Mohon tunggu...
Hamdanul Fain
Hamdanul Fain Mohon Tunggu... Penulis - Antropologi dan Biologi

Membuat tulisan ringan. Orang Lombok.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Hari yang Membisu dan Ambigu

13 Januari 2024   07:06 Diperbarui: 13 Januari 2024   07:08 117
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Puisi. Sumber ilustrasi: PEXELS/icon0.com


Subuh mendekat dan kabut masih pekat
Jemarimu mulai takut
Meskipun hanya untuk menekan tombol like
Jari-jari itu membisu, apalagi lidahmu
Hanya akan menonton pertunjukan yang ambigu, matamu.. hatimu.. beku

Sebelum matahari terbit,
Lampu-lampu telah padam
Satu, dua, beberapa masih berkedip
Namun tidak cukup untuk menerangi keberanian yang mulai menggigil
Takut hak-haknya dicungkil
Karena keadilan telah mengerdil
Dilumat sedikit demi sedikit oleh kerakusan yang tamak dan tak jinak

Kebisuan semakin menjadi
Ketika jingga mencuat dan matahari tampak berenang-renang
Saat itu, pikiranmu tidak tenang
Itupun jika masih sanggup untuk berpikir
Karena sebagian sudah tak waras
Ikut memeras dan menjilati keringat-keringat mereka yang tertindas

Panggung-panggung dihiasi drama ambigu
Seambigu hatimu yang merindu petang segera tiba atau kembali pada malam sebelum subuh memekat


Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun