Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Menulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Bersyukur, Rumput Tetangga (Tidak) Selalu Lebih Hijau

25 September 2020   06:37 Diperbarui: 25 September 2020   07:20 117 10 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Bersyukur, Rumput Tetangga (Tidak) Selalu Lebih Hijau
Rumput tetangga tidak selalu lebih hijau. Kita sendiri yang membuat gambaran bahwa rumput tetangga lebih hijau atau tidak. Kuncinya adalah pandai mensyukuri yang kita miliki/Foto: seruni.id

Rumput tetangga selalu lebih hijau.

Begitulah pepatah yang sering diungkapkan untuk menunjukkan perasaan rendah diri ketika melihat apa yang dimiliki orang lain. Bahwa, kita sering diperdaya pikiran karena menganggap apa yang dimiliki oleh tetangga, lebih baik dari apa yang kita miliki.

Pepatah itu juga menjadi cerminan, betapa ada banyak manusia yang memang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Selalu merasa kurang. Selalu melihat kelebihan orang lain tanpa pernah melihat kenikmatan pada dirinya.

Benarkah rumput tetangga selalu lebih hijau?

Sekadar bercerita, hari Minggu yang lalu, saya bertamu ke rumah seorang kawan. Tetangga di perumahan sebelah. Dia juga teman lama semasa dulu sama-sama menjadi jurnalis.

Saya kaget begitu dia bercerita baru saja menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dari media tempatnya bekerja. Meski, saya sudah pernah mendengar kabar bila situasi di media tersebut memang sedang kurang bagus di masa pandemi ini.

Namun, saya tidak menyangka, kawan yang usianya belum genap berusia 40 tahun itu juga ikut dirumahkan. Apalagi, dia juga termasuk 'wartawan andalan' di medianya.

Tetapi memang, jurnalis alias wartawan menjadi salah satu profesi yang sangat terdampak oleh pandemi Covid-19 ini.

Mereka rentan terpapar Covid-19. Tugas yang mengharuskan mereka turun ke lapangan, bertemu banyak orang, lalu melakukan wawancara dengan berbagai narasumber dari beragam latar belakang, menjadi pemicunya.

Ada banyak tautan berita di media massa maupun media sosial yang memberitakan kabar ada banyak wartawan yang terpapar Covid-19. Bahkan ada yang sampai meninggal.

Melansir dari Kompas.com. dalam diskusi yang digelar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di BNPB pada akhir Agustus lalu, Kepala Bidang Kerja Sama dan Multimedia Direktorat Program dan Produksi LPP RRI Johanes Eko Prayitno menyebut reporter adalah kelompok yang rentan terhadap Covid-19 dikarenakan mobilitasnya tinggi (sumber: https://nasional.kompas.com/read/2020/09/01/09065241/cerita-perusahaan-media-yang-tak-bisa-wfh-dan-curhat-wartawan-di-tengah?page=1).

Tidak hanya rentan terpapar Covid-19, para awak media juga ikut terdampak secara ekonomi seiring industri media yang terseok-seok di tengah pandemi. Ada banyak media yang tengah 'sakit' kondisi finansialnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN