Mohon tunggu...
Hanvitra
Hanvitra Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Lepas

Alumnus Departemen Ilmu Politik FISIP-UI (2003). Suka menulis, berdiskusi, dan berpikir.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Mengikat Makna, Mengikat Kehidupan

23 Desember 2018   06:00 Diperbarui: 23 Desember 2018   06:02 181
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Salah-satu hal penting dari mengikat makna adalah ia mengikat apa yang kita baca menjadi sesuatu yang kongkrit.  Gagasan mengikat makna sendiri berarti kita menuliskan apa yang kita baca ke dalam sebuah artikel. Mengikat makna adalah proses yang 'selfish' bukan dalam arti arogan melainkan kita menjadi individu yang sendiri dalam menuliskan apa yang kita baca. 'Selfish' berarti kita memusatkan diri dalam ego kita.

Gagasan "mengikat makna" datang dari almarhum Hernowo Hasim, mantan CEO Penerbit Mizan, Bandung. Menurut Hernowo --yang meninggal bulan Puasa 2018 lalu- mengikat makna adalah sebuah upaya mengenali dan berdialog dengan diri sendiri. Menulis sesungguhnya merupakan upaya berdialog dengan pikiran kita sendiri. Menulis sebenarnya bukan tindakan yang sepi, tapi dalam menulis kita diajak untuk memahami diri kita sendiri. Ada interaksi antara pikiran kita di otak. Menulis sesungguhnya tindakan yang membebaskan.

Menulis sesungguhnya adalah tindakan kita berdialog dengan pikiran kita sendiri. Kenapa orang suka menulis dalam keadaan sepi? Karena dalam ketenangan dan kesepian itu kita bisa menemukan hakikat diri. Ini berbeda ketika kita melebur dengan keramaian. Kita tidak bisa menjadi individu yang utuh di tengah keramaian. 

Keramaian meleburkan identitas kita. Walaupun manusia adalah makhluk sosial, namuan kadang suatu waktu kita perlu pergi dari keramaian untuk berkontemplasi. Orang-orang besar sering melakukan itu. Nabi Muhammad SAW sebelum menjadi nabi secara rutin pergi ke Gua Hira untuk berkontemplasi. Menjauhkan diri dari khalayak ramai yang meracuni kita dengan berbagai macam hal.

Menulis yang baik adalah mengeluarkan orisinalitas pikiran kita. Selama ini pembelajaran menulis kita di sekolah dan perguruan tinggi cenderung membelenggu. Kita harus mengikuti sekian banyak aturan dalam menulis. Hal ini semacam sudah kuno. Menulis adalah sebuah seni. Untuk rancak menulis kita membutuhkan berbagai macam alat (tools) seperti kemampuan menguasai tata bahasa, gaya bahasa, koherensi, dan lain sebagainya.  'Alat-alat' menulis tersebut harus kita kuasai sebelum menghasilkan tulisan yang indah dan bernas. Dalam menulis kita harus menguasai ilmu menulis. Dan dalam hal ini, almarhum Hernowo adalah jagonya.


Metode Pembelajaran Menulis terbaru

Aturan---aturan dalam menulis sebenarnya dibuat untuk memudahkan. Para ahli bahasa telah merumuskan aturan-aturan dalam menulis agar tercipta tulisan yang bagus. Namun hal itu kini sudah ketinggalan zaman. Beberapa pakar pembelajaran menulis seperti Natalie Goldberg, Tony Buzan, Joyce Wycoff, dan Gabrielle Lusser Rico telah menemukan berbagai macam metode untuk mempelajari menulis.

Wycoff dan Rico memperkenalkan teknik membuka pikiran yang diambill dari teknik memetakan pikirannya Tony Buzan. Rico memperkenalkan apa yang disebut sebagai teknik clustering. Teknik pemetaan pikiran Tony Buzan cukup ampuh untuk memudahkan kita menulis. Menurut Buzan, dengan pemetaaan pikiran kita seperti mengeluarkan neuron-neuron terkecil dalam otak kita.

Berbagai metode pun diciptakan. Dalam bukunya Mengikat Makna Update, Hernowo menulis beberapa definisi menulis, seperti mengikat, mengonstruksi, menata, memproduksi, menggambarkan atau menampakkan, mengeluarkan, menggali, menjabarkan, membuang, dan membagikan.

Ada pula yang disebut brain-based writing, yakni menulis dengan memberdayakan kedua belah otak.  Dengan memberdayakan kedua belah otak --otak kiri dan kanan- kita akan mencapai hasil maksimal dalam menulis.  Brain-based writing berarti menyinergikan kedua potensi otak dalam diri kita. Otak kiri bersifat linear, rasional dan logis. Otak kiri lebih rigid dan kaku.  Sedangkan otak kanan menyimpan kreativitas, lebih luas, dan membawa cita rasa seni.      

Salah-satu cara lagi untuk menulis adalah dengan free writing atau menulis bebas. Caranya dengan berlatih menulis setiap hari tanpa memperhatikan aturan dalam menulis. Free writing seperti yang disarankan oleh Peter Elbow merupakan sarana untuk membebaskan kreativitas dalam menulis. Menulis perlu kreatif, bukan hanya mematuhi aturan-aturan saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun