Mohon tunggu...
Y. Edward Horas S.
Y. Edward Horas S. Mohon Tunggu... Cerpenis.

Penulis Buku Antologi Cerpen Juang (YPTD, 2020), Kucing Kakak (guepedia, 2021), Tiga Rahasia pada Suatu Malam Menjelang Pernikahan (guepedia, 2021), Dua Jempol Kaki di Bawah Gorden (guepedia, 2021), dan Pelajaran Malam Pertama (guepedia, 2021).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengapa Kita Bisa Tertawa Saat Melihat Orang Menderita?

16 Mei 2021   12:33 Diperbarui: 16 Mei 2021   12:40 127 15 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengapa Kita Bisa Tertawa Saat Melihat Orang Menderita?
Ilustrasi mentertawakan orang, sumber: 2ch.hk

Beberapa lelaki duduk manis di depan televisi. Beragam kudapan tergeletak di lantai. Salah seorang menyalakan televisi. Sekejap terlihat, acara lawak yang mereka sukai, karena sangat menghibur. Salah satu aktor dengan sengaja menaburkan tepung ke wajah aktor lainnya.

Sebagian aktor di sekitarnya tertawa, melihat penderitaan aktor lain itu. Para penonton dalam acara tidak kalah riuh rendah. Beberapa lelaki itu terbahak-bahak.

Pernahkah kita mentertawakan penderitaan orang? Tidak perlu terlalu alim menjawab. Saya pernah. Tanpa saya sadari dan pikir benar, sesekali kelepasan karena satu dua hal.

Semisal, saat berinteraksi dengan teman. Waktu mereka memainkan perilaku bodoh -- tidak wajar dan di luar kebiasaan, sehingga mereka menderita ringan, saya pun lekas tertawa. 

"Orang yang seharusnya saya anggap dapat berpikir dewasa, tahu yang benar dan seyogianya dilakukan, bagaimana bisa melakukan perbuatan bodoh tanpa pikir panjang itu? Jika ia menderita, wajar dong!" gumam saya dalam hati, seraya tertawa kecil.

Penderitaan menjadi bahan tertawaan

Fenomena penderitaan menjadi bahan tertawaan tidak sulit kita temukan. Baik di dunia nyata, maupun dunia maya -- lebih seringnya. Semua yang bermain media sosial gampang menemukan. Apa pun jenis media, ada.

Pasti dengan sengaja, akan diunggah sebuah rekaman peristiwa yang menunjukkan perilaku orang melakukan sesuatu. Kemudian, orang itu menderita akibat perilakunya. Bisa dialami sendiri atau bersama orang di sekitarnya.

Berbagai tanggapan muncul di kolom komentar. Ada yang mempertanyakan rasionalitasnya. Ada yang marah-marah, seharusnya tayangan seperti itu tidak untuk lucu-lucuan.

Ada yang tertawa lepas, riang gembira. Bahkan menautkan akun media sosial temannya, dengan maksud mengajaknya tertawa. Dan seterusnya, sampai memenuhi kolom komentar. Tombol suka ditekan banyak orang. Video itu dalam sekejap viral.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN