.hend
.hend

Novel AL terbit tiap hari Senin | Contact : 081211956065

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bab 1: 7 Jam Sebelum Senja

7 Juni 2018   13:55 Diperbarui: 7 Juni 2018   14:01 493 0 0

Matahari berangsur bergerak pelan menuju barat. Suhu yang hangat sekaligus bersahabat bagi mereka yang masih berkeinginan bermain atau sekedar menghabiskan waktu. Terlebih menikmati momen summer ditengah padang sabana seluas 5 hektar.

Tampak sepanjang mata memandang kearah timur nagari Cheduge, sekelompok anak, pemuda, dewasa dan juga orang tua ikut tumpah ruah di sabana Elea. Sabana yang menurut penduduk nagari Cheduge menjadi saksi mata perang suci ke-3, perang kemenangan bangsa AL untuk kali pertama. Sabana dimana tanahnya disuburkan oleh darah ksatria, dicukupkan paparan sinar matahari dari Tuhan.

"Ayolah, kemarilah ikut berlomba denganku dan Choco!" ajak Pepe kearah Saga.

Pepe. Gift Master AL, remaja tanggung 15 tahun, berperawakan gemuk, berkulit nyaris hitam kelam, berambut gimbal.

Choco. AL berjenis Tikus. Entah mengapa disebut Choco. Mungkin jika Pepe kelaparan. Choco bisa jadi kudapan chocolate paling dekat dan dirasa paling nikmat.

Menjadi hal yang umum dan biasa di nagari Cheduge. Penduduk berkawan erat dengan binatang. Bukan sekedar binatang, namun juga sebagai teman berperang dan tentunya simbol prestise bagi empunya, sang Master AL.

Saga menengok dengan mimik muka malas, dilihatnya Pepe tengah bersama Choco bermain mini tinju - 2 paku ditancapkan ke tanah, karet gelang dihubungkan diantara paku, diselipkan 2 semak yang kemudian diibaratkan petinju, digosok-gosok batu tepat diatas paku, sehingga menimbulkan efek kinetik berupa gerakan gulat.

"Apa yang kau pikirkan, Saga?" Tanya Pepe seraya mendekat meninggalkan Choco yang kebingungan. Jenuh karena ia menang untuk kelima kalinya melawan Choco.

"Entahlah." Timpal Saga pendek.

"Bosan aku dengan jawaban khas itu." Gerutu Pepe sambil merobek satu bungkus roti. Membukanya kemudian dibagi antara Ia dan Choco. Manis sekali pertemanan mereka.

"Aku hanya berpikir, kapan perang suci berakhir?" Lagi dan lagi pendek Saga menjawab.

"....." Diam Pepe. Entah karena bingung harus menjawab apa atau tersedak karena roti yang dimakan tertera expired date sudah lewat 6 hari.

***

7 jam sebelumnya. Udara masih terasa lembab akibat hujan yang mulai mereda. Saga berdiri tepat disebuah nisan. Nisan yang tak lain ialah nisan ayahnya, Zola. Ayah yang peluk hangatnya dirasakan hanya 2 pekan.

Zola. Legenda penduduk nagari Cheduge. Pure master AL, komandan grade C dengan AL jenis kumbang bernama Lira.

Ada yang menarik di nagari Cheduge. Selain nama, setiap nisan berisi kata-kata wasiat yang diminta Tetua Adat untuk diikut sertakan ditulis. Kata-kata yang sering diucapkan, harapan atau bisa juga cita-cita dari orang yang namanya tertera di nisan. Fungsi utamanya sebatas sebagai pengingat bagi keturunan.

-Apabila 18 master AL terpilih bergabung dalam 1 barisan tidak ada yang bisa mengalahkan-

"Kukk..Kukk..." Terdengar suara membuyarkan lamunan.

"Sebentar Giga." Jawab Saga lirih.

"Kukk..Kukk..." Giga bersuara kembali.

"Baiklah. Ayo kita pergi." Sempat kaki tertahan namun Saga memulai beberapa langkah berjalan. Seakan masih ada sesuatu yang hendak Saga sampaikan pada Ayahnya.

Mata Saga tertuju ke nisan lainnya. Nisan yang didalamnya tidak ada jasad namun tertera sebuah nama, Odric, alias si murid terbaik.

"Aku yakin engkau masih hidup kak." Ucap Saga sangat pelan.

Saga berlari kecil mengejar Giga sambari mengusap sebuah rajah khusus di bahu sebelah kiri. Pergi meninggalkan area pemakaman para ksatria perang suci.