Mohon tunggu...
Uut63
Uut63 Mohon Tunggu... Dosen - Pendidik UPGRIS

Sebagai seorang pendidik (sejak 1981), saya selalu ingin meningkatkan kualitas diri. terutama sebagai pribadi Muslim, saya sangat interest dengan berbagai ajaran yang mengajak ke jalan kebaikan, dan keselamatan dunia akherat. Di setiap tatap muka dengan mahasiswa, saya juga selalu mengingatkan akan hal ini. Di usia yang tidak lagi muda, saya ingin selalu bisa menebar kebaikan. Mudah-mudahan tidak saja bermanfaat untuk diri saya sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Saat ini, saya sedang ingin membuktikan talenta pemberian Allah yang tidak saya sadari. Membaca, menyimak (mendengarkan dan memcermati), kemudian menuliskannya. Sesekali saya masih suka bergabung dengan teman, sahabat untuk menyanyi. Sembari menunggu anugerah Allah untuk bisa segera menuntaskan studi S3, saya ingin melakukan apa saja hal-hal yang bermanfaat. Setidaknya ini merupakan salah satu bentuk syukur pada-Nya. Semoga Allah ridla.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Malam Imlek

22 Januari 2023   23:36 Diperbarui: 22 Januari 2023   23:43 84
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Assalamu'alaikum.

Selamat malam Sobat Kompasiana, 

Hari ini adalah Hari Raya bagi saudara kita dari Etnis Tionghoa. Kata orang tua-tua jika Hari Raya Imlek tidak hujan, saudara kita itu bersedih. Apa iya? Ketika saya tanyakan mereka menjawab tidak tahu. Mungkin saya yang salah, seharusnya saya bertanya pada Mak co atau Engkong, sehingga bisa menjelaskan. Baiklah, mungkin saya akan bertanya pada mereka jika ada kesempatan baik bertemu mereka nanti. Dan pasti saya kabarkan di sini.

Berbeda dengan suasana Malam Natal, yang terlihat berbondong-bondong orang berombongan maupun dalam kelompok kecil bahkan ada yang sorangan, mendatangi Gereja. Mereka melakukan peribadatan sesuai dengan jadwal Misa yang dilaksanakan secara bergelombang. Lonceng Gereja juga berdentang.  Keriangan nampak di wajah mereka yang datang dalam balutan busana indah, laiknya anak-anak  kecil pada masa kecil saya, yang  sampai memamerkan berapa jumalah baju barunya. Baju baru identik dengan Hari Raya, karena memang berbeda rasanya mengenakan baju baru di Hari Raya dengan di hari-hari biasa. Mungkin dipengaruhi oleh suasana ya. 

Di malam cerah berbintang ini, yang nampak meriah justru di tengah kota, terutama di Kota Lama. Sepanjang jalan Let.Jen Suprapto, Lampion Merah dengan ukiran huruf Kanji berwarna Kuning Emas berderet menambah semarak dan kemeriahan area yang memang dipenuhi bangunan kuno peninggalan Belanda. Warna Kuning lampu semakin menambah kesan ceria. Tetapi anehnya saya tidak melihat satupun orang dari Etnis yang merayakan Imlek ada di sana. 

Kota Lama hanya selalu dijejali anak-anak muda yang memang sedang masanya suka berhura-hura tanpa tujuan jelas. Mereka bergerombol di semua area, sebagian berada di dalam ruang-ruang di dalam Rumah-rumah Kuno yang memang kini dibuka untuk bisnis. Pada umumnya adalah cafe dengan berbagai tampilan yang menyihir anak-anak muda untuk sekedar mampir, duduk dan minum sesruputan Kopi, atau yang berlama-lama di sana dalam perbincangan komunitas. Ada beberapa saja orang paruh baya dan orang tua yang tanpa segan atau malu berfoto selfy. Ah...seperti anak muda saja orang-orang tua itu. Banyak pula di antaranya yang berjalan-jalan menikmati udara semribit Kota lama. Tampaknya merek dari Luar Kota. ini terlihat dari cara berpakaian dan wajah-wajah lelah. Ya, Kota Lama Semarang nampaknya memang punya daya pikat luar biasa. 

Sebenarnya saya merasakan aneh juga.  Menurut saya suasananya berbeda dari biasanya. Tidak gempita. memang malam ini tak saya lihat ada atraksi di area wisata ini. Padahal biasanya di sudut-sudut ada Saxofon life, ada Music life di Panggung, atau di sudut yang cukup tenang seorang tua memainkan Siter, musik tradisional Jawa dengan suara khas. Kontras dengan Saxophone yang pemainnya berjas, berdasi seakan menampakkan kelasnya, di salah satu sudut Gedung Kuno di tepian jalan, dengan suaranya yang melengking berat meliuk-liuk. Tontonan itu malam ini tidak ada. Terasa sepi, meski manusia tetap menyemut.

Mungkinkah ini ada kaitannya dengan tidak hujan? Seakan tahu kesedihan mereka, para seniman jalan itu bagai lenyap ditelan bumi? Entahlah. Apakah mereka sedang berdoa di rumahnya masing-masing memohon agar Dewa Hujan menurunkan deras airnya? Karena di kuil-kuil atau Klentheng-klentheng juga biasa saja. Hanya tempatnya lebih sumringah dari biasanya, karena biasanya menjelang Imlek Klentheng-klentheng ini berhias. Para Dewa yang dimanifestasikan dengan Patung-patung dimandikan, dibersihkan, mungkin juga diperbaharuhi catnya. 

Udara malam memang berair, tetapi tanda-tanda hujan tak nampak. , kalau begitu biar hujan tidak mengapa, asal tidak terlalu lama. Supaya Saudara kita Etnis Tionghoa bersuka-cita. Sebab yang masih menyimpan tanya.

Selamat malam Sobat, Salam Literasi.Wassalamu'alaikum,.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun