Mohon tunggu...
Y. Edward Horas S.
Y. Edward Horas S. Mohon Tunggu... Penulis - Cerpenis.

Enam buku antologi cerpennya: Rahimku Masih Kosong (terbaru) (guepedia, 2021), Juang (YPTD, 2020), Kucing Kakak (guepedia, 2021), Tiga Rahasia pada Suatu Malam Menjelang Pernikahan (guepedia, 2021), Dua Jempol Kaki di Bawah Gorden (guepedia, 2021), dan Pelajaran Malam Pertama (guepedia, 2021). Satu buku antologi puisi: Coretan Sajak Si Pengarang pada Suatu Masa (guepedia, 2021). Satu buku tip: Praktik Mudah Menulis Cerpen (guepedia, 2021).

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen: Di Bawah Pohon Beringin di Taman Itu (Bagian 3)

25 Agustus 2021   08:36 Diperbarui: 25 Agustus 2021   09:54 147 10 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Cerpen: Di Bawah Pohon Beringin di Taman Itu (Bagian 3)
Ilustrasi sebuah bangku taman di bawah pohon Beringin, sumber: Pixabay.com

Cerpen sebelumnya: Di Bawah Pohon Beringin di Taman Itu (Bagian 2)

Angin dingin menyelusup dari daun ke daun, menyentuh setiapnya, membuatnya saling bergesekan, bersentuhan, menimbulkan irama yang tidak asing bagi sebagian orang yang begitu betah menghabiskan waktu di taman itu. Burung-burung gereja beterbangan dari satu batang ke batang lain, terus bersiul, menciptakan harmoni keindahan alam dalam sahutan.

Bunga Mawar merekah begitu sempurna, menebarkan wangi bersama sejuknya udara di bawah pohon Beringin. Beberapa bunga Anggrek ungu yang sepertinya sengaja ditempel pada batang pohon Beringin yang besar itu, tidak kalah indah mekarnya. Tidak jauh dari situ, berderet bunga-bunga Sepatu merah menyala dengan serangga kecil yang menempel di atasnya, hadir melengkapi cantiknya suasana.

Kau masih saja menggenggam erat tanganku sedari tadi. Meskipun kurasa keringat sudah bermunculan di tangan kita, kau tetap menggenggam. Aku sempat merasakan denyut jantungmu, yang terus saja berdetak cepat, lewat telunjukku yang memang sengaja kusentuhkan pada urat nadimu.

"Kamu kangen ya?"

Kau tidak menjawab. Kau tidak menatapku. Sorot matamu kau lemparkan ke sekeliling, mencoba beralih dari pembicaraanku. Pipimu mendadak berwarna merah.

"Jujur saja, kamu kangen ya?"

Kali ini detak jantungmu semakin cepat. Kau masih tidak menjawab. Kau memang begitu terkadang, malu-malu tetapi mau. Kebiasaan yang sulit kulupa saat ternyata kau marah karena aku tidak membelikanmu es krim, padahal kau sudah memberi isyarat begitu ingin. Sejak saat itu, aku berusaha peka.

"Denish."

Kau mulai berkata. Pelan sekali. Saking pelan, aku sampai harus sedikit menundukkan telinga.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan