Mohon tunggu...
Hara Nirankara
Hara Nirankara Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Buku
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penulis Buku | Digital Creator | Member of Lingkar Kajian Kota Pekalongan -Kadang seperti anak kecil-

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Pethainoun

30 September 2019   00:11 Diperbarui: 30 September 2019   00:18 39
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image by Hara Nirankara

Ada suatu masa di mana ada harapan yang tergambar, melambangkan betapa tulusnya seseorang merindu, melindungi, memberikan segala yang ia punya. Harapan yang tergambar itu semakin nyata, semakin menjadi.

Waktu demi waktu berangsur membaik, windu demi windu semakin memantapkan gelombang suara. Sayangku, ada kalanya kamu harus mengerti, bahwa seseorang yang kamu peluk dan beri, adalah seseorang yang teramat rapuh.

Tak ada yang tersisa selain percaya, tak ada lagi yang bisa membuat hidup selain mata indahmu. Berulang kali hati ini percaya, berulang kali nalar ini mengamini. Tetapi niscayalah Tuhan yang mampu membolak-balikkan hati serta perasaan. Sesuatu yang terpampang nyata itu semakin menjauh. Aku dekati lagi, semakin menjauh. Aku pastikan lagi, malah semakin lari hingga akhirnya benar-benar hilang.

Aku melihat ada yang menundukkan pandangan, berdiam diri tak berkutik sedikit pun. Hujan dan badai, petir dan topan. Semua kalah akan sesuatu yang tengah diam itu. Basah. Basah sudah sekujur tubuh. Mengigil badan dengan kedua tangan yang menadah, berdo'a apakah memang sudah jalan Tuhan yang harus ia jalani. Merana karena sendiri, gelisah tiada kawan. Tersenyum pun jarang, apalagi tertawa. Tak ada yang bisa memprediksi sebuah kehancuran, di mana sayatan-sayatan tajam nan dalam itu semakin membuat sebuah bibir terisak.

Lembut badai menyongsong angan, getir pilu takdir Tuhan menyapa. Aku sendiri tidak mengerti, beginikah jalan yang harus ia hadapi, sendirian, dan berulang kali banyaknya. Kiranya Tuhan mampu mendengar, pastilah cahaya kasih akan datang secepat kilat. Menyentuh, memeluk, serta menguatkan.

Tapi orang itu masih saja diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan hatinya telah mati, hingga berdo'a dirasa percuma. Tak ada sesuatu yang sanggup menolong, tak ada sesuatu yang dapat menyelamatkan.

Selangkah aku memberanikan diri, mendekati sosok yang sewaktu-waktu dapat menerkamku. Selangkah lagi aku semakin mendekat. Beberapa langkah lagi hingga aku mendengar sebuah suara. Suara nafas yang terengah-engah, suara kehancuran yang tak mampu terdeskirpsi. "Menangislah. Kau pantas untuk menangis. Murkalah. Kau punya kuasa untuk murka."

Tapi sosok itu masih saja diam, membisu seribu bahasa, membisu berabad-abad lamanya. Mata indah itu terpejam, bibir mungil itu tertutup rapat. Gambaran seseorang yang terluka begitu hebat, hingga hampir saja aku menangis dibuatnya. Aku pandangi sosok yang merana itu, terus aku pandangi hingga akhirnya ia balik memandangiku.

Ketika kedua matanya terbuka, sorot tajam dari keindahan itu seolah menusk jantungku. Sorotan mata yang semakin tajam, bibir yang semakin merapat, nafas yang semakin sesak.

Air matanya jatuh bebarengan dengan gerimis yang setia menemani. Aku masih menunggu. Menunggu sepatah kata terucap dari bibirnya yang menawan. Masih menunggu. Menunggu hingga ia memberanikan diri untuk bercerita. Tapi seratus tahun aku menunggu, rasanya dia tak akan kunjung berbicara.

"Kawanku, luapkan saja segala emosimu. Tak ada gunanya kamu menahan semua itu sendirian. Pukullah aku. Pukul aku sepuas yang kamu mau." Tapi sosok ini begitu keras kepala, teramat menjengkelkan hingga hampir menyerah aku dibuatnya. Aku memandangi langit yang sama, aku merasakan dingin yang sama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun