Mohon tunggu...
Handy Pranowo
Handy Pranowo Mohon Tunggu... Lainnya - Love for All Hatred for None

Penjelajah

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Malam Pengkhianatan

16 Juli 2022   23:40 Diperbarui: 16 Juli 2022   23:57 133
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com

Ia baru saja pergi dari sini.

Kopi di cangkirnya belum juga habis.

Setumpuk air mata di tinggalkannya di atas meja.

Telah membeku. Terlalu lama di pendamnya.

Sekian tahun bertahan dengan kegetiran.

Siapa sangka nasib berakhir di bui.

Ia coba nyalakan api di dalam jantungnya.

Menerangi kegelapan ketika pintu jeruji terkunci.

Dan dingin dinding menetes di pori-pori.

Ia bercerita tentang malam pengkhianatan yang mengantarkan ujung pisaunya menyabet dada lelaki beristri.

Wajahnya merah, hatinya terbakar amarah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun