Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Jurnalis.

Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasiana 2019, 2020, dan 2021. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Belajar dari Sukses Ida Amarwati, Pelaku UMKM Harus Tangguh dan Haus Ilmu

8 Desember 2018   23:19 Diperbarui: 10 Desember 2018   16:31 1229
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ida Amarwati di salah satu stan usaha UMKMnya. Berkat kegigihannya, Ida kini bisa mengecap sukses/Foto: Hadi Santoso

Untuk menjadi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebenarnya tidak sulit. Selama memiliki kemauan kuat, siapapun bisa memulai langkah menjadi pelaku usaha skala mikro. Meski dengan segala keterbatasan, semisal modal kecil ataupun tidak ada tempat berjualan.

Namun, beda ceritanya bila ingin menjadi pelaku UMKM yang sukses mengembangkan usahanya dalam jangka waktu lama. Urusannya sama sekali tidak mudah. Kenyataan yang jamak terjadi di masyarakat, banyak pelaku UMKM bermunculan yang sejatinya punya potensi, tetapi lantas gulung tikar hanya dalam hitungan bulan setelah memulai usaha.

Penyebabnya, tidak banyak pelaku UMKM yang memiliki kesiapan dalam mengarungi dunia usaha yang penuh tantangan. Padahal, untuk menjadi pelaku UMKM yang sukses, harus siap capek, siap jatuh bangun dan bahkan siap menghadapi risiko gagal.  

Bila tidak memiliki mental tangguh dan kemauan kuat dalam membuat usahanya sustainable semisal dalam membranding produk yang dijual hingga menentukan perusahaan jasa kurir sebagai mitra untuk memperluas pasar usaha ke luar kota maupun ke luar pulau, maka cepat atau lambat, usaha yang dirintis tersebut hanya tinggal cerita.

Bila dianalogikan, menjadi pelaku UMKM itu bak mengarungi samudera dengan perahu. Untuk bisa sampai ke pulau tujuan, tidak boleh mudah menyerah menghadapi hantaman ombak. Selain itu, harus terus beradaptasi dan berlatih mengasah skill guna membaca fenomena apa saja yang terjadi di lautan.

Gambaran menjalani usaha mikro kecil menengah bak mengarungi lautan luas dengan perahu kecil hingga akhirnya sampai di pulau harapan itulah yang telah dilalui pelaku UMKM asal Surabaya, Ida Amarwati. Perempuan berusia 29 tahun ini telah merasakan, bahwa sukses dalam usaha UMKM hanya bisa diraih lewat keberanian, kreativitas dan terus belajar.

Ida yang dulunya berjualan nasi bebek, lantas berjualan kebab di pinggir jalan yang  awalnya produk yang laku bisa dihitung dengan jari, kini telah menjadi pelaku UMKM sukses. Brand usahanya, Kebab Pisang Pus1ng yang dibesarkannya bersama sang suami, kini telah dikenal luas. Pasangan muda ini bahkan sudah merambah ranah franchise yang kini mencapai belasan kota di pulau Jawa dan akan terus bertambah.

Awalnya jatuh bangun menjalankan usaha

Ditemui di salah satu stan usahanya di Jalan Nginden, Surabaya, Jumat (7/12/2018) siang kemarin, Ida antusias bercerita perihal jalan panjang yang telah dilakoninya untuk menjadi pelaku UMKM sukses. Dia mengaku beberapa kali merasakan pahitnya jatuh bangun di awal-awal menjalani usaha.

Dia sempat mencoba usaha jualan spaghetti tetapi kemudian berhenti karena merasa produknya kurang familiar dengan konsumen. Lantas, pada awal 2016 silam, bersama calon suaminya, M Lukman Ikhwan, Ida berjualan nasi bebek dengan nama "bebek air mata". Setelah menikah, keduanya sepakat untuk mengembangkan usaha jualan mereka sebagai sumber nafkah.

Persiapan sudah dibuat matang. Lokasi berjualan sudah ada. Termasuk membuat brosur dan banner untuk promosi jualan. Namun, tanpa diduga, jelang memasuki bulan puasa, mereka kesulitan mencari bahan baku. Tidak ada stok bebek. Beberapa peternakan bebek yang sebelumnya sudah dipesan, ternyata sudah menjual bebek mereka ke restoran-restoran. Rencana yang sudah matang itupun gagal. Alhasil, Ida hanya bisa pasrah mendengar sindiran tetangga yang menyebut usaha bebek mereka benar-benar menyisakan air mata seperti namanya.

Sulitnya mendapatkan stok bebek membuat Ida memutuskan untuk tidak lagi berjualan nasi bebek. Dia lantas beralih mencoba membuat produk serundeng Madura. Ada beberapa konsumen yang suka. Mereka juga sudah melobi beberapa resto. Namun, proses pembuatan serundeng yang bahannya terbuat dari parutan kelapa dan bisa menjadi lauk pauk nasi ini ternyata menguras tenaga. "Proses bikinnya (serundeng) dari pagi sampah sore. Capeknya itu ndak sesuai dengan yang didapat. Jadi akhirnya ndak mungkin dilanjutkan," ujar Ida.

Tidak sengaja menemukan ide produk kebab pisang cokelat

Di tengah kegalauan bagaimana caranya mendapatkan pemasukan rutin dari usaha, Ida lantas mendapatkan informasi adanya bazar di kampus ITS. Dia lalu terpikir berjualan kebab berisi buah mix. Kebab dipadukan dengan buah seperti melon, pepaya, pisang maupun nata de coco. Karena optimis banyak diminati, Ida pun membawa cukup banyak stok. "Ternyata yang digadang-gadang bakalan untung, malah gak balik modal," kenangnya.

Keesokan harinya, karena stok buahnya sisa lumayan banyak, terutama pisang yang tersisa tiga tandan, dia lalu mencoba membuat kebab pisang keju cokelat. Setelah dirasa, ternyata lebih enak dari kebab mix buah. Jiwa usahanya pun muncul. Dia yakin, kebab rasa baru ini bisa menjadi usaha baru. Ida lalu memberanikan diri membuka pre order melalui akun media sosialnya sembari menampilkan foto kebab pisang cokelat kejunya. Dalam empat hari, ada satu pembeli yang terus memesan.

Hingga, pada Mei 2016, Ida bersama sang suami terpikir berjualan kebab pisang di pinggir jalan di kawasan Ketintang, Surabaya. Dengan modal hanya tinggal 2 juta, dia menyewa stan, membeli bahan baku, membuat sendiri meja jualan hingga mencetak banner. "Waktu itu sisa uang hanya 300 ribu. Saya sempat terpikir, kalau misalkan usaha gagal lagi, entah apa yang akan kami lakukan," ujar Ida.

Kebab Pisang Pus1ng banyak diminati, terutama anak-anak muda/Foto Istimewa
Kebab Pisang Pus1ng banyak diminati, terutama anak-anak muda/Foto Istimewa
Kondisi kepepet itulah yang ternyata jadi jalan awal menuju sukses. Mereka termotivasi agar produk mereka digemari banyak orang. Selain promosi di media sosial kuliner, membuat kebab dengan berbagai varian rasa, hingga memberi potongan harga kebab yang kala itu mereka jual 8 ribu. Yang terjadi, dari hanya 3-7 orang yang membeli di awal berjualan, jualan mereka lantas laris manis. Bahkan, pembeli mengantre di stan mereka. Setiap hari ada 50 hingga 100 pembeli.

Kembangkan sayap usaha ke luar kota/pulau dengan layanan JNE Yes

Satu bulan berjualan pisang kebab pus1ng, Ida lantas melayani delivery order. Hari-hari Ida bersama suami disibukkan dengan kulakan (membeli bahan baku), produsi, mengantar pesanan lantas berjualan. Tak jarang mereka baru bisa beristirahat pada jam 1 dini hari. Terlebih, mereka hanya melakukannya berdua.

Seiring waktu, ada banyak pelanggan yang menginginkan kemitraan. Dia lantas mengembangkan bisnis franchise kebab pisangnya. Kini, produk Ida sudah bisa didapati di bebrapa kota. Diantaranya di Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Tulungagung, Trenggalek, Tegal, Slawi, Sragen, Semarang, Denpasar dan akan menyusul Kudus.

Untuk keperluan promosi produknya, Ida lalu membuat akun Instagram @kebabpisangpusing dan juga website. Pelanggannya bisa mengetahui info lengkap perihal Kebab Pisang Pus1ng, termasuk bagi yang berminat bermitra usaha. Ida juga membuka lowongan karyawan. Kini, usaha Ida tidak lagi dijalankan berdua, tetapi sudah ada enam karyawan.

Berkat JNE Yes, Kebab Pisang Pus1ing bisa dinikmati pelanggan dari luar kota bahkan luar pulau/Foto: istimewa
Berkat JNE Yes, Kebab Pisang Pus1ing bisa dinikmati pelanggan dari luar kota bahkan luar pulau/Foto: istimewa
Termasuk juga melakukan inovasi pengembangan produk yang sesuai kebutuhan pelanggan. Utamanya pelanggan dari luar kota maupun luar pulau. Ida lantas mengkreasi kebab pisang pusing oven yang tahan dikirim ke luar kota. Alhasil, permintaan kebab pisang pus1ng dari luar kota, bahkan luar pulau, semakin banyak.

Namun, Ida tidak sembarangan dalam merespons orderan dari luar kota/pulau tersebut. Dia hanya mau melayani orderan dari luar kota dan luar pulau bila produk kirimannya bisa sampai dalam satu hari. "Kami akhirnya bisa melakukan pengiriman ke berbagai kota di Indonesia dengan JNE Yes. Saya pilih JNE Yes karena pelayanannya bisa sampai dalam satu hari. Kalau nggak JNE Yes, saya nggak mau, karena khawatir bila kebab pesanannya sampai di pemesan lebih dari satu hari. Saya tidak mau mengecewakan pelanggan," ujarnya.

Dengan keunggulan layanan JNE Yes (Yakin Esok Sampai) yang waktu sampai di tujuan keesokan hari, termasuk di hari Minggu dan hari libur nasional, Ida tidak ragu memilih JNE Yes. Terlebih, dirinya dapat melacak status pengiriman dan informasi penerimaan menggunakan JNE airwaybill number melalui website JNE. Ida mengaku JNE Yes telah sangat membantu dirinya dalam mengembangkan usaha UMKM nya ke berbagai kota ke seluruh Indonesia. "Yang paling jauh pernah pengiriman ke Bengkulu," tutur Ida.  

Meluangkan waktu untuk menambah wawasan

Sukses Ida membesarkan usaha UMKM miliknya, tidak lepas dari ketangguhan mentalnya. Dia tidak menyerah meski sebelumnya pernah beberapa kali gagal merintis usaha. Andai dulu dia menyerah ketika berjualan kebab mix buah karena hasilnya tak sesuai harapan, tidak akan ada cerita sukses seperti sekarang. "Dalam berjualan, ramai dan sepi itu biasa. Selama produknya enak, cepat atau lambat akan banyak yang suka. Yang penting terus usaha dan sabar," ujarnya.   

Namun, tidak hanya mental tangguh yang membuat Ida akhirnya bisa mengecap manisnya sukses usaha UMKM. Keberhasilan Ida juga buah dari kemauan kuatnya untuk terus belajar. Sebagai pelaku UMKM, Ida dan suaminya haus ilmu. Selain mengembangkan usaha, mereka juga menyempatkan waktu untuk terus menambah wawasan tentang UMKM.

Ida Amarwati, terus menambah wawasan usaha/Foto: hadi santoso
Ida Amarwati, terus menambah wawasan usaha/Foto: hadi santoso
Mereka beberapa kali hadir di seminar UMKM dan bergabung dalam komunitas pelaku UMKM untuk sharing pengalaman. Mereka juga rajin membaca buku-buku tentang wirausaha. Bahkan, desain brand Kebab Pisang Pusing, dibuat sendiri oleh suami Ida, termasuk pemilihan nama brand "Kebab Pisang Pus1ng" yang terdengar unik. Suami Ida juga acapkali menjadi narasumber untuk berbagi kiat sukses usaha. "Dari banyak membaca, kami jadi tahu, kebanyakan bisnis itu tidak selalu langsung berhasil. Itu yang membuat kami tidak gampang menyerah," ujar Ida.

Di tahun 2018 ini, Ida dan suaminya juga terdaftar sebagai anggota Pejuang Muda Surabaya. Pejuang Muda merupakan wadah bagi pelaku-pelaku UMKM berusia muda yang diinisiasi Pemkot Surabaya. Anak-anak muda ini dibekali wawasan dalam berusaha UMKM serta pelatihan berjualan online maupun membangun jaringan. "Dengan bergabung di Pejuang Muda, kami mendapatkan banyak keuntungan. Termasuk dibantu dalam pengurusan perizinan usaha," ujarnya.

Meski usahanya telah berkembang pesat, Ida mengaku masih ingin terus belajar. Dia masih memiliki mimpi yang ingin dia wujudkan. Ida berharap Kebab Pisang Pus1ng semakin dikenal di seluruh Indonesia. Dia juga mengaku akan terus berinovasi produk lainnya yang berbahan olahan seputar coklat dan pisang. (*)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun