Henggar Prasetyo
Henggar Prasetyo Reviewer

Berupaya untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bukan dimanfaatkan.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Aduhai Bahagia Apabila Akhirnya, Bahagiamu lah Mauku

14 Februari 2018   08:38 Diperbarui: 14 Februari 2018   09:10 262 0 0
Aduhai Bahagia Apabila Akhirnya, Bahagiamu lah Mauku
sumber ilustrasi: https://lifestyle.pikiran-rakyat.com

Lumrah dalam kehidupan mengalami kekecewaan, karena harapan tidak selalu dapat diwujudkan. Namun, puas atau tidak puas itu bisa kita upayakan dengan mengambil langkah dan usaha yang maksimal.

Asmara adalah kisah yang tidak ada habisnya dan pada umumnya menjadi bagian dari masa remaja. Dan saat ini di tahun ini awal tahun 2018, tidak sedikit orang yang dibuat takjub dengan kehadiran sosok dilan di layar bioskop. Ya, Dilan merupakan cerita dari kehidupan anak remaja kebetulan usia SMA.

Kisah ini menjadi menarik karena usia remaja dan waktu SMA merupakan usia dimana seseorang merasakan kebebasan. Orang tua mulai memberikan tanggung jawab kepada anak masing-masing dan yang terpenting seseorang di usia ini sudah rasional dalam berfikir, meskipun lebih banyak diisi oleh imajinasi yang terkadang melawan logika yang kita anggap benar atau salah menurut kacamata aturan atau kebiasaan yang berlaku.

Bolos, nyontek, perkelahian, menilap uang buku/ sekolah seolah menjadi pembenaran atas kehidupan mereka. Tentu setiap dari kita pernah mengalami setidaknya beberapa hal tersebut, tetapi saya percaya bahwa ada seseorang yang tidak melakukan hal tersebut. Hahaha, seperti itulah hidup.

Nah, situasi remaja tersebut dalam kondisi bebas seolah mendapat bumbu penyedap tiada tara yang hanya ada satu di dunia itu adalah cinta, seringkali seseorang mengalami cinta pertama disini. Nah, terkait dengan DILAN yang diawal sudah saya sebut, ini adalah salah satu figur dalam karya sastra Pidi Baiq, seorang remaja pria yang memiliki kekuatan kata-kata untuk luluhkan hati Milea Adnan Husein, yang kebetulan memang direpresentasikan manis dalam film Dilan 1990. 

Tetapi bukan cantiknya yang perlu di nikmati, tetapi indahnya proses PDKT. Ya setidaknya kalau ada yang bilang masa PDKT lebih indah dari pada masa pacaran, jika dilihat dari trilogi novel Dilan Milea itu ada benarnya. Tetapi apakah benar mutlak, tentu tidak itu adalah terkait bagaimana hubungan dapat dibuat dinamis. Kisah Habibi Aiunun adalah saksi tentang indahnya cinta sepanjang masa yang terikat dalam jalinan pernikahan.

Dilan adalah cara penulis mengungkapkan sesuatu yang jadi bagian hidup dari kebanyakan dari kita. Di SMA diantara kita pasti pernah PDKT, pernah pacaran, dan pernah gagal bercinta. Alur cerita itu nampak wajar dan umum tidak ada yang istimewa, dan kata-kata Dilan yang seolah syahdu itu adalah bagian dari hati kita hanya saja kita tidak pernah mengeluarkan, itu terbukti dari perasaan anda yang hanyut, itu mendatakan ada kontak kata-kata dengan hati anda, dimana kata-kata yang syahdu itu ada dalam hati/ diri anda.

Dilan adalah anda, anda yang pernah merasakan. Anda boleh saja menjadi Dilan, tidak ada yang melarang. Bahkan pidi Baiq tidak melarang anda adalah Dilan, Dilan adalah representasi dari kisah remaja dan itu anda. Jadi sekali lagi Dilan yang sesungguhnya adalah anda yang merasa bahwa anda dilan.

...

Setelah hari ini, ku tahu engkau ...

Dan lalu ini aku, hanya menunggu , dimana kamu, yang aku mau, besok bertemu, yang aku mau ... @Pidi Baiq


Beruntunglah saudara yang pernah mengalami kisah seperti Dilan, itulah kisah ideal percintaan segala jaman. Jika tidak mengalami juga tidak perlu kecewa, karena hidup ini adalah In Harmoni Progesio, tetap tempa diri karena hari baik selalu ada. Dan hal indah tak melulu cinta remaja.

Ya, cerita dilan cukup sahdu. Tetapi boleh saja dan ada baiknya kita benci Dilan. 

Sekali lagi seperti plot cerita pada umumnya akhir dari kisah remaja adalah pertengkaran, hal ini memperlihatkan bahwa antara idealisme dan cinta tidak bisa di harmonikan, ini tentu buruk. cinta cinta melulu.

Tanggung jawab adalah hal yang tidak ada dalam penyebab kerusakan hubungan itu, semua indah bebas tanpa beban, jauh dari kehidupan yang rasional. Hukum kasualitas dikesampingkan begitu saja, itulah alasan ada orang bilang "cinta tidak ada logika".

Dan sebagai penutup, kesedihan adalah hal yang tidak bisa ditampikan, dari seluruh cerita dilan memang itu buruk dan pantas dibenci. Namun, ketika masuk ke bagian ketiga. Disitu lah arti kebahagian yang sesungguhnya, ketika seseorang yang kita cintai sudah tidak ada dalam pelukan, disitu baru muncul rindu. Tetapi apa dikata, itu sudah sangat sulit untuk dirajut kembali.

Kedewasaan adalah ending dari kisah ini. Dilan pantas di benci, dan Pidi Baiq adalah sosok sastrawan yang patut diambil contoh dalam hal kedewasaan.

Judul yang diambil dari review fiksi ini adalah lirik ciptaan pidi baiq:

Bahagiamu adalah Bahagiaku, dimanapun orang berada seseorang terhubung melihat langit yang sama, matahari yang sama. Kenangan itu tidak akan luntur selama masih ada di dunia. Kegagalan dan kesedihan setidaknya kisah-kisah yang dulu menyisakan kebahagian bahwa kita pernah mengalaminya, ya kita tidak tahu akhir karena kita kita hanya alami sehingga kita pantas bahagia dengan kisah tersebut.

Jadi bahagia itu tidak selalu bahagia, dan kesedihan tidak selalu kesedihan. Itulah kehidupan.