 1,4 hingga 6,5, dengan rata-rata 3,3.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun