Hariadhi
Hariadhi Desainer, Penulis

Ya har har

Selanjutnya

Tutup

Travel Pilihan

Masjid Jokowi yang Menyesatkan di Sawang, Aceh

9 Juli 2018   07:56 Diperbarui: 9 Juli 2018   08:47 1713 2 0
Masjid Jokowi yang Menyesatkan di Sawang, Aceh
Dok. Pribadi

Hah? Apoaaah!? Jadi ada masjid pusat aliran sesat di Aceh sekarang? Jokowi bikin masjid menyesatkan? Jokowi bikin rakyat Aceh sesat? Astaghfirullohalazim nauzubillahiminzalik...

Tunggu dulu.. baca dulu kisah saya lengkap sampai habis ya.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Ceritanya menjelang Bireun, hari sudah pagi, saya memutuskan mandi, berganti baju, lalu ngopi di warung di desa sekitar. Sambil mendengarkan obrolan mereka mengenai Piala Dunia semalam, sekilas saya mendengarkan info mengenai Masjid Jokowi, walaupun samar.

Karena mendengar cerita warga setempat soal Masjid Jokowi tersebut, maka jadilah saya penasasran. Saya coba mencari masjid yang dulu katanya runtuh karena gempa di Aceh. Katanya berkat kesigapan Jokowi, bangunan megah tersebut kembali berdiri, bahkan lebih indah, dikerjakan oleh Kementerian PU dan Waskita Karya dalam 2 tahun saja! Karena mengagumkan hasilnya dan cepat kerjanya, masjid itupun oleh beberapa warga Aceh disebut Masjid Jokowi..

Namun saya tidak hendak cerita soal Masjid. Terlalu banyak masjid di Aceh, dan sudah banyak foto-fotonya. Jadi yang saya angkat adalah masakan khas Aceh yang tidak akan ketemu di Provinsi lain: Pliek!

Ceritanya dari 4 nama Masjid At Taqarub di Google Map, sukses mengantarkan saya sesat dan tersesatkan di pedalaman Aceh, mulai dari pegunungan offroad di Sawang, gang tak jelas di Lhokseumawe, sampai kandang kerbau gelap tanpa penerangan yang becek dan membuat mobil saya selip ga bisa jalan di Pidie Jaya.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Yang paling berkesan tentu di Desa Sawang, Aceh. Sebelum masuk ke desa ini, saya harus offroad dulu naik turun bukit terjal, memang menyiksa mobil. Tapi saya bersyukur jadi bisa melihat sendiri pemanfaatan dana gampong (dana desa) menjadi berbagai bentuk pembangunan kecil, sederhana, namun efektif dan nyata manfaatnya bagi warga sekitar. 

Di Lokchut, dusun tetangga, misalnya, dana desa terpakai untuk irigasi, pengecoran jalan masuk, dan lainnya. Ada seorang pasangan Suami Istri di Lok Chut, Sawang, yang bahkan sampai berani menyekolahkan ketiga anaknya jadi dokter karena begitu yakin dengan perubahan nasib baik mereka di masa depan. Contoh lain yang cukup keren menurut saya adalah pendirian ruko-ruko cantik di sekitar tempat wisata. 

Dengan demikian Aceh perlahan berubah dari kesan kumuh dan lusuh. Kemudian desa mendapat pemasukan kembali melalui sewanya yang dipungut hanya Rp 10 ribu sehari. Ringan sekali!

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Balik ke cerita, jadi di Desa Sawang inilah perjumpaan saya dengan masakan khas Aceh, Pliek! Masakan ini saking khas dan eksotisnya, bahkan tak semua orang Aceh yang bisa menikmati.

Apa itu pliek? Saat pertama saya terdampar di Sawang, saya bertanya kepada salah seorang bankir tempat saya menarik uang di ATM. "Saya bukan orang asli sini Bang. tapi di desa ini terkenal karena masakan sayur plieknya." kata si Bankir menjelaskan. "Di mana letaknya?" tanya saya. "Lurus saja ke arah utara, dekat masjid itu banyak rumah makan khas Aceh Utara. Minta saja sayur pliek."

Mendengar penjelasan si Abang, saya langsung ngiler. Karena ga ngerti apa itu Pliek. Saya pikir semacam bumbu belacan atau terasi. Dan kenyataannya memang semacam itu, bumbu fermentasi. Tapi bedanya ini dari kelapa, alias bungkil, kalau orang Jawa bilang.

Dan jangan harapin rasa dan baunya semellow terasi. Pernah cium bau minyak goreng tengik karena tersimpan terlalu lama di lemari dapur sampai dirubungi banyak kecuak? Nah.. mirip seperti itulah bau pliek!

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Tapi tentu saat berwisata kuliner, kita harus menghormati kebiasaan dan makanan tradisi warga sekitar. Tak enak sekalipun, tidak boleh batal menyuap atau muntah. Harus dipaksa masuk mulut dan hap..! Dinikmati saja..

Si Ibu tertawa karena saya nekat makan langsung dalam bentuk ikan pliek. Harusnya untuk pemula adalah sayur dulu karena sayur cenderung asam dan mirip dengan rasa pliek, sementara kalau ikan mujair yang saya makan, juga berbumbu pliek, malah jadi terasa seperti ikan busuk yang tersimpan berhari-hari...

Hahahaha.

Tapi ada yang aneh dari pliek. Memang saat digigit dan dikunyah, ikannya makin lama terasa makin enak, lupakan aroma dan baunya. Ya, pliek baru bisa kita nikmati aromanya yang masam kalau kita bisa mengerti enaknya saat bercampur dengan rasa kuah santan dan ikan yang gurih. 

Maka tak lama saya pun bisa makan pliek layaknya orang yang makan jengkol, baru bisa mengerti setelah beberapa kali makan.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Dan satu lagi keajaiban pliek, terutama yang sayur, adalah ini masakan komunal. Baunya yang menyengat saat dimasak mendidih dengan segera menyeruak dan mengundang tetangga untuk datang dan ikut serta menikmati dengan sesuap nasi. 

Dengan suasana Desa Sawang yang sejuk di kaki bukit, terbayang nikmatnya bercengkrama menikmati hangatnya kuah sayur pliek sambil berbincang-bincang seputar urusan desa dan keluarga. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2