Mohon tunggu...
Inamul Haqqi Hasan
Inamul Haqqi Hasan Mohon Tunggu... Desainer - Visual Designer

Inamul Haqqi Hasan, peminat kajian budaya dan seni. IG haqqihasan

Selanjutnya

Tutup

Music Pilihan

Tak Tandur Campursari, Thukule Patah Hati

7 Agustus 2019   09:37 Diperbarui: 7 Agustus 2019   09:46 49
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Didi Kempot pun heran, belakangan tiap ia manggung penontonnya beda, "wajah-wajah akademis" katanya (1) untuk menyebut anak-anak muda yang tampak dari kalangan terpelajar. 

Beberapa pengamat juga tertarik dengan fenomena ini, tampilan penonton Didi Kempot sekarang disebut tak ubahnya tampilan penonton We The Fest atau Lalala Fest (2). Bukan sekadar dikenal sebagai penyanyi campursari, ia kini ditahbiskan menjadi bapak patah hati nasional.

Seingat saya, zaman bapak saya dulu sering muter lagu Sewu Kutha dan Stasiun (m)Balapan, tidak ada yang concern dengan konten lagu, entah kesedihan atau spesifik lagi patah hati.

Lagu-lagu itu rasanya populer ya karena enak saja, easy listening dan mudah dikaraokekan. Brand Didi Kempot waktu itu tak lain adalah penyanyi campursari, seperti juga almarhum Manthous dengan CSGK-nya.

Sekarang, Didi Kempot mendapat gelar baru: Lord Didi, the Godfather of Brokenheart, istilah yang khas "anak Twitter" masa kini. Brand baru itu fokus pada konten lagu, tentang patah hati, tema yang begitu related pada generasi milenial dengan segala kompleksitas urusan percintaannya. 

Berbeda dengan puisi atau lagu genre "penikmat senja" yang membawa patah hati pada kesyahduan nan edgy, lagu-lagu Lord Didi dipercaya sebagai sarana merayakan patah hati. Semboyannya, "Lara ati rasah ditangisi, ayo dijogeti!"

Yang menarik, sepengamatan saya, sebenarnya Didi Kempot tidak melakukan perubahan apa pun. Lagu, musik dan gaya bernyanyinya dari dulu juga begitu, kan? Tidak ada upaya "memasakinikan" diri, tidak ada Banyu Langit versi EDM atau Cidro versi "folk". 

Perubahan yang terjadi justru pada sisi perspektif audiens, dari Didi Kempot sebagai penyanyi campursari menjadi penyuara patah hati. 

Yang melakukan pun bukan Lord Didi sendiri, melainkan para penggemar barunya yang menamai diri mereka Sobat Ambyar, Sadbois dan Sadgirls. Jadi, Didi Kempot ini adalah sebuah brand yang rebranding-nya dilakukan justru oleh konsumennya.

Tapi bagaimana anak-anak muda era Alan Walker ini kenal lagu-lagu Didi Kempot? Ya dari para peng-cover-nya, utamanya Nella Kharisma dan Abah Lala. 

Di satu sisi ada isu "pengambilalihan lagu" dan masalah royalty (3), tapi tidak bisa dipungkiri para peng-cover itu juga yang mengantar Didi Kempot pada hype-nya hari ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Music Selengkapnya
Lihat Music Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun