Mohon tunggu...
Albert Purba
Albert Purba Mohon Tunggu... Pemuka Agama - Ad Majorem Dei Gloriam

Membahasakan pikiran dengan kata dan aksara

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menengok Cara Kota Herford Membangun Kesejahteraan Anak Melalui Budaya Literasi

23 Maret 2021   01:43 Diperbarui: 23 Maret 2021   23:10 1321
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak membaca buku cerita (Sumber: Unsplash/Josh)

Di musim panas, di bawah kapal ini ada kolam di mana anak-anak bisa bermain air atau mencebur sepuasnya. 

Saya melihat ini sebagasi sebuah desain tata ruang wilayah yang cerdik karena bagaimana pun orang-orangtua akan membawa anak ke taman bermain dan tentu saja melirik ke perpustakaan.

(Sumber foto: Surat Kabar Neue Westfaelische)
(Sumber foto: Surat Kabar Neue Westfaelische)
Di perpustakaan sendiri disediakan tempat membaca yang santai, sebelum Covid-19 datang, orang-orang bisa membaca sambil tiduran di dalamnya. 

Selain buku-buku, ada juga alat-alat permainan, mulai dari kartu sampai permainan Lego yang membangun imajinasi anak. Semua ini untuk dipinjamkan. Untuk buku jangka waktu peminjaman adalah sebulan, sedangkan mainan hanya bisa dipinjam selama seminggu. 

Dalam rangka menambah daya tariknya, perpustakaan juga menyediakan CD atau DVD film dan lagu yang bisa dipinjam pengunjung. Ini tentu saja menjadi sebuah daya tarik bagi siapa pun, terutama anak atau orangtua yang berpenghasilan rendah.

Lantai dasar dari gedung bertingkat empat ini, disediakan khusus untuk memajang buku-buku cerita anak, mulai dari usia batita sampai remaja. 90 % dari isi ruangan ini berisi buku cerita dan dongeng anak baik dari masa lalu sampai yang mutakhir; mulai dari Fabel Aesoph, karya-karya Grimm Bersaudara, Hans Christian Anderson sampai Donal Bebek atau Tintin dan masih banyak lagi. 

Dengan kata lain, anak-anak disuguhi dengan dongeng atau kisah-kisah fantasi yang menumbuhkan minat baca dan juga mengembangkan daya kreatif mereka. 

Dengan cara ini pula masyarakat di sini memperkenalkan ilmu, nilai-nilai hidup serta dunia fantasi kepada anak sedini mungkin. Sekali lagi saya melihat fakta ini sebagai sebuah cara cerdik dan jitu mendidik anak.

Masih di lantai yang sama buku-buku baru dipajang supaya pengunjung tahu apa yang dimiliki perpustakaan. Tema pemajangan buku juga disesuakan menurut musim, jadi akan berbeda buku yang dipajang di saat musim semi atau musim panas. 

Singkatnya, perpustakaan hadir dengan pelayanan yang sangat memudahkan atau memanjakan penduduk kota. Apalagi khusus untuk anak sampai usia 18 tahun, tidak dipungut bayaran apa pun kecuali saat pendaftaran dan bila buku yang dipinjam terlambat dikembalikan. 

Proses pembuatan kartu baru sama sekali jauh dari kesan birokratis dan rumit. Tidak perlu diberikan pas foto. Cukup isi formulir sesuai identitas anak yang ditandatangani orangtua, maka pada saat itu juga kartu bisa langsung diterima dan bisa segera meminjam buku atau fasilitas yang disediakan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun