Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pencerita. Pewawancara. Pernah sewindu bekerja di "pabrik koran". The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

"Tagihan Deadline" Pekerjaan Datang Berbarengan, Hadapi dengan Jurus Jitu

13 Desember 2019   16:45 Diperbarui: 14 Desember 2019   00:00 406 10 5 Mohon Tunggu...
"Tagihan Deadline" Pekerjaan Datang Berbarengan, Hadapi dengan Jurus Jitu
Tak perlu stress ketika tagihan deadline pekerjaan datang berbarengan. Siapkan jurus jitu menghadapinya.Foto: Kompas.com

Ketika memutuskan pensiun sebagai pekerja kantoran demi bisa bekerja "lepas" pada akhir tahun 2017 silam, saya paham bahwa keputusan itu pasti ada konsekuensinya. Pasti ada keuntungannya. Tapi, pasti juga ada risikonya. Namanya pilihan hidup pasti ada dinamikanya.

Bekerja lepas sebagai "tukang menulis", bila dibandingkan bekerja di kantor yang harus patuh pada aturan jam masuk dan pulang kerja, tentu lebih menguntungkan secara waktu. Kita bisa menjadi "manusia bebas".

Saat pagi masih bisa mengantar anak ke sekolah. Tak perlu bergegas berangkat ke kantor dan bermacet-macetan di jalan raya bersama ratusan pekerja kantoran yang ingin segera tiba di tempat kerjanya.

Bila kebetulan tidak ada jadwal bertemu mitra kerja di luar rumah, ya bisa bekerja menulis di rumah. Kadang bila longgar, bisa sejenak menikmati film di channel TV "yang ada kabelnya". 

Pendek kata, setelah hampir 13 tahun merasakan suka dukanya bekerja kantoran yang berangkat pagi pulang bisa larut malam, akhinya saya bisa mengatur sendiri waktu bekerja. 

Ternyata, bekerja model begini tidak melulu menyenangkan. Malah, lumayan banyak risikonya. Dari risiko yang receh. Hingga yang paling mengkhawatirkan. Meski, risiko tersebut sejatinya bergantung pola pikir kita menghadapinya.

Risiko recehnya, sampean (Anda) harus siap mental ketika ada tetangga yang mulai bertanya curiga. Semisal bertanya "ndak kerja pak?" karena melihat kita sering berada di rumah. Mereka tidak salah. Lha wong dulu melihat sampean rutin berangkat pagi tapi kini masih bersantai, tentu akan timbul pertanyaan.

Apalagi, meski zamannya serba digital, meski eranya sudah 4.0, tetapi banyak orang yang masih menganut pola pikir lama. Banyak yang masih beranggapan bahwa yang namanya bekerja ya beraktivitas di luar rumah. Namanya bekerja ya sejak awal pekan berangkat pagi atau siang dari rumah lantas kembali ke rumah (pulang) sore atau malam. Lalu libur setiap akhir pekan.

Sementara bila kita hampir seharian di rumah saja atau bila ketika banyak orang sibuk berangkat ngantor di pagi hari, sementara kita masih sempat mengantar anak ke sekolah dengan pakaian santai, ada yang menganggap kita tidak bekerja.

Itu baru risiko receh. Receh karena sebenarnya mudah saja menghadapinya. Kalaupun ada tetangga yang rajin bertanya penuh curiga, tak perlu dibawa perasaan. Toh lama-lama, para tetangga yang super kepo itu kelak bakalan bosan bertanya dan tidak akan lagi bertanya. Toh, kita juga tidak menumpang makan darinya.

Risiko yang lebih berat sebagai penulis lepas adalah tentang batas waktu kerjaan alias deadline. Ketika bekerja kantoran, terlebih ritme kerjanya sekadar mengikuti jadwal harian atau mengalir mengikuti target bulanan, itu mungkin tinggal dijalani saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN