Mohon tunggu...
Hendra Fokker
Hendra Fokker Mohon Tunggu... Guru - Pegiat Sosial

Buruh Kognitif yang suka jalan-jalan sambil mendongeng tentang sejarah dan budaya untuk anak-anak di jalanan dan pedalaman. Itu Saja.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Membaca Cita-cita Merdeka 100 Persen Tan Malaka

2 Juni 2022   23:34 Diperbarui: 3 Juni 2022   08:30 1190 45 241
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Makam Tan Malaka di Selopanggung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Foto: KOMPAS.com/M.Agus Fauzul Hakim

Tepat 125 tahun berlalu, kelahiran dari seorang pejuang kemerdekaan yang kini nyaris terlupakan. Ia adalah Tan Malaka, seorang revolusioneris yang lekat dengan stigmatisasi "gerakan kiri" di Indonesia. Walau banyak terjadi perdebatan mengenai eksistensinya dalam panggung sejarah "gerakan kiri" tersebut. Dengan berbagai kontroversi-kontroversi yang justru mengidentifikasikan posisinya dalam visi seorang nasionalis yang revolusioner.

Identifikasi "gerakan kiri" memang lekat dengan eksistensi dari gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI), dengan berbagai aksi-aksi pemberontakannya. Tetapi, berbagai catatan sejarah justru berkata kontra wacana, Tan Malaka justru menjadi salah satu tokoh yang menjadi musuh dari eksistensi Komunis Internasional selama kurun waktu 1923 hingga 1948, sejak ia diasingkan ke Belanda.

Selama masa pengasingan inilah, eksistensi Tan Malaka dalam mengkampanyekan kemerdekaan Indonesia semakin luas dikenal. Dimana seketika itu ia mampu menjelma menjadi tokoh gerakan revolusioner internasional ketika usianya baru 25 tahun. Ialah satu-satu tokoh yang berani menyuarakan ide persatuan antar golongan didepan Stalin dalam suatu momen rapat tokoh komunis internasional di Soviet pada 1922.

Walau usai menyuarakan ide persatuan tersebut, ia dianggap sebagai seorang tokoh pengikut Trotsky, yang telah membelot dari ajaran mutlak mengenai komunisme. Ide persatuan yang dimaksud adalah, persatuan dengan para pejuang berhaluan Pan Islamisme dalam tujuan menentang kolonialisme di berbagai belahan dunia. Jadi, ia bukan sekedar menjadi buronan polisi-polisi kolonial, melainkan juga kaum komunis internasional, yang menentang ide perjuangannya.

Semua itu dibuktikan dengan tidak memberi dukungan kepada pemberontakan PKI yang terjadi pada tahun 1926 di Indonesia. Karena ia beranggapan bahwa sikap memberontak justru dapat menghancurkan upaya-upaya persatuan yang tengah dibangun, demi kemerdekaan Indonesia. Selain dari minimnya kekuatan bersenjata yang dimiliki para pejuang kala itu (Harry A. Poeze).

Dokpri. Tan Malaka dalam berbagai literasi
Dokpri. Tan Malaka dalam berbagai literasi

Terlepas dari intrik antar tokoh revolusioner kiri tersebut, lagi-lagi pada tahun 1948, ia menyatakan pertentangannya terhadap aksi pemberontakan Musso di Madiun. Hal ini dibuktikan dengan sikapnya bersama milisi Barisan Banteng, yang memiliki rantai komando dengan Tan Malaka usai terbunuhnya dr. Moewardi oleh pasukan PKI-Musso. Bersama dengan pasukan Siliwangi, ia dengan Barisan Banteng bekerjasama untuk menghabisi pasukan Musso beserta para pengikutnya.

Sebuah kronik sejarah yang unik dan menarik tentunya, bila kita membahas mengenai Tan Malaka ini. Bagaimana seorang tokoh komunis internasional bisa bersinggungan dalam pandangan perjuangan. Dimana seperti kita ketahui, bahwa Tan Malaka ini tercatat sebagai seorang Pahlawan Nasional yang diakui perjuangannya sejak era Bung Karno. Karena rumusan mengani Republik Indonesia pertama kali ia gagas ketika dalam pelariannya di Canton, China pada tahun 1925.

Jadi kira-kira 20 tahun sebelum Indonesia merdeka, gagasan mengenai konsep Republik telah ia rumuskan. Oleh karena hal itu, Bung Karno sangat menghormati perjuangan Tan Malaka. Walau pada akhirnya, ia sendiri gugur oleh pasukan Republik yang tidak menghendaki eksistensi politiknya di Indonesia (Yunior Hafidh Hery).

Semua itu adalah konsekuensi perjuangan bagi dirinya, yang ia tekankan sendiri sebagai idealisme seorang pejuang. Hal ini diungkapkan oleh Matu Mona dalam novel Pacar Merah yang terbit pada tahun 2010. Karena ia lebih memilih untuk melajang, hanya demi perjuangannya diberbagai belahan dunia. Walau dalam beberapa referensi sejarah disebutkan bahwa Tan Malaka pernah menjalin komunikasi dengan seorang perempuan bernama Syarifah Nawawi sewaktu sekolah di Keekschool, Bukittinggi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan