Mohon tunggu...
Helen Adelina
Helen Adelina Mohon Tunggu... Passionate Learner

Try not to become a man of success, but rather try to become a man of value - Einstein

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Jeritan Hati pada Sunyi Malam

10 Juni 2021   07:51 Diperbarui: 10 Juni 2021   17:07 93 14 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jeritan Hati pada Sunyi Malam
Ilustrasi sunyi malam (unsplash.com)

Satu persatu helai-helai rambut lepas dari kepala
Mahkota yang dulu bertengger indah di kepala kini hilang tak bersisa
Jarum-jarum tajam menusuk ke dalam tubuh
Menyuntikkan cairan-cairan asing yang mengalir menyatu dengan darah

Kesakitan dan kengiluan menyeruak
Isak tangis dan lenguh tertahan
Mata tak jua mau tertutup untuk tidur
Walau tubuh meronta-ronta dilepaskan dari derita

Sel-sel kanker telah menggorotimu
Memakan habis tubuhmu bagaikan raksasa yang rakus dan tamak
Terus menerus memamah inangnya
Tak pernah puas sampai tak ada lagi yang tersisa

Sampai berapa lama kau harus menanggung semua ini?
Jeritmu dalam sunyi dan gelap malam
Bertanya-tanya akankah kau melihat hari esok datang
Ataukah kau akan tertidur dalam keabadian sebelum pagi menjelang

Wajah-wajah terkasihi muncul dalam ingatan
Satu per satu menyapa
Entah meninggalkan penyesalan
Ataupun meninggalkan kehangatan kasih sayang
Entah mereka yang sudah berpulang
Ataupun yang masih tinggal

Bersawala dengan si Empunya Hidup
Menggugat ketidakadilan
Menghitung amal dan kebaikan
Bertanya-tanya mengapa semua menimpamu
Apa salah yang kau perbuat
Sampai fajar menyingsing
Yang ada hanya kebisuan

Hening

Gaduh di dalam jiwamu mereda
Kau tahu kehadiran mentari adalah tanda
Kau berdamai dengan semuanya
Berjuang melawan maut sampai titik darah penghabisan
Tak ada kata menyerah

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x