Mohon tunggu...
hendra setiawan
hendra setiawan Mohon Tunggu... Freelancer - Pembelajar Kehidupan. Penyuka Keindahan (Alam dan Ciptaan).

Merekam keindahan untuk kenangan. Menuliskan harapan buat warisan. Membingkai peristiwa untuk menemukan makna. VERBA VOLANT, SCRIPTA MANENT.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Paskah Dini Hari, Tradisi yang Hilang (1/2)

4 April 2021   16:00 Diperbarui: 4 April 2021   16:06 425
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Salah satu adegan dalam teatrikal

Paskah dini hari. Ya, begitulah salah satu tradisi perayaan Paskah yang digelar oleh umat kristiani. Berkumpul bersama di dalam gedung gereja, atau mengambil tempat di tanah lapang, atau di tempat lain yang telah ditentukan.

Waktunya dini hari? Iya, benar. Ini dilakukan agar suasana yang tergambar dalam Kitab Suci juga bisa dirasakan. "Pagi-pagi benar, murid Yesus pergi berangkat ke kubur Yesus."

Narasi itulah yang hendak dirasakan pula oleh umat tatkala ingin merayakan Paskah. Tetapi di masa pandemi ini, sepertinya tradisi seperti ini sudah tak bisa lagi dijalankan sepenuhnya. Atau, kalaupun memungkinkan, daerahnya masuk zona hijau . Atau dengan tetap mematuhi Protokol Kesehatan amat ketat. Tapi, sepertinya kecil kemungkinan ini. Jadi, hanya kenangan yang pernah dialami, yang masih bisa membekas di hati.

Bagaimana prosesi perayaan menyambut Paskah di desa dan di kota terhadap perayaan Paskah dini hari ini? Dua pengalaman yang pernah saya ikuti ini biarlah menjadi momen kenangan yang layak untuk tetap diingat.

Paskah di Desa

Hari itu (23 Maret 2008), masih cukup pagi benar. Waktu masih menunjukkan pukul 03.20 WIB. Tapi, bunyi lonceng gereja yang bertalu-talu memecah kesunyian. Bunyi teng ... teng ... teng ... begitu membahana. Bagai sebuah deklarasi, "Cepatlah bergegas, karena pada hari ini Gusti sampun wungu. Nggih, saestu, Gusti sampun wungu (Tuhan sudah bangkit. Benar, sungguh! Tuhan sudah bangkit )."

Dan, memang benarlah demikian. Tak lama kemudian, satu demi satu warga Pasamuwan (Jemaat) dari GKJW (Greja Kristen Jawi Wetan) Bongsorejo, Jombang pun berdatangan. Sebagian besar mereka datang secara bersama-sama.

Tarian oncor (obor) yang dibawa anak-anak, dalam gelapnya pagi menaburkan nuansa yang sedikit berbeda. Meski tak terlihat akbar (tak sampai ratusan), tapi panggilan ibadah pada pagi-pagi benar ini tetap menjadi sebuah keistimewaan tersendiri.

Selain yang pasti dengan acara ibadah bersama, rangkaian Paskah hari itu juga diisi dengan kegiatan mencari telor bersama, khususnya bagi anak-anak. Telor ini adalah simbol kehidupan dari kematian. Dari sebutir telor yang mati, bisa melahirkan anak ayam yang baru. Demikian juga memaknai Paskah. Yesus memang pernah wafat di hari Jumat, tapi di hari Minggu, Dia bangkit kembali. Menuntaskan misa karya penyelamatan dan penebusan dosa.

Sebelum puncak kegiatan bersama ini, aktivitas lain yang digelar panitia antara lain adalah aksi sosial dengan mengunjungi orang sakit dan para lansia. Mereka yang kondisi fisiknya tak memungkinkan lagi datang ke gereja. Perhatian kepada manusia-nya, bukan cuma sekadar memberi bantuan secara fisik.

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun