Mohon tunggu...
Halim Pratama
Halim Pratama Mohon Tunggu... manusia biasa yang saling mengingatkan

sebagai makhluk sosial, mari kita saling mengingatkan dan menjaga toleransi antar sesama

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Teknologi, Hate Speech, dan Deteksi Dini Radikalilsme

31 Januari 2021   09:12 Diperbarui: 31 Januari 2021   09:20 66 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Teknologi, Hate Speech, dan Deteksi Dini Radikalilsme
Perdamaian Indonesia - jalandamai.org

Perkembangan teknologi telah membuat perubahan di banyak lini kehidupan. Tidak hanya gaya hidup, teknologi juga membuat perilaku seseorang berbeda. Karena teknologi pada dasarnya dibuat untuk memudahkan segala pekerjaan manusia. Contoh yang paling sederhana adalah untuk mendapatkan informasi, tinggal googling, semua informasi yang diinginkan bisa ditemukan. Untuk aktifitas jual beli, tinggal klik bayar secara online, barang yang diinginkan bisa diantar di rumah. Semuanya itu terjadi berkat kecanggihan teknologi.

Dulu, internet masih menjadi barang yang mahal. Hanya orang tertentu saja yang bisa mengaksesnya. Sekarang, internet sudah melekat dalam kehidupan manusia. Untuk mengaksesnya pun sangat mudah. Dengan menggunakan smartphone, kita bisa berselancar sesuka hati kapan pun dan dimana pun. Kemudahana dan kecanggihan teknologi ini tentu harus diperuntukkan untuk hal-hal yang positif. Tidak hanya untuk kepentingan pribadi, bisa dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat dan bangs aini.

Sayangnya, pemanfaatan teknologi tidak semuanya digunakan untuk tujuan baik. Ada juga pihak-pihak yang menyalahgunakan untuk tujuan yang tidak baik. Salah satunya digunakan untuk mengunggah pesan kebencian, melakukan provokasi dan lain sebagainya. Contoh sederhana adalah banyak aktifitas saling hujat di media sosial. Banyak diantara netizen begitu vulgar menebar caci maki, hanya karena persoalan sepele. Dan tidak sedikit dari aktifitas saling hujat di dunia maya ini, berujung tindakan intoleran di dunia nyata.

Saat ini, banyak orang membicarakan cuitan Abu Janda, seorang influencer yang dianggap menebarkan sentimen rasisme kapada Natalius Pigai, seorang aktivis Papua. Cuitan rasis ini akhirnya berujung pada pelaporan ke aparat kepolisian. Tidak selesai sampai disini, semua orang akhirnya banyak yang merespon cuitan ini dengan cuitan balik. Ini akhirnya, antar sesama saling menebar cuitan dan jika tidak ada yang bisa mengontrol karena amarahnya, maka cuitan yang lahir pun juga akan berisi kebencian. Bayangkan, dari 1 orang yang menebar kebencian, menjalar ke banyak orang yang menyebar kebencian.

Banyak contoh yang semestinya bisa kita jadikan pembelajaran. Ketika kebencian ini disebarkan melalui kecanggihan teknologi, makan akan dapat dengan mudah menyebar dan bisa diakses oleh siapa saja. Kasus pembakaran tempat ibadah di Tanjung Balai, Sumatera Utara beberapa tahun lalu, juga dipicu oleh provokasi di media sosial. Akhirnya, darii 1 orang menjalar ke banyak orang dan berujung pada pembakaran beberapa tempat ibadah. Tentu saja kita tidak ingin hal ini terjadi lagi.

Kebencian ini merupakan tahap awal seseorang bisa terpapar radikalisme. Dan pada titik inilah banyak orang yang tidak menyadarinya. Mari kita sama-sama meningkatkan kewaspadaan, agar tidak mudah melakukan sharing tanpa saring terlebih dulu. Saatnya kita menyebarkan nilai-nilai kearifan lokal di segala platform media sosial, agar bisa menjadi detektor, dan bisa mengembalikan pandangan yang salah.

 Kita adalah masyarakat Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi. Saling menghargai, menghormati dan tolong menolong menjadi karakter yang melekat pada diri. Jadi, setop menyalahgunakan teknologi untuk menyebar kebencian. Karena kebencian akan membuat mudah penyusupan ideologi radikal menyebar. Mari kita terus tingkatkan kewaspadaan, agar negeri ini bisa terhindar dari virus intoleransi dan radikalisme. Salam.

VIDEO PILIHAN