Yakob Godlif Malatuny
Yakob Godlif Malatuny

DUNIA PENDIDIKAN AKAN TAMAT, JIKA ORANG YANG MEMBACA BERHENTI MENULIS DAN ORANG YANG MENULIS BERHENTI MEMBACA.***

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tidak Seharusnya Anak yang Nakal Diberi Label Negatif

14 Februari 2018   14:28 Diperbarui: 18 Agustus 2018   19:07 470 0 0
Tidak Seharusnya Anak yang Nakal Diberi Label Negatif
Ilustrasi: www.pasanganbahagia.com

PENDIDIKAN sebagai jembatan emas menuju perikehidupan bangsa yang bermartabat kerap kali berubah menjadi jalan terjal yang mengerikan. Jalan terjal dimaksud ialah labeling (penjulukan) yang bernada negatif diantara generasi bangsa. Mereka saling menyerang dan bertahan menggunakan berondongan pelor labeling yang bernada negatif.

Di satu sisi labeling bernada negatif bisa menjadi virus yang mematikan nurani anak bangsa, namun di sisi lain labeling bernada positif bisa menjadi panacea (obat mujarab) untuk menyembuhkan nurani yang sakit. Sangat bijak, jika sesama generasi bangsa saling memberi label yang positif agar nurani mereka tak mati bahkan tak tersekat oleh kepedihan yang dalam.

Mengutip tulisan Karim Suryadi (2016) pada Pikiran Rakyat tentang Jack Sparrow, yang cerita utuhnya telah diangkat ke dalam tiga judul film layar lebar "Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl" (2003), "Dead Man's Chest" (2006), dan "At World's End" (2007), terasa amat aktual karena betapa dahsyatnya penjulukan dalam membentuk karakter seseorang. Jack Sparrow menjadi bajak laut karena Cutler Beckett sebagai bossnya menghukum Jack dengan menjulukinya sebagai bajak laut.

Salah satu teori yang bisa menjelaskan betapa efektifnya penjulukan dalam membentuk karakter seseorang adalah self fulfilling prophecy, atau karakter yang dipenuhinya sendiri. Seseorang akan bertindak menurut karakter yang dilekatkan, atau sifat yang dituduhkan, kepadanya. Bahkan tindakan menolak tuduhan yang tidak disukainya dapat mengukuhkan tuduhan dimaksud.

Lebih lanjut, bila merujuk pada teori labeling yang dipelopori Edwin McCarthy Lemert bahwa, seseorang menjadi penyimpang karena proses labeling (pemberian julukan, cap, etiket, merek) yang diberikan masyarakat kepadanya. Dengan kata lain, label yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut. Lebih dari itu, memberikan label pada diri seseorang membuat kita cenderung melihat perilakunya secara keseluruhan bukan satu per satu.

Riset oleh Ahmadi dan Aini (2015) yang dipublikasikan dalam jurnal mediator, menegaskan secara sederhana penerapan teori labeling seperti, orang berperilaku normal atau tidak normal, menyimpang atau tidak menyimpang, tergantung pada bagaimana orang lain menilainya. Penilaian itu ditentukan oleh kategorisasi yang sudah melekat pada pemikiran orang lain. Segala sesuatu yang dianggap tidak termasuk ke dalam kategori-kategori yang sudah dianggap baku oleh masyarakat (dinamakan re-sidual), otomatis akan dikatakan menyimpang (seorang devians).

Penerapan teori labeling yang bernada negatif dalam konteks pendidikan kurang lebih seperti berikut "anak yang diberi label nakal, dan diperlakukan seperti anak nakal, akan menjadi nakal". Atau penerapan lain "anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh". Sebaliknya, label bernada positif "anak yang diberi label baik, dan diperlakukan seperti anak baik, akan menjadi baik". Selanjutnya "anak yang diberi label pintar, dan diperlakukan seperti anak pintar, akan menjadi pintar".

Setiap generasi bangsa yang mengenyam pendidikan pada bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi tak pernah luput dari label positif maupun negatif. Dan sangat disayangkan jika label negatif terus berlaku bagi generasi bangsa hingga bisa "membuat hidup mereka akan seperti sebidang penjara sempit" seperti yang utarakan Kahlil Gibran dalam buku Sayap-Sayap Patah.

Pikiran-pikiran pahit yang menjelma menjadi label negatif mesti dihilangkan melalui beberapa langkah bijak. Kesatu, sebagai generasi terdidik mesti memikirkan segala hal yang baik-baik yang kemudian menjelma menjadi pemberian label yang baik-baik, seperti anak cerdas, anak rajin, anak saleh, anak sopan, anak baik, dan sebagainya.

Kedua, seluruh pendidik secara terus menerus memberi label yang positif pada setiap generasi bangsa demi menghilangkan pikiran dan perilaku yang negatif. Ketiga, baik pendidik maupun sesama anak didik tak boleh terlalu cepat menilai orang lain yang sudah berbuat salah dan memberi label negatif padanya, karena bisa jadi pendidik maupun anak didik salah menilai dan label negatif yang diberikan pada orang lain membuatnya menjadi lebih buruk.

Ingatlah bahwa label negatif menyakitkan hati layaknya kematian, sehingga kata-kata yang keluar dari bibir kita diharapkan agar akrab dengan label positif. Semoga kita selalu mengutamakan pikiran positif dan mengesampingkan pikiran negatif, memberi label positif pada setiap generasi bangsa dan mengesampingkan label negatif agar kita semua bisa menjadi orang-orang baik seperti hal-hal baik yang kita harapan, semoga.***