Mohon tunggu...
Gusblero Free
Gusblero Free Mohon Tunggu... Administrasi - Penulis Freelance

Ketika semua informasi tak beda Fiksi, hanya Kita menjadi Kisah Nyata

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Antara Aku, Cak Nun, dan Bekas Pacarnya

10 Mei 2019   21:14 Diperbarui: 10 Mei 2019   21:36 609
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Emha Ainun Nadjib, atau orang sering menyebutnya dengan Cak Nun, adalah salah satu guru saya. Guru bukan dalam konteks secara institusi resmi, tetapi guru sorogan.

Ia menjadi satu dari sekian guru-guru saya selain Mbah Leman di Parakan, Mbah Idris di Kembang Sari, Mbah Muh di Mbejaten, Mbah Syam di lereng Sindoro, Gus Huda, Gus Yusuf, dan banyak lagi nama yang saya sering njaluk suwuk (minta pencerahan) saat nalar mampet menghadapi persoalan.

Guru dalam arti untuk beberapa hal menjadi idiom ke-tariqah-an saya. Sementara untuk hal-hal yang bersifat privat tentu sangat tak wajar kita memaksa terlibat atau sok-sokan menjadi bagian di dalamnya.

Dengan begitu posisi ini tidak menempatkan kami (baca: saya) secara linier dalam kedudukan serta kewajiban yang rumit. Guru-guru menyampaikan apa saja dan apakah kita akan menggunakannya atau tidak itu pilihan kita sendiri. Inilah bedanya memahami sosok guru sebagai pimpinan dari sebuah kepentingan dan guru sebagai sosok guru pribadi.

Anda bisa memilih Karl Marx, Sun Tzu, Mahatma Gandhi, Khalil Gibran, Abah Guru Sekumpul, Gus Dur, Soekarno, dan nama-nama lainnya lagi yang sekira Anda pikir bisa memberikan inspirasi secara pribadi. Di titik lain Anda merdeka untuk memilah dan memilih keputusan yang terbaik bagi diri sendiri.

Guru Anda adalah tesis bagi kehidupan Anda saat ini, dan ia menjadi sintesa yang sangat mustahil Anda hindari antitesisnya dalam kehidupan senyatanya. Oleh karena itu menjadi penting juga untuk memahami hal-hal yang sifatnya pribadi, serta sisi-sisi lain dalam hubungannya keilmuan.

Beberapa hari lalu cukup banyak orang membicarakan Cak Nun. Beberapa orang juga sempat bertanya kepada saya terkait statemennya yang merasa terhina jika harus ke istana negara. Lalu saya harus menjawab apa?

Ia adalah guru saya, itu satu hal pasti. Namun terkait hal yang bersifat pribadi, ilmumu sepiro sok-sokan sok tahu dan gegabah serta jumawa nimbrung di dalamnya?

Cak Nun, untuk beberapa hal, pernah ada dan tinggal di istana negara. Ia juga dikenal dekat dengan beberapa petinggi bahkan Presiden di negeri ini. Lalu argumentasi apa yang saya punya untuk bisa menjawab pertanyaan seputar Cak Nun.

Saya yang orang gunung. Saya yang kalau ke Jakarta paling kliteran di sekitar Monas dan pasar Tenabang. Lihat foto istana negara paling juga di google. Modar sendiri kalau saya harus menjelaskan akar sebab Cak Nun merasa terhina jika harus ke istana negara (saat ini).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun