Mohon tunggu...
Hizkia RonaldusSilalahi
Hizkia RonaldusSilalahi Mohon Tunggu... Tidak ada perjuangan yang sia-sia, maka tetap lah lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan

Tidak ada perjuangan yang sia-sia, maka tetap lah lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Cerpen | Perpustakaan di Kampung Halaman

20 Mei 2019   23:36 Diperbarui: 20 Mei 2019   23:44 0 1 0 Mohon Tunggu...
Cerpen | Perpustakaan di Kampung Halaman
Dok. Pribadi

Bunyi dering telepon membangunkan seorang pemuda yang bernama Ronald dari tidurnya dan ternyata itu adalah telepon dari mama-nya.Ronald: Hallo mam

Mama: baru bangun ya?...
Ronald: iya mam, ada apa mam?...
Mama: bisa tidak pulang hari ini?.... Mau jualan besok, kasian Abang ipar mu, tidak ada yang membantuin jualan.
Ronald: aduh... Harus kalikah aku pulang, malas kali loh mam
Mama: tolonglah bantu, kan kau tidak kerja lagi, dari pada disana mau ngapain.
Ronald: iya lah mam, pulang pun aku (dengan suara yang agak lesuh dan merajuk)

Ronald sebelumnya adalah seorang guru yang dikeluarkan dari sekolah, karena belum mendapatkan kerja maka Ronald aktif dalam suatu kegiatan organisasi mahasiswa. Ronald adalah salah satu mahasiswa yang aktif dalam organisasi mahasiswa dalam mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah dan juga sering melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti pengabdian masyarakat ke desa-desa.

Siangnya maka Ronald pulang ke rumahnya atas permintaan mamanya waktu itu keberangkatannya tidak sepenuhnya hatinya.
Sesampainya Ronald dirumah, Ronald melihat kondisi yang dulunya adalah warung orang tuanya, kini sudah berdebu dan menjadi sarang bagi laba-laba.
Kondisinya tidak terawat karena bertahun-tahun tidak pernah lagi dibersihkan bahkan tidak pernah ada yang masuk kedalam.

Maka dengan refleks Ronald membersihkan bekas warung itu, barang-barang sisa jualan dulunya di pindahkan dan dirapikan di tempat lain. Debu yang berterbangan membuat Ronald menjadi harus menggunakan masker untuk membersihkannya

Ketika semuanya sudah bersih, sejenak Ronald duduk istirahat sambil melihat warung yang dulunya jaya dimasa saat ayahnya masih hidup. Pandangan Ronald tertuju pada suatu rak tembak pemajangan barang-barang jualan dulunya. Ronald terbayang akan suatu rak buku.

"Cocok sepertinya disini kalau dijadikan rak buku"
Maka Ronald mengumpulkan semua buku yang ada dirumah, mulai dari buku pelajaran, komik, hingga buku-buku bacaan mamanya. Semua disatukannya dan disusunnya.

Mamanya pun kaget melihat ruang bekas warung yang sebelumnya masuk saja malas, kini sudah bersih.

Mama: wah... Sudah bersih ya (tersenyum)
Ronald: iya mam, tadinya hanya mau membersihkan saja karena kotor sekali aku lihat (sambil menghapus keringat diwajahnya)
Mama: lalu itu buku mau diapain?
Ronald: mau aku buat menjadi rak buku mam, dan sekalian kalau bisa ini akan menjadi perpustakaan mini di kampung ini mam (tersenyum kecil)
Mama: (sambil tertawa) siapalah mau baca buku kesini nak ku.

Ronald seperti tetap ingin membuat perpustakaan mini, walau disindir oleh mamanya. Ronald tetap merapikan rak buku yang telah disusun oleh buku-buku.
Ronald juga mengaliri listrik dan Lampu untuk menerangi ruangan tersebut.
Di sudut dekat pintu dewa, diletakkan sebuah meja dan kursi untuk siapa yang nantinya ingin membaca buku di perpustakaannya.

Melihat semangat dari Ronald yang ingin membuat suatu perpustakaan dirumahnya, maka mamanya membawa beberapa buku dari sekolah tempat mamanya mengajar (mamanya Ronald adalah seorang guru di SD negeri di kampungnya).

Mama: ini ada buku dari sekolah
Ronald: (tersenyum), wah... Ternyata mama ku mendukung
Mama: ya iya lah, masa demi kebaikan tidak di dukung
Ronald: terimakasih mama sayang (sambil mencium mamanya)

Ronald pun semakin semangat untuk menjadi bekas warung tersebut menjadi perpustakaan yang dapat membantu meningkatkan minat baca di kampungnya. Ronald juga berencana ingin membuat rumah belajar bagi anak-anak yang ada disana.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x