Mohon tunggu...
Guido Arisso
Guido Arisso Mohon Tunggu... Insinyur - brotherho͝od

penikmat kopce

Selanjutnya

Tutup

Halo Lokal Artikel Utama

Menyiasati Ancaman Kekeringan agar Tidak Jadi Penyakit Menahun

3 September 2021   16:27 Diperbarui: 4 September 2021   15:51 549 34 16
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Menyiasati Ancaman Kekeringan agar Tidak Jadi Penyakit Menahun
Ilustrasi melakukan mitigasi sebelum terjadi kekeringan. (sumber: Thinkstockphotos via kompas.com)

Ditilik dari ilmu geografi, September itu digolongkan sebagai bulan kering atau puncak daripada musim kemarau panjang. Ditandai juga dengan curah hujan menurun dan cuaca terasa panas sepanjang hari.

Meski secara teori mengatakan demikian, tapi pada kenyataannya di beberapa tempat di tanah air, semisal di NTB dan NTT, musim kemaraunya terasa lebih lama lagi. Yakni, dari April hingga Oktober.

Cuaca di bulan September itu memang tidak akan banyak membantu para petani khususnya karena pada saat itu tidak ada tanaman yang bisa ditanam. Kalaupun masih ngotot menanam, ya, maka risiko gagal panen itu sangat tinggi.

Terkecuali bila tanaman yang hendak ditanam itu tidak membutuhkan banyak air dan/atau lokasi lahan bercocok tanam itu berada dekat dengan sumber mata air misalnya.

Lebih lanjut, berbeda dengan reksa wilayah lain di Indonesia, provinsi NTT adalah daerah yang paling rawan kemarau. Setidaknya, dalam artikelnya yang ditulis kemarin di sini (klik untuk baca), kompasianer Roman Rendusara sudah memberikan gambaran kasar kepada kita tentang ekologi pertanahan di Pulau Flores setiba musim kemarau.

Kalau boleh dibilang musim kemarau di NTT itu menyentuh level setan. Pokoknya sadis.

Liuk perbukitan dan lembah yang semulanya hijau asri sesaat bulan basah (musim penghujan) akan berubah menjadi kecoklatan tatkala memasuki kemarau panjang.

Tak hanya itu, debit air sungai yang sebelumnya mengalir deras ke permukiman warga seketika menurun. Demikian halnya dengan saluran irigasi persawahan yang mendadak kering.

Maka tak ayal, selama musim kemarau itu pula, nyaring terdengar suara-suara minor para petani. Ya, ihwal ancaman kelaparan sudah ada di depan mata.

Jadi, sebagai upaya menyiasati musim kemarau panjang itu, para petani di NTT mempunyai perhitungan matematis tersendiri menyoal pranata mangsa pertanian padi, palawija dan hortikultura.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Konten Halo Lokal Selengkapnya
Lihat Halo Lokal Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan