Mohon tunggu...
Roman Rendusara
Roman Rendusara Mohon Tunggu... Petani - Memaknai yang Tercecer

Roman Rendusara adalah nama pena. Lahir di Kekandere, Kec.Nangapanda, Ende-Flores, NTT. Pernah menghidu aroma filsafat. Lalu, jatuh hati pada ilmu ekonomi dengan segala kearifannya di Universitas Krisnadwipayana-Jakarta. Menganggit kisah-kisah tercecer di media lokal dan narablog di floreside.wordpress.com. WA 081246874***

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Musim Kemarau, Musim Membakar Padang di NTT

2 September 2021   19:50 Diperbarui: 3 September 2021   16:30 609 55 10
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Musim Kemarau, Musim Membakar Padang di NTT
Kebakaran padang savana di Nagekeo, NTT. Foto: Ignas Kunda/Instagram

Sebagian besar wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah padang savana. Ekosistem khas wilayah bercurah hujan rendah ini mayoritas di Pulau Timor dan Pulau Sumba (Sumba Timur). 

Di Pulau Flores padang savana terbentang luas di wilayah Kabupaten Nagekeo, sebelah Utara Ngada, dan wilayah Utara Ende.

Ekosistem padang savana didominasi oleh rumput, semak, alang-alang, dan pepohonan yang berjarak-jarak. Di padang savana wilayah Nagekeo, misalnya, masih ditemukan pohon palem dan akasia. 

Hewan ternak seperti sapi, kambing, dan domba memanfaatkan rerumputan padang savana yang hijau ketika musim hujan.

Di NTT, musim kemarau adalah saat yang tepat untuk membakar padang savana. Rumput-rumput dan semak yang menguning, memudahkan api dengan cepat membakarnya. 

Alang-alang mudah terbakar. Ditambah tiupan angin yang kencang, api semakin merambat. Hingga seluruh padang kering hangus dilalap api.

Kondisi padang setelah dibakar. Foto: Ignas Kunda/Instagram
Kondisi padang setelah dibakar. Foto: Ignas Kunda/Instagram

Perilaku masyarakat membakar padang savana ini tidak dilarang. Semacam dibiarkan. Sebab para peternak beralasan, supaya ketika musim hujan tiba rumput-rumput dapat tumbuh segar dan hijau. 

Ternak sapi, kambing, dan domba dapat memperoleh kembali pasokan makanan. Beginilah seterusnya dan berulang setiap musim kemarau tiba.

Menurut Shawn, dalam Riwu Kaho (1994) menyatakan, melalui pembakaran dapat menyebabkan rangsangan untuk mencapai tingkat perkecambahan yang lebih tinggi pada tanaman themeda triandra. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...
Lihat Lingkungan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan