Mohon tunggu...
Gregorius Nafanu
Gregorius Nafanu Mohon Tunggu... Petani - Pegiat ComDev, Petani, Peternak Level Kampung

Dari petani, kembali menjadi petani. Hampir separuh hidupnya, dihabiskan dalam kegiatan Community Development: bertani dan beternak, plus kegiatan peningkatan kapasitas hidup komunitas lainnya. Hidup bersama komunitas akar rumput itu sangat menyenangkan bagiku.

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Potret Kebun Kopi Petani Bukit Jambi Way Kanan

28 Februari 2022   12:18 Diperbarui: 1 Maret 2022   08:50 3168
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tanaman kopi Petani Bukit Jambi tidak dipangkas dan tidak dirawat. Dokumentasi pribadi

Tanaman kopi Petani Bukit Jambi tidak dipangkas dan tidak dirawat. Dokumentasi pribadi
Tanaman kopi Petani Bukit Jambi tidak dipangkas dan tidak dirawat. Dokumentasi pribadi
Tanaman penaung kopi juga cukup beragam. Selain pohon karet, kopi yang tidak ditanam di sela-sela karet mempunyai tanaman penaung yang lebih variatif. Tanaman penaung dominan diantaranya jengkol, pete, pisang, dan durian. Beberapa petani menanam pohon tanaman keras lain seperti sengon atau jati putih. 

Penanaman pohon penaung, juga dilakukan secara asalan. Sering kali, tanaman yang tumbuh di kebun, dibiarkan saja hingga berproduksi, sekalipun tumbuhnya dekat sekali dengan tanaman kopi. Akibatnya, selain terjadi kompetisi dalam unsur hara, pohon-pohon inang ini pun menjadi sarang hama tanaman kopi.

Panen Rampok

Cara panen dilakukan tanpa seleksi. Ketika sebagian buah kopi sudah tua (berwarna hijau kuning atau merah), maka saatnya petani panen. Semua buah, termasuk bunga akan dipanen dengan sistem rampok. 

Tak ada yang disisakan dalam satu tangkai. Dengan cara ini, kualitas kopi menjadi rendah karena yang matang sempurna tercampur dengan yang muda.

Panen campur juga merusak bunga kopi karena semua dipetik dengan sekali tarik. Padahal, sebenarnya bunga-bunga ini masih akan berkembang menjadi buah, dipanen menyusul. 

Pendampingan terhadap petani Bukit Jambi langsung dilakukan di kebun. Dokumentasi pribadi
Pendampingan terhadap petani Bukit Jambi langsung dilakukan di kebun. Dokumentasi pribadi
Kendala Pemasaran Kopi

Pemasaran adalah salah satu kendala utama yang dihadapi oleh petani di Way Kanan, khususnya di Bukit Jambi. Dengan kondisi buah yang tercampur, kisaran harga biji kopi yang telah dibersihkan kulitnya antara Rp 18.000 hingga Rp 20.000. Hampir semua petani menjual hasil panennya pada pedagang pengumpul tingkat dusun atau kampung. 

Seberapa pun hasil panennya, akan dijual semuanya oleh petani kepada pedagang pengumpul. Padahal jika ditahan sebagian, maka harga akan menaik beberapa bulan kemudian. 

Petani jarang menjual hasil panennya secara terjadwal ke pedagang di level kabupaten atau provinsi. Juga jarang dijual kepada pengecer seperti pemilik kedai kopi yang lumayan banyak berada di Way Kanan. 

Kendala pemasaran, juga membuat petani untuk tidak melakukan panen selektif. Sebab tidak ada perbedaan harga antara panen selektif dan panen rampok. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun