Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Pro dan Kontra "Digital Panopticism"

7 Desember 2018   17:19 Diperbarui: 8 Desember 2018   06:52 2137 17 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Pro dan Kontra "Digital Panopticism"
Ilustrasi (Pixabay)

Two ways of exercising power over men, of controlling their relations, of separating out their dangerous mixtures. The plague-stricken town, traversed throughout with hierarchy, surveillance, observation, writing; the town immobilized by the functioning of an extensive power that bears in a distinct way over all individual bodies --- this is the utopia of the perfectly governed city. Discipline and Punish - Panopticism, 1975 -Michel Foucault 

Setiap hari, 300 juta foto diunggah di Facebook. Di Twitter, 400 ribu lebih tweet dibuat setiap menit. Instagram memfasilitasi 46.740 foto diunggah per menit. Dengan rerata perhari  mencapai 90 juta lebih foto. Sedang secara global, ada 5 miliar pencarian via Google .

Apa maksud data diatas? Ternyata kita begitu mudah dan belaka mengunggah semua tentang kita ke dunia digital. Entah itu berupa posting, foto bahkan video. Limpahan data tentang tiap users kini mencapai 2,5 quintillion bytes data. Angka ini setara 2,5 juta hardisk berkapasitas 1 terabyte.

Dampak secara ekonomis tentu big data ini menjadi target pengiklan. Sedang secara akademis, limpahan data ini tentu bisa dikembangkan menjadi network Internet of Things. 

Dimana semua perangkat fisik maupun digital terkait satu sama lain. Dan harus kita terima, data diri kita menjadi 'bahan bakar' infrastuktur digital ini.

Panopticism Digital di Tiongkok

Saat Foucault menggagas Panopticism di tahun 70-an, kamera pengawas menjadi mata negara di kehidupan kita. Namun kini implementasinya bukan saja menguping suara telpon atau mengawasi dengan CCTV semata. 

Era digital telah mendatangkan inovasi pengawasan (surveillance) ke arah yang lebih canggih. Mulai dari menggunakan face recognition kamera sampai pemolaan suara berdasar etnis dan logat dioperasikan di Tiongkok.

Model pengawasan pemerintah kepada warganya di Tiongkok menimbulkan pro dan kontra. Data personal digital mulai dari nama asli, email, nomor telpon, sampai lokasi tempat tinggal belum cukup untuk memonitor kita. Maka muncul istilah Multi-Modal Biometric (MMB) yang dicetuskan Liu Qinfeng sejak tahun 2012

MMB pertama kali dicetuskan oleh perusahaan teknologi asal Tiongkok, iFlytek. Perusahaan ini mengumpulkan sample suara guna menciptakan pola suara. Difasilitasi pemerintah, sample besar iFlytek dilakukan di propinsi Anhui. Di Anhui, iFlytek mengumpulkan 70,000 sample pola suara penduduk. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN