Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

"Kaya" Pemain Muda Potensial, Indonesia Punya Prospek Cerah di Ganda Putri

8 September 2018   11:34 Diperbarui: 8 September 2018   11:35 676 4 3
"Kaya" Pemain Muda Potensial, Indonesia Punya Prospek Cerah di Ganda Putri
Siti Fadia (belakang) dan Agatha Imanuela, salah satu ganda putri masa depan Indonesia/Foto: PBSI

Dalam bulutangkis, sejatinya tidak terlalu sulit untuk 'menerawang' masa depan seorang pemain muda, apakah kelak akan bisa menjadi bintang besar atau kariernya mentok. Cukup lihat seberapa sering dia tampil bagus dan meriah gelar di level junior. Faktanya, pemain-pemain hebat di bulutangkis di era kekinian, mayoritas sudah berprestasi sejak di level junior.

Ambil contoh Hendra Setiawan. Pebulutangkis Indonesia dengan gelar paling lengkap (juara Asia, juara dunia, juara Sea Games, Asian Games hingga Olimpaide) yang masih aktif bermain ini sudah menunjukkan tanda-tanda akan menjadi pemain hebat sejak usianya masih belasan tahun. Di tahun 2001 dan 2002, di usia 17 tahun, Hendra yang bermain di nomor ganda campuran, meraih medali perunggu di Kejuaraan Asia Junior. Di tahun 2002, dia juga meraih perunggu di nomor ganda putra saat berpasangan dengan Joko Riyadi.

Contoh lainnya Greysia Polii. Jauh sebelum menjadi salah satu pebulutangkis senior Indonesia sarat gelar, tanda-tanda itu sudah terlihat sejak di level junior. Di tahun 2004 silam, di usianya yang masih 17 tahun, Greysia bersama Nitya Maheswari meraih medali perunggu di Kejuaraan Asia Junior 2005. Dan, delapan tahun kemudian, keduanya menjadi ganda putri nomor satu Indonesia. Mereka meraih medali emas di Asian Games 2014.

Memang, tidak semua pebulutangkis yang bersinar di usia muda, pada akhirnya sukses. Ada juga meredup. Namun, rasio kemungkinan sukses nya bisa dibilang lebih besar dibandingkan pesepakbola.

Sama dengan bulutangkis, di sepak bola pun, sejak era 90 an dulu, hampir setiap tahun ada anak-anak muda berbakat yang dijuluki sebagai "The Next Pele" atau "The Next Maradona". Bila di era sekarang, julukannya berganti menjadi "Teh Next Mesi", "The Next Ronaldo" ataupun "The Next Neymar". Yang terjadi, ada banyak anak-anak muda itu yang layu sebelum berkembang karena ekspetasi berlebihan.

Penyebabnya, sepak bola berbeda dengan bulutangkis. Di sepak bola, anak muda yang hebat di turnamen level junior, ketika naik ke level senior (terlebih bermain di klub top), persaingannya berat. Mereka bahkan tidak punya kesempatan membuktikan kemampuan karena hanya menjadi pemain cadangan. Akhirnya, kariernya mandek.

Sementara di bulutangkis, jenjang kompetisinya lebih rapi. Ada jenjang yang memungkinkan pemain muda bertumbuh benar karena bersaing dengan lawan seangkatannya. Ada Kejurnas, ada kejuaraan Asia Junior hingga Kejuaraan Dunia Junior. Apalagi di era sekarang. Setiap bulan selalu ada turnamen BWF Series dari level Super 100 hingga super 1000. belum lagi turnamen-turnamen International Challenge. Pendek kata, turnamen yang lebih rapi itu bisa membuat kemampuan mereka terasah. Plus, melatih konsistensi. Sebab, lawan-lawan yang dihadapi sejatinya ya itu-itu saja. Siapa yang paling siap tampil, dia bisa juara.

Nah, merujuk pada "teori" tersebut, ada harapan besar kelak kita bisa melihat Indonesia memiliki ganda putri berkelas dunia. Tidak hanya satu pasangan. Tapi tiga atau bahkan empat pasangan. Ya, prospek ganda putri muda Indonesia terbilang cerah. Salah satu parameternya terlihat di turnamen Hyderabad Open 2018 di India.  

Ganda Putri Berpeluang Ciptakan "Final Sesama Pemain Indonesia" di Hyderabad Open 2018

Hari ini, Sabtu (8/9/2018), turnamen BWF Tour Super 100 ini mempertandingkan babak semifinal. Ada enam wakil Indonesia yang lolos ke semifinal. Dari enam wakil tersebut, dua diantaranya merupakan ganda putri. Yakni pasangan Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva Ramadhanti dan Yulfira Barkah/Jauza Fadhila Sugiarto. Dan kabar bagusnya, mereka tidak saling berhadapan di semifinal. Artinya, bila sama-sama memenangi semifinal hari ini, mereka akan menciptakan final sesama pemain Indonesia.

Di babak perempat final kemarin, Indonesia bahkan punay empat wakil ganda putri. Selain Agatha/Siti dan Yulfirah/Jauza, ada Tania Oktaviani Kusumah/Vania Arianti Sukoco yang dikalahkan ganda Hongkong Ng Tsz Yau/Yuen Sin Ying (lawan Agatha/Siti di semifinal). Juga ada Winny Oktavina/Rosyita Eka Putri yang dikalahkan Yulfirah/Jauza.

Nah, dari beberapa nama tersebut, pasangan Agatha/Siti Fadia layak dikedepankan. Penampilan mereka dalam dua tahun terakhir cukup konsisten. Siti Fadia (17 tahun) dan Agatha (18 tahun) meraih medali perunggu di Kejuaraan Asia Junior Championship 2017 dan 2018. Bahkan, di tahun ini, keduanya sudah diikutkan di Kejuaraan Dunia (senior) 2018.

Yulifrah Barkah dan Jauza Fadhila saat tampil di Kejuaraan Dunia Junior 2016/Foto Djarumbadminton
Yulifrah Barkah dan Jauza Fadhila saat tampil di Kejuaraan Dunia Junior 2016/Foto Djarumbadminton
Lalu Jauza Fadhila Sugiarto (19 tahun) dan Yulfirah Barkah (20 tahun). Keduanya sudah tampil bersama di Kejuaraan Dunia junior 2016 di Spanyol dan berhasil meraih medali perunggu. Sempat dipisah, mereka kini kembali dimainkan bersama di Hyderabad Open 2018.

Satu lagi ada pasangan Febriana Dwipuji Kusuma/Ribka Sugiarto yang pada pertengahan Juli lalu berhasil menjadi juara Asia Junior 2018. November nanti, mereka akan tampil di Kejuaraan Dunia junior 2018 yang digelar di Kanada. Di Hyderabad Open, mereka terhenti di round 2 dari Yulfira/Jauza. Menariknya, Jauza pernah bermain dengan Ribka di Kejuaraan Dunia 2017 dan meraih medali perak. Juga medali perunggu di Kejuaraan Asian Junior 2017.

Berpotensi seperti Jepang yang mendominasi persaingan ganda putri dunia

Pendek kata, Indonesia kini kaya pilihan pemain di ganda putri. Indonesia punya prospek cerah di sektor ganda putri seiring bermunculannya ganda putri muda potensial. Tinggal bagaimana PBSI menempa kualitas dan mematangkan konsistensi mereka dengan sering menerjunkan mereka ke turnamen-turnamen.

Bukan tidak mungkin, dua atau tiga tahun mendatang, Indonesia bisa memiliki lebih banyak ganda putri yang masuk jajaran pemain elit dunia. Terlebih, Indonesia kini sudah memiliki Apriyani Rahayu (20 tahun) yang sudah matang bersama Greysia Polii. Plus pasangan Rizki Amelia (28 tahun)/Della Haris Pradipta (25 tahun).

Ganda putri muda Indonesia, semoga tidak layu sebelum berkembang/Foto: bolasport.com
Ganda putri muda Indonesia, semoga tidak layu sebelum berkembang/Foto: bolasport.com
Bukan tidak mungkin, dengan prospek yang ada sekarang, kelak Indonesia bisa mengikuti jejak Jepang yang kini mendominasi persaingan di ganda putri. Jepang kini memiliki empat atau lebih ganda putri kelas dunia. Ada Yuki Fukushima/Sayaka Hirota yang kini rangking 1 dunia, Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi yang juara Olimpiade 2016, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara yang merupakan juara dunia 2018. Serta Shiho Tanaka/Koheru Yonemoto, peraih perunggu Kejuaraan Dunia 2018

Siapa tahu, kelak Indonesia bisa memutus dominasi Jepang di sektor ganda putri. Sebab, rata-rata ganda putri Jepang kini berusia 26 tahun. Kecuali Mayu Matsumoto yang masih 23 tahun dan Wakana Nagahara yang mash 22 tahun. Terpenting, semoga ganda putri muda Indonesia tidak layu sebelum berkembang. Salam bulutangkis