Mohon tunggu...
Gustika Jusuf-Hatta
Gustika Jusuf-Hatta Mohon Tunggu...

22 tahun. Mahasiswi S1 jurusan Studi Perang di King's College London, Inggris. Tertarik pada isu gender dan peran wanita dalam perang, juga hukum perlindungan seni budaya dalam konflik bersenjata.

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Menjadi Duta Besar di Negara Kecil

31 Juli 2016   11:44 Diperbarui: 1 Agustus 2016   11:03 0 43 35 Mohon Tunggu...
Menjadi Duta Besar di Negara Kecil
Headline berita The Fiji Times tanggal 5 Mei 2016

Beberapa hari yang lalu terjadi perombakan dalam Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo yang menyingkirkan beberapa nama dari pemerintahan, termasuk nama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN RB), Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi yang akhirnya melontarkan pernyataan yang argumentatif. Katanya, setelah ini ia tidak menginginkan jabatan, melainkan ingin menjadi Duta Besar di negara kecil saja, agar bisa mengajar dan memiliki waktu untuk menulis. 

Terlahir dalam sebuah keluarga diplomat, sejak kecil saya sudah mengamati cara kerja dunia diplomasi yang berseluk-beluk. Pernyataan konyol yang datang dari seseorang yang harusnya terpelajar membuat saya merasa risih untuk tinggal diam. Bagi saya, pernyataan tersebut adalah sebuah penghinaan kepada institusi kita, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menjadi diplomat sama sekali bukan hal yang mudah, dan bukan pula sebuah pekerjaan yang isinya hanya bersantai. Mempertahankan kehormatan dan kehadiran Indonesia di luar negeri adalah hal yang membutuhkan strategi matang, perencanaan, dan visi yang kuat.

Yang tidak disadari oleh banyak orang adalah, mengemban tugas duta besar di negara kecil terkadang lebih berat dibanding mengemban tugas duta besar di negara besar. Di negara-negara besar dalam artian ‘negara maju’, rata-rata sistem kerja unilateral, bilateral, maupun multilateral negara tersebut biasanya sudah tertata dengan baik. Namun, di negara-negara kecil, sering kali sistem ini belum tertata, sehingga membuat pekerjaan duta besar kita menjadi lebih rumit. Memang, pendapat banyak orang adalah jika ditempatkan di negara kecil, tugasnya harusnya tidak banyak. Akan tetapi, asumsi tersebut sering kali sangat jauh dari kenyataan.

Kebetulan, saat ini ayah saya, Gary Rachman Makmun Jusuf, seorang diplomat karir, sedang menjalankan tugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Kepulauan Fiji, sebuah negara kecil berukuran 18.274 Km persegi di kawasan Pasifik yang hanya memiliki sekitar 900.000 penduduk. Sebelumnya, saya belum pernah merasa sebangga ini terhadap Ayah, walaupun dulunya beliau pernah menjalankan tugas di negara-negara yang notabene besar seperti Jepang, Korea Selatan dan Australia, dan juga menjalankan tugas multilateral di Perwakilan Tetap Republik Indonesia kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PTRI) di New York, Amerika Serikat. Bukan karena jabatannya, melainkan karena tanggung jawab yang ia pegang menurut saya sangat keren. Mengapa?

Dalam tugas ini, mau tidak mau, Ayah menjadi salah satu yang terdepan dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di kancah internasional. Bulan Juni lalu di Honiara, Kepulauan Solomon, Delegasi Republik Indonesia berperan dalam menggagalkan usaha dari United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) menjadi anggota penuh dari Melanesian Spearhead Group (MSG) dalam 20th Melanesian Separhead Group Leaders’ Summit.

Untuk memudahkan pengertian, MSG adalah “ASEAN-nya” kawasan Pasifik. Tanpa dukungan dari negara-negara sahabat seperti Fiji yang sebenarnya hanya berukuran kecil, kemungkinan kini Papua telah menjadi satu langkah lebih maju untuk berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Atas usaha para diplomat kita dalam Delri, yakni diantara lain Duta Besar Desra Percaya yang menjadi ketua Delri, dan juga Ayah, malah Indonesia berhasil menajadi associate member dari MSG, di mana Indonesia secara resmi mewakili Papua dan 4 provinsi berpenduduk Melanesia lainnya dalam aliansi tersebut. 

Walaupun secara geografis Indonesia terletak di benua Asia, sering kali orang Indonesia sendiri lupa bahwa negaranya terdiri dari begitu banyak suku, termasuk suku Melanesia. Maka dari itu menjadi anggota dari MSG adalah sebuah milestone yang sangatlah penting untuk memperjuangkan hak asasi dari setiap warga negara Indonesia secara merata. Jadi, ibaratnya, memiliki kantor perwakilan RI di negara kecil seperti Fiji, salah satu tugasnya adalah untuk menjaga “pagar belakang rumah” kita.

Dengan usaha Ayah pula, kini hadir 100 anggota Korps Zeni Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat di Fiji yang bertugas untuk membantu pembangunan pasca Topan Winston, angin topan berkecepatan 285 Km/jam yang dampaknya mencapai kerugian hingga US$ 1,4 triliun, termahal sepanjang sejarah. Indonesia memiliki empati yang besar apabila negara sahabat yang serumpun dan dekat dengan wilayah negara kita mengalami bencana nasional. 

Kehadiran Indonesia di Kepulauan Fiji disambut dengan sangat baik oleh penduduknya. Bahkan, dari beberapa negara yang menawarkan bantuannya, Indonesia satu-satunya yang diberikan kepercayaan membangun kembali Queen Victoria School, sebuah sekolah unggulan yang sejak dulu mencetak pemimpin-pemimpin Fiji. Selain dari pemerintah, upaya bantuan Indonesia sangat dihargai oleh penduduk Fiji, sehingga menjadi headline di beberapa media utama di Fiji, antara lain The Fiji Times dan Fiji Sun. Opini positif di satu negara kecil dapat mempengaruhi kehadiran Indonesia di seluruh kawasan.

Ayah bersama anggota Korps Zeni TNI AD, Juni 2016
Ayah bersama anggota Korps Zeni TNI AD, Juni 2016

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2