HIMIESPA FEB UGM
HIMIESPA FEB UGM

Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMIESPA) merupakan organisasi formal mahasiswa ilmu ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada DI Yogyakarta.

Selanjutnya

Tutup

Finansial

Pelemahan atau Krisis Rupiah? Refleksi 20 Tahun Pascakrisis Finansial Asia

14 September 2018   15:37 Diperbarui: 15 September 2018   12:15 716 1 0
Pelemahan atau Krisis Rupiah? Refleksi 20 Tahun Pascakrisis Finansial Asia
Oleh: Muhammad Faisal Abda'oe, Ilmu Ekonomi 2016, Wakil Kepala Departemen Kajian dan Penelitian Himiespa FEB UGM 2018

Oleh: Muhammad Faisal Abda'oe, Ilmu Ekonomi 2016, Wakil Kepala Departemen Kajian dan Penelitian Himiespa FEB UGM 2018

Bersama dengan dituliskannya artikel ini, isu perihal pelemahan rupiah yang memiliki multitafsir terkait penyebab dan asal-muasalnya terus bermunculan baik di sosial media maupun berita-berita nasional. Penulis sempat bersikap acuh dan tidak memiliki keterkaitan serius dikarenakan dipertemukan dengan berbagai kendala khususnya waktu dan kesibukan. Hingga pada akhirnya penulis memiliki titik puncak akan kejenuhan dan muak melihat berbagai simpang-siur terkait opini pelemahan rupiah yang tidak memiliki dasar (teori).

Artikel ini penulis kemas dengan struktur komprehensif dan informatif. Penulis juga menyertakan beberapa referensi terkait teori-teori dan istilah-istilah yang tidak dijelaskan secara tuntas untuk mempersingkat alur penjelasan artikel ini.

Krisis dan Pelemahan Rupiah

Dimulai dengan memahami krisis dan pelemahan rupiah, penulis mencoba untuk menyadarkan pembaca bahwa kedua terminologi tersebut memiliki arah yang cenderung sama, namun, dengan pengertian yang berbeda.

Mengutip dari kamus Cambridge[1], krisis diartikan sebagai suatu ketika (waktu) dimana terjadi ketidaksepahaman, kebingungan, atau penderitaan yang sangat hebat (besar). Pengertian kedua ialah sebuah titik situasi dimana terjadi keadaan yang sangat menyulitkan (berbahaya) secara ekstrim. Jika kita mengacu pada konteks ekonomi, krisis bisa diartikan sebagai perubahan drastis situasi perekonomian yang menyebabkan kesulitan (kegagalan) ekonomi dalam waktu yang singkat (secara tiba-tiba).

Dengan sekilas melihat pengertian tersebut, kita bisa langsung membandingkan pelemahan rupiah yang terjadi pada tahun 1998 dan tahun 2008 dengan pelemahan rupiah yang terjadi pada tahun 2018. Gambar 1 memperlihatkan pelemahan rupiah yang terjadi dalam waktu singkat pada tahun 2008 dan 1998.

Sumber: Bank Indonesia (2018)
Sumber: Bank Indonesia (2018)
Namun jika kita bandingkan dengan pelemahan rupiah pada tahun 2018, dapat kita perhatikan bahwa sebenarnya pelemahan rupiah sudah terjadi sejak tahun 2016. Kita perlu mencermati bahwa rupiah melemah secara bertahap dan tidak terjadi dalam waktu yang singkat.

Sumber: Bank Indonesia (2018)
Sumber: Bank Indonesia (2018)

Hal yang membedakan baik pada pelemahan rupiah tahun 1998 dan 2009 dengan pelemahan rupiah pada tahun 2018 adalah kurun waktu terjadinya pelemahan. Hal tersebut sebenarnya bisa dianalisis dengan konsep ekonomi makro, yakni mengacu pada kondisi fundamental perekonomian. 

Dengan berkaca dari kedua gambar tersebut dengan kaitannya terhadap definisi "krisis", dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa pelemahan rupiah tahun 1998 dan 2009 merupakan sebuah krisis. Rupiah memang benar mengalami pelemahan yang hampir mencapai titik terendahnya pada tahun 2018. Namun secara definisi, rupiah belum tentu (dan jangan sampai) mengalami krisis. 

Refleksi Teoretis: Penyebab Terjadinya Pelemahan Rupiah

Untuk dapat menganalisis sebab terjadinya pelemahan rupiah, penulis akan mengajak pembaca untuk sedikit kembali ke dalam tataran teoretis. Bahasa yang digunakan mungkin akan sedikit terkesan akademis. Namun, penulis akan mencoba untuk menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami khususnya bagi pembaca awam.

 Penulis menggunakan dua teori utama sebagai landasan mengkaji sebab-sebab pelemahan nilai tukar, yakni Interest-parity Equilibriumdan Money Market Equilibrium[3].

Interest-Parity Equilibrium[5]

Teori ini menyatakan bahwa keseimbangan (kesamaan) tingkat pengembalian suku bunga suatu aset antar dua negara ditentukan oleh dua hal, yakni tingkat suku bunga dan nilai tukar kedua negara tersebut. 

Sumber: Mishkin (2010)
Sumber: Mishkin (2010)
Dengan melakukan subtitusi sederhana, maka didapatkan

Sumber: Mishkin (2010)
Sumber: Mishkin (2010)
Keseimbangan dari model tersebut terbentuk dengan gambar sebagai berikut

Sumber: Mishkin (2010)
Sumber: Mishkin (2010)
 

Money-Market Equilibrium[5]

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4