Mohon tunggu...
Guido Arisso
Guido Arisso Mohon Tunggu... Insinyur - penikmat ko͝pce

Labuan Bajo, Flores

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama FEATURED

Waisak dan Ajaran Buddha Gautama yang Menyejukkan

6 Mei 2020   19:23 Diperbarui: 16 Mei 2022   06:51 1109 54 18
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi (Envanto Elements)

Pada tahun ini penyelenggaraan Hari Raya Trisuci Waisak 2564 BE, jatuh pada tanggal 7 Mei 2020. Hari Raya Trisuci Waisak adalah hari raya umat Buddha untuk memperingati hari lahir, pencapaian kesadaran dan Moksya Sang Buddha.

Ada pun tema yang diangkat dalam perayaan Hari Raya Trisuci Waisak tahun ini adalah "Persaudaraan Sejati Dasar Keutuhan Bangsa".

Bila menyelisik tema Hari Raya Waisak tahun ini, rasanya sangat penting untuk kita refleksikan bersama di tengah banyaknya ancaman dan usaha memecah belah persatuan sesama anak bangsa.

Persaudaraan dan persatuan merupakan interpretasi ajaran-ajaran Sang Buddha yang holistik dan menjadi modal semangat dalam perayaan Trisuci Waisak.

Menurut hemat saya, nilai-nilai Buddhisme ini juga tercermin pada Sila ke-3 Pancasila, Persatuan Indonesia, yang dilambangkan pula dengan pohon beringin.

Karena itu faham persatuan Indonesia tidaklah sempit tetapi mengandung arti menghargai bangsa Indonesia dengan sifat dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Bangsa kita telah berhasil mengatasi faham golongan suku bangsa dalam upaya membina tumbuh kembangnya persatuan dan kesatuan dalam bingkai persaudaraan yang tak terpecah-pecah.

Ajaran Buddha Gautama yang Menyejukkan

Kebetulan saya dulu pernah diajak oleh teman-teman yang kuliah di Yogyakarta untuk pergi jalan-jalan ke Candi Borobudur dan Candi Prambanan.

Bila disimak secara seksama, relief-relief yang terpahat di dinding Candi Borobudur dan Candi Prambanan melukiskan makna pohon dalam kehidupan kita.

Lukisan-lukisan itu amatlah seni, sakral dan romantik. Cinta, kedamaian dan persaudaraan dilukiskan dengan menanam pohon beserta segala aktivitas kehidupan manusia di bawahnya. Sementara kebencian dan anarki dilukiskan dengan menebang pohon.

Lebih lanjut, dari penjelasan seorang senior, pohon yang terdapat pada lukisan relief itu adalah pembentukan ruang paling dasar (akar dan tanah= lantai, batang= tiang, ranting dan daun= atap), yang menciptakan keteduhan agar manusia dapat melakukan aktivitas di bawahnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan